Beranda Dakwah Bekal dakwah Inshaf (objektif) Dalam Berbeda Pendapat

Inshaf (objektif) Dalam Berbeda Pendapat

22
0

alhikmah.ac.id – Ciri Ahlus Sunnah  Wal Jamaah adalah inshaf, adil dan pertengahan dalam bersikap. Salah satu contohnya adalah persoalan qunut di kalangan ulama terjadi perbedaan pendapat mengenai hukumnya. Imam Syafi’i dan Imam Malik berpendapat sunnah. Sedang Imam Hanafi dan Imam Ahmad berpendapat sebaliknya.

Adanya perbedaan tersebut, yang menarik adalah sikap Imam Sufyan Ats Tsauri yang berkata bahwa  berqunut pada shalat Subuh itu  bagus, dan jika tidak berqunut itu juga bagus.” (Lihat Sunan At Tirmidzi, keterangan hadits No. 401).

Begitulah cara ulama salaf menyikapi perbedaan pendapat. Ini berbeda dengan sikap sebagian orang-orang sekarang dalam menyikapi hal yang sama.

Sebagai contoh dalam sebuah majalah yang membahas masalah ini dimana si penulis menulis, ”Alhamdulillah, shalat di belakang imam yang sesuai dengan sunnah adalah lebih baik, walau harus berjalan cukup jauh dari rumah kita. Akan tetapi mungkin di beberapa tempat atau daerah hal seperti itu sulit untuk mendapatkannya, sehingga terpaksa shalat berjama’ah di belakang imam yang terus menerus melakukan qunut shubuh.  [Majalah As-Sunnah 01/Th VI/1423H/hal.4-5].

Dari tulisan ini seakan penulis mengatakan bahwa shalat Subuh yang tidak pakai qunut sesuai dengan sunnah dan yang pakai qunut tidak sesuai dengan sunnah.  Apalagi penulis kemudian mengambil pendapat Imam Hanafi agar makmum tidak ikut qunut di belakang imam qunut dengan manambahi bahwa hal tersebut tidak disyariatkan dalam Islam.  Padahal Imam Hanafi hanya berpendapat bahwa qunut Subuh itu adalah hukum mansukh (yang telah dihapuskan).

Dari sini bisa kita lihat bahwa penulis ini bersikap tidak adil. Bandingkan dengan perkataan Imam Sofyan ats-Tsauri yang ilmunya jauh lebih tinggi namun bisa bersikap adil.

Memang untuk bersikap adil dibutuhkan kedalaman dan keluasan ilmu. Hanya orang yang berilmu tinggi dan hatinya bersih yang bisa bersikap seperti Imam Sofyan ats Tsauri.

Karenanya, Imam Suyuti sejak awal mewanti-wanti  agar umat Islam tidak terlalu fanatik terhadap mazhabnya yang bisa menyebabkan terjadinya konflik di tengah-tengah masyarakat.  Ia berkata,”Aneh, ada orang yang mengagung-agungkan sebagian mazhab melebihi yang lain. Pengagungan ini yang menyebabkan berkurang dan jatuhnya martabat mazhab yang dikalahkan, bahkan kadangkala menyebabkan konflik di tengah orang awam. Lahirlah kemudian fanatisme dan sentimen Jahiliah. Seharusnya, para ulama bersih dari perkara-perkara tersebut. Karena, perbedaan furu’iyah tersebut benar-benar telah terjadi pada zaman Sahabat, padahal mereka adalah umat terbaik. Namun, tak satu pun di antara mereka ada yang menyerang atau memusuhi yang lain, juga menyatakan yang lain salah dan pendek akalnya. (As-Suyuthi, dalam Jazil al-Mawahib fi Ikhtilaf al-Madzahib, hlm. 21-23)

Belajar Inshaf dari Imam Ahmad

Meski Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut Subuh itu bid’ah. Namun beliau tidak pernah mengatakan bahwa amalan tersebut tidak disyariatkan dalam Islam. Terbukti jika shalat di belakang imam yang

BERBAGI
Artikel sebelumyaBentuk Fisik Imam Mahdi