headerphoto
.: UPDATE INFORMASI PENDAFTARAN MAHASISWA BARU TAHUN 2010 bisa di KLIK DISINI, Segera daftarkan diri anda.....! Hubungi SMS CENTER 0856-7144402 - CALL CENTER 021-70322423 :.

Awas, China Menyerbu, Indonesia Kalang Kabut

Rabu, 6 Januari 2010 15:28:06 - oleh : admin

Free TradeOleh : Ust. Sofyan Rizal, M.Si.

Dosen STID DI AL-HIKMAH

 

Awal tahun ini, Indonesia siap-siap menghadapi serbuan china.  Tentu saja, dizaman modern ini, serbuan terhadap negara berdaulat bukanlah serbuan militer, atau jago-jago kungfu macam Fong Sai Yuk yang datang ke sini, atau biksu shaolin yang ingin menantang pencak silat Indonesia. Serbuan yang akan kita hadapi, adalah serbuan produk China, yang akan segera membanjir bagai air bah setelah berlakunya ACFTA (Asean China Free Trade Agrement).

 

Serbuan ini, tak kalah hebat dengan serbuan militer, tak kalah berbahayanya daripada tendangan seribu bayangan Jetlee, karena dampaknya bisa jadi juga buruk terutama pada Industri dalam negeri kita.

 

Saat ini saja, kita sudah kewalahan menghadapi serbuan para tetangga Asean kita. Defisit perdagangan kita terhadap Asean sudah mencapai $2 Miliar lebih. Sedangkan terhadap China, kita lebih parah lagi. Defisit perdagangan kita mencapai $ 4.3 M. Begitu produk China masuk menyerbu, tanpa ada hambatan pajak, dll, maka dipastikan beberapa sektor industri kita terancam, antara lain tekstile, makanan, peternakan, baja, alat pertanian, sepatu dll. Industri tekstil sudah menjerit minta tolong, karena dari 1.114 industri menengah dan 2000-an Industri tekstil kecil, sudah 200 lebih yang gulung tikar karena tak mampu bersaing.

 

Beberapa pakar ekonomi memperkirakan, jika industri sudah tidak mampu bersaing, maka pengusaha akan menyesuaikan diri, dengan menjadi pedagang, bukan lagi pelaku industri. Dan ini, sangat berbahaya, terutama bagi sektor ketenagakerjaan. Industri adalah usaha yang menyerap sangat banyak tenaga kerja. Jika industri ambruk, maka bertambah besarlah rombongan pengangguran yang saat ini sudah mencapai jumlah puluhan juta orang.

 

Industri juga menjadi tulang punggung majunya suatu negara. Porter, dalam The competitive advantage of nation, mengatakan bahwa kemakmuran negara bukanlah warisan karena negara itu kaya sumber daya alam, melainkan karena industri yang inovatif dan kompetitif.

 

Jurus China memang jurus pamungkas dalam competitive advantage, bak jurus win chun Fong Sai Yuk,  dalam mengalahkan lawannya. Jurus mereka adalah price (harga-red). Produk mereka jauh lebih murah masalah kualitas, urusan belakangan. Yang penting harga murah, produk beragam, buatan impor pula. Strategi ini ternyata sangat efektif dalam bersaing. Diseluruh dunia, produk mereka diterima. Bahkan ada pameo di barat sana dalam menghadapi produk China "cut your price 30 % up, or cut your neck".

 

Lalu, bagaimana kita menghadapi serbuan mereka. Menurut ketua KADIN, sebenarnya produk Indonesia bisa bersaing dengan produk China, asal saja memiliki harga yang murah. Dari segi kualitas, produk kita bisa menyamai, bahkan melebihi produk China. Cuma, bagaimana agar produk kita bisa lebih murah inilah yang menjadi masalah. Produk China, dalam economic scale memang jauh melebihi produk kita, sehingga lebih murah. Sebagai contoh  bagi Anda orang tua yang sayang anak dan suka membelikan anak mainan, pasti tahu bahwa mainan anak dari China saat ini mendominasi. Bukan hanya di Indoinesia, mereka menguasai lebih dari 70% pangsa pasar mainan dunia. Tentu saja, semakin banyak produksi, maka semakin murah ongkos produksi dan semakin mungkin harga barang ditekan. Belum lagi tingkat bunga yang rendah yang diberikan oleh pemerintah mereka terhadap pelaku industri, infrastruktur yang baik, seperti listrik dll, pemangkasan birokrasi, juga pemberantasan pungli.

 

Pasar domestik mereka juga luar biasa besarnya. Tenaga kerja mereka juga murah. Sedangkan di Indonesia, keadaannya tidak sebaik mereka. Persoalan infrastruktur saja, kita masih keteteran. Listrik yang hidup mati, jalan yang rusak dll. Belum lagi bunga bank yang tinggi sehingga jika dihitung menjadi ongkos produksi, akan membebani. Ada lagi pungli dan birokrasi kita tergolong masalah yang akut. Pungli dan birokrasi yang berbelit menjadi penyebab high cost economic. Kesemuanya itu menyebabkan ongkos produksi kita menjadi tinggi, dan pada akhirnyqa membuat produk kita tidak bisa bersaing.

 

Masalah mental, terutama para pembuat kebijakan, juga turut berperan. Sampai saat ini, pemerintah bahkan belum menganggap serbuan China menjadi ancaman. Ekonomi masih baik, pertumbuhan masih akan tetap tinggi, apalagi BEI dan IHSG terus menunjukkan kinerja yang istimewa. Jadi, ya...tenag-tenang saja bah..... walaupun banyak pelaku industri sudah menjerit.

 

Mungkin, ...(ini mungkin lho...), seberapa buruknya kondisi akibat serbuan China, toh tidak akan berimbas kepada mereka. Gaji sudah naik tinggi, mobil mewah dan baru sudah ditangan. Kalau Industri ambruk, toh gaji yang sudah naik, tak mungkin turun lagi khan...........

 

Jadi, mau pakai jurus apa kita menghadapi China ?????

 

 

kirim ke teman | versi cetak | versi pdf

Artikel "Resonansi" Lainnya