Beranda Dakwah Bekal dakwah Klarifikasi, Tabayyun

Klarifikasi, Tabayyun

117
0

alhikmah.ac.id- Apa yang terjadi dewasa ini di era digital cukup memprihatinkan. Kecanggihan teknologi-informasi seringkali menjadi faktor perpecahan di kalangan internal umat Islam bahkan bangsa. Perbadaan-perbedaan pemahaman furu’iyah (bersifat ijtihad), kelompok bahkan haluan politik bisa turut memperparah kondisi ini.

Dengan modal potongan video yang di-framing sesuai kehendak pribadi misalnya, orang yang tak sama pemahamannya dengan mudah memviralkannya di media sosial sehingga bisa menimbulkan kegaduhan publik.

Begitu cepatnya berita yang belum jelas sumbernya beredar dengan viral saat ini, adalah bukti konkret ketika kecanggihan teknologi-informasi tak diiringi dengan spirit tabayyun (klarifikasi) maka akan berujung fitnah dan adu domba.

Padahal, sudah sangat jelas perintah tabayyun dalam surah Al-Hujurat [49] ayat 6. Nabi pun juga pernah mengingatkan dalam riwayat Baihaqi bahwa:

التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

“Kehati-hatian adalah dari Allah dan tergesah-gesah adalah dari setan.”

Salah satu pengertian “ta`anni” dalam hadits ini adalah membiasakan diri untuk klarifikas, terdapat tiga kiatagar selamat dari berita hoaks

pertama; Ketika Ma’iz bin Malik datang menghadap nabi untuk disucikan karena telah berzina, Nabi tak menerimanya mentah-mentah. Belia menyuruhnya kembali dan beristighfar sekaligus bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Rupanya, Ma’iz tidak tenang dan kembali sampai berkali-kali. Jawaban Rasulullah pun sama. Untuk yang keempat kalinya baru beliau bertanya, “Kamu mau aku sucikan dari apa?” Maiz ingin disucikan dari perbuatan zina. Dengan sangat hati-hati Rasulullah mengklarifikasi apakah dia gila atau sedang minum khamr (Miras). Baru kemudian setelah jelas perkaranya, kemudian ditetapkan hukuman.

Menariknya, Rasulullah Shallallahu ‘alaih wasallam ketika mendapat kabar langsung dari Maiz tidak tergesah-gesah dalam mengambil keputusan. Spirit tabayyun dan klarifikasi didahulukan oleh beliau.

Bahkan spirit tabayyun juga bisa dipelajari dari kisah Nabi Sulaiman dan burung hud-hud. Ketika burung ini membawa kabar dari Saba`, anak Nabi Daud ini tak langsung menerima mentah-mentah tapi berkata:

سَنَنظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

“Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” (QS. An-Naml [27]: 27)

Kedua; Kepada hewan sekalipun beliau SAW. menanamkan spirit klarifikasi, apalagi kepada manusia. Tidak mengherankan jika kecanggihan teknologi di masa beliau tetap menebar manfaat karena spirit tabayyun begitu ditegakkan.

Dari para generasi salaf juga bisa belajar spirit tabayyun. Suatu saat Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu mendapat laporan wanita yang berbuat zina. Beliaupun memerintahkan untuk merajamnya. Di tengah perjalanan, petugas rajam bertemu dengan Ali. Ali bertanya mengenainya kemudian melepaskan tangan wanita itu dari mereka. Dilaporkanlah peristiwa itu kepada Umar. Dan beliau berkeyakinan bahwa tidak mungkin Ali melakukan itu tanpa alasan. Ternyata, setelah diklarifikasi wanita ini gila dan kemungkinan ada yang memperkosanya. Akhirnya, keputusan pun dicabut. (HR. Ahmad)

Suatu ketika Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah didatangi seseorang yang melaporkan suatu (keburukan) seseorang. Umar tak langsung menerimanya tapi berkomentar, “Kami akan menunggu terlebih dahulu perkaramu, jika kamu berdusta maka kamu masuk pada ayat “jika datang kepadamu orang fasik dengan suatu berita maka tabayunlah” (QS. Al-Hujurat [49]: 6) dan jika kamu benar, maka kamu masuk dalam ayat “yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,” (QS. Al-Qalam [69]: 11). Jika kamu mau, maka kami akan memaafkanmu.” Orang itupun meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. (Adz-Dzammar, Tashfiyah al-Quluub min Adraan al-Auzaar, 107)

Ada kisah lain yang perlu diangkat terkait spirit tabayyun. Suatu hari, Al-Mawarzi berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal terkait Humaid Al-Khazzaz, “Aku bertanya tentangnya kepada Yahya, ia mengomentarinya dengan sangat pedas. Bahwa dia mencuri kitab Yahya bin Adam dari Ubaid bi Ya’isy kemudian mengakuinya (sebagai karangannya). Akupun bertanya kepada Abu Zakariya, “Apakah anda mendengar langsung Ubaid bin Ya’isy mengatakan ini?” “Tidak!” jawabnya. Tapi sebagian sahabat kami yang memberitahukannya kepadaku dan tak memiliki alasan selain ini.” Imam Ahmad pun marah sembari berkomentar, “Subhaallah apakah bisa diterima hal seperti ini tentangnya? Orang seperti ini bisa jatuh (nilanya).” (Daruquthni, al-Ru`yah, 200, 201)

Spirit tabayyun yang digelorakan al-Qur`an, as-Sunnah dan kisah-kisah para salaf begitu mendesak bahkan darurat dilakukan di era digital ini agar sesama umat Islam khususnya tidak terpecah belah dan termakan adu domba. Demikian juga bangsa Indonesia secara umum tidak porak-poranda oleh berbagai fitnah yang lahir di medsos tanpa tabayyun.

 

LEAVE A REPLY