Beranda Aqidah Mengenalkan Allah pada Anak

Mengenalkan Allah pada Anak

709
0

alhikmah.ac.id – Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Pendidikan anak ( tarbiyatul aulad ) bukanlah dimulai dari semenjak kandungan, sejatinya ia dimulai semenjak kita mencari pasangan hidup ( suami / istri ). Bagaimana bisa kita mengharapkan kehadiran anak yang shalih/ah jika kita memilih pasangan yang melalaikan sholat, yang tak pernah membasahi lisannya dengan tilawah, jauh dari Allah dan Rasulnya.
Salah satu pondasi pendidikan tauhid dimulai dari penanaman nilai-nilai tauhid kepada sang anak, dan salah satu kunci keberhasilan pendidikan anak adalah tepatnya metode yang diberikan saat mengenalkan sang anak kepada penciptanya, Allah SWT. Selain itu, teladan dari orang tua juga berperan penting mengantarkan anak menjadi anak yang sholih. Pendidikan tauhid tidaklah mudah, terutama di zaman ini yang semakin tidak kondusif. Orang-orang semakin mengutamakan tontonan ketimbang tuntunan.
Masa usia dini merupakan masa keemasan (golden age) bagi perkembangan intelektual seorang manusia. Masa usia dini merupakan fase dasar untuk tumbuhnya kemandirian, belajar untuk berpartisipasi, kreatif, imajinatif dan mampu berinteraksi. Hal ini senada dengan ungkapan Ihat (2003:55) bahwa perkembangan intelegensi, kepribadian dan perilaku sosial pada manusia terjadi paling cepat pada usia dini, bahkan menurut Bloom (1984) bahwa separuh dari semua potensi intelektual sudah terjadi pada umur empat tahun.
Oleh karena itu, pendidikan dalam keluarga adalah madrasah yang pertama dan utama bagi perkembangan seorang anak, sebab keluarga merupakan wahana yang pertama untuk seorang anak dalam memperoleh keyakinan agama, nilai, moral, pengetahuan dan keterampilan, yang dapat dijadikan patokan bagi anak dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Teladan itu bernama Luqman..
Tauhid adalah berbicara mengenai keesaan Allah, asma wa shifat, uluhiyah, rububiyah dan segala yang terkait dengan eksistensi Allah. Berbicara mengenai pendidikan tauhid kepada anak, maka kita akan ingat bagaimana Luqman Al-Hakim mengajarkan anaknya agar tidak menyekutukan Allah. Disebutkan kisahnya oleh firman Allah SWT yang mengatakan :
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya pada waktu ia memberi pelajaran kepadanya : ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman (31): 3)
Ibnu Katsir Rahimahullah telah mengatakan dalam kitab tafsirnya, bahwa Luqman berpesan kepada putranya sebagai orang yang paling disayanginya dan paling berhak mendapat pemberian paling utama dari pengetahuannya. Oleh karena itulah, Luqman dalam wasiat pertamanya berpesan agar anaknya menyembah Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun seraya memperingatkan kepadanya :
Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman (31): 3), yakni syirik adalah dosa yang paling besar.
Sehubungan dengan hal ini, Bukhari telah meriwayatkan melalui ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu yang telah menceritakan: “Ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik),” (QS. Al-An’aam (6): 82). Kami berkata: ‘Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang tidak berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri?’ Rasulullah saw menyangkal melalui sabdanya: “Pengertiannya tidaklah seperti yang kalian katakan, bahwa mereka tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman, yang dimaksud kezhaliman ialah kemusyrikan. Tidakkah kalian pernah mendengar ucapan Luqman kepada anaknya yang disitir oleh firman-Nya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman (31): 3) (Bukhari, Kitab Ahaditsil Anbiya 3110)
Syirik disini diungkapkan dengan perbuatan zhalim, mereka mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman, yakni dengan kemusyrikan. Selanjutnya, Luqman mengiringinya dengan pesan yang lain, yaitu agar anaknya menyembah Allah semata dan berbakti kepada kedua orang tua sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Israa’ (17): 23)
Dan memang Allah sering menggandengkan keduanya dalam Al-Qur’an.
Kita tidaklah sama dengan anak-anak kita..
Kita bukanlah anak-anak kita, sehingga pendidikan yang dulu pernah kita dapat dari orang tua kita tidaklah serta merta dapat diaplikasikan pula kepada anak-anak kita, karena zamannnya telah berbeda. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim : ”Didiklah anak-anakmu, sebab mereka dilahirkan untuk hidup dalam suatu zaman yang berbeda dengan zamanmu.
Lingkungan keluarga adalah yang paling banyak mempengaruhi kondisi psikologis dan spiritual anak. Semoga beberapa alternatif sederhana dibawah ini dapat menanamkan nilai-nilai tauhid kepada anak-anak kita:
1. Tanamkan nilai-nilai tauhidullah (keesaan Allah) sejak awal. Ma’rifatullah (mengenal Allah) adalah tema pertama yang kita ajarkan kepada anak-anak, tentu dengan bahasa dan contoh-contoh yang sederhana. Agar terpatri dalam ruang pikirnya, siapa penciptanya, siapa pemberi rizki, siapa pengatur hidup, siapa penguasa alam, siapa yang pantas disembah, siapa yang menghidupkan dan mematikan, dll. Ajak anak untuk mengenal Alloh Swt Maha Pencipta dengan menceritakan menggunakan alat peraga baik gambar atau memperhatikan keadaan di lingkungan sekitar seperti burung, ular, serta hewan atau lingkungan lainnya, atau tentang fakta penciptaan organ tubuh seperti mata, hidung, telinga, dll.
2. Sejak dini juga tanamkan pendidikan ma’rifaturrasul (mengenal Rasulullah), agar ia memiliki teladan yang mampu menjadi pemandu hidupnya, dan tidak salah pilih teladan. Apalagi, saat ini banyak para artis, atau tokoh-tokoh khayalan dan rekaan yang mencoba merebut hati para anak-anak kita, baik cerita rakyat seperti Gatot Kaca atau dari Barat seperti Superman, Batman, Satria Baja Hitam, Power Rangers. Sekadar tahu tokoh-tokoh ini tidak ada masalah, namun jadi masalah jika anak menjadikan mereka sebagai teladan hidupnya, dan melupakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
3. Sejak dini juga ditanamkan tarbiyah akhlaqiyah wa sulukiyah (pembinaan akhlak dan perilaku). Agar anak menghormati orang tua dan yang lebih tua, atau menyayanyi yang lebih muda. Agar anak tahu adab makan, minum, berjalan, berpakaian, dan berbicara, serta adab-adab lainnya. Supaya mereka menyayangi sahabat dan memaafkan musuh. Agar mereka tahu juga batasan-batasan pergaulan dengan lawan jenis, agar tidak terjadi fitnah dikemudian hari.
4. Sejak dini juga diperkenalkan dengan tokoh-tokoh Islam, mulai para sahabat nabi, para Imam dan ulama, para pahlawan dan mujahidin Islam, baik dalam atau luar negeri. Bukan justru memperkenalkan mereka dengan bintang film, penyanyi, pemain sepak bola, atau penghibur yang membuatnya jauh dari Allah dan kewajiban-kewajiban agama.
5. Ajarkan anak untuk berdoa sebelum melakukan aktivitas, sampaikan kepada mereka bahwa berdoa berarti memohon pertolongan dan kelancaran kepada Allah SWT atas aktivitas yang hendak dijalankan. Jangan lupa sesudahnya mengucapkan kalimat hamdalah sebagai salah satu wujud kesyukuran. Sebelum memulai seluruh aktivitas yang bersentuhan dengan proses pembelajaran usahakan melakukan Kebulatan Tekad Pagi Hari. Hal ini merupakan pengganti salam penghormatan kepada ilmu, biasakan anak membaca kebulatan tekad sebelum pelajaran dimulai :
Rodhiitu billahi robba wa bil islami diinaa wabimuhammadin nabiyya wa rosuula
Kami rela Alloh sebagai Rabb kami, Islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul kami.” (Jaudah, 1999:30)
4. Bila melarang anak, upayakan untuk tidak mengancamnya dengan dosa, neraka dan hal-hal menakutkan lainnya. Pola pikir anak yang konkret operasional cenderung sulit untuk memahami makna dosa, neraka, dsb. Cukup berikan mereka penjelasan konkret yang dapat diterima oleh pikirannya, misalnya untuk melarang anak mencuri, cukup berikan mereka penjelasan bahwa hal tersebut dapat menyakiti orang lain karena berarti mengambil hak yang bukan miliknya.
5. Apabila anak melakukan kesalahan, bantu mereka untuk menemukan jalan untuk memperbaiki kesalahannya, tanpa harus mengancam dengan dosa, neraka dan sebagainya, karena hal tersebut akan membuat persepsi anak negatif terhadap Islam.
6. Sertakan anak saat menjalankan ibadah sehari-hari, seperti sholat berjamaah, kegiatan pengajian, dsb. Jelaskan pula hikmah yang bisa mereka dapatkan dari ibadah yang di jalankan. Dengan demikian, mereka akan semakin akrab dengan aktivitas keagamaan.
7. Dalam memilih hiburan, upayakan untuk memberikan anak tayangan-tayangan yang tidak merusak aqidah. Hendaknya dirumah sering diperdengarkan ayat-ayat Allah, lantunan ayat suci Al Qur’an baik dibaca sendiri oleh orang tua, atau melalui kaset-kaset muratal. Ini lebih baik dan sangat baik demi keberkahan rumah dan turunnya rahmat Allah. Paling tidak, lagu anak-anak / lagu islami yang syairnya mendidik juga dapat kita perdengarkan.
8. Sediakanlah anak-anak kita buku-buku bacaan yang mendidik, yang mampu menambah pengetahuan agama dan akademik, serta iman mereka. Seperti buku-buku kisah tentang para nabi, sahabat, atau buku-buku doa sederhana, hadits-hadits, atau majalah Islam anak-anak. Dampingilah mereka untuk membantu memahaminya, sebagaimana kita dampingi mereka ketika nonton televisi agar bisa menjauhi tontonan yang tidak pantas. (Sebagusnya cegah mereka dari televisi, hingga saatnya nanti mereka bisa membedakan mana baik mana buruk).
Semoga risalah singkat ini dapat membantu kita menanamkan pondasi tauhid kepada anak-anak kita, sehingga dapat mengantarkan mereka menjadi anak-anak yang sholih/ah. Man syabba fii syai’iin syaaba ‘alaih (Barang siapa yang dididik dengan sesuatu, maka sesuatu itulah yang akan membentuk dirinya hingga dewasa nanti)
Wallahu a’lam
Penulis adalah aktivis ITJ dan KSP (kelompok Studi Palestina) Bandung

LEAVE A REPLY