Beranda Dakwah Bekal dakwah Operasi Pembunuhan Mossad

Operasi Pembunuhan Mossad

211
0

alhikmah.ac.id – Pembununuhan ilmuwan Palestina berumur 35 tahun, Dr Fadi al-Batsh, di Ibu Kota  Malaysia telah menyingkap program rahasia yang targetnya membunuh orang Palestina yang dianggap sebagai ancaman oleh Israel.

Al-Batsh mempelajari teknik elektro di Gaza sebelum akhirnya meraih gelar PhD di bidang ilmu yang sama di Malaysia. Dia mengkhususkan diri dalam sistem daya dan penghematan energi dan telah mempublikasikan sejumlah makalah ilmiah tentang itu.

Hamas mengatakan al-Batsh merupakan seorang anggota penting dalam kelompoknya dan menuduh badan intelijen Mossad Israel berada di balik pembunuhan pada Sabtu itu. Menyebutnya seorang anggota yang”setia”, Hamas mengatakan al-Batsh merupakan seorang”ilmuwan dalam akademisi muda Palestina” yang membuat ”kontribusi penting” dan berpartisipasi dalam forum-forum internasional dalam bidang energi.

Berbicara pada Aljazeera, ayah al-Batsh mengatakan dia menduga Mossad berada di balik pembunuhan anak laki-lakinya dan mendesak otoritas Malaysia untuk segera mengungkapnya. Menurut wartawan investigasi Israel, Ronen Bergman, yang merupakan salah satu ahli dalam intelenjensi Israel dan penulis buku ‘Rise and Kill First’, pembunuhan al-Batsh mengandung semua unsur dari sebuah operasi Mossad.

“Fakta bahwa para pembunuh menggunakan motor untuk membunuh target mereka, yang telah digunakan dalam banyak operasi lain Mossad sebelumnya dan dilakukan sebagai sebuah operasi pembunuhan bersih, profesional yang jauh dari Israel, menunjukkan keterlibatan Mossad,” Bergman mengatakan Aljazeera melalui panggilan telepon.

Identifikasi target

Mengidentifikasi target untuk pembunuhan oleh intelijen Israel biasanya dijalankan melalui beberapa langkah institusional dan organisasional dalam Mossad, komunitas intelijen Israel yang lebih luas dan kepemimpinan politik. Terkadang target diidentifikasi oleh badan militer domestik Israel yang lain.

Contohnya, al-Batsh bisa saja diidentifikasi sebagai target melalui pengumpulan intelijen umum via unit-unit di dalam militer Israel dan organisasi intelijen yang memantau Hamas. Al-Batsh juga dapat diidentifikasi melalui operasi intelijen Israel lainnya dan jaringan mata-mata Israel di seluruh dunia.

Beberapa sumber mengatakan pada Aljazeera bahwa komunikasi Hamas antara Gaza, Istanbul (Turkey) dan Beirut (Libanon) telah dipantau secara ketat oleh jaringan intelijen Israel. Dengan demikian, pemilihan awal al-Batsh sebagai target dapat terjadi melalui saluran ini.

Teman-teman al-Batsh yang berbicara pada Aljazeera dalam kondisi anonim mengatakan dia tidak menyembunyikan hubungannya dengan Hamas. “Dia dikenal dalam komunitas Palestina karena hubungannya dengan Hamas,” satu temannya mengatakan.

Proses pembunuhan

Setelah al-Batsh diidentifikasi sebagai target, Mossad kemudian akan mengevaluasi intelijen yang tersedia untuk memutuskan apakah dia harus dibunuh, apa manfaat dari membunuhnya dan cara terbaik membunuhnya.

Setelah unit khusus Mossad selesai mengumpulkan informasi target, penemuan itu kemudian dilaporkan kepada kepala Komite Layanan Intelijen, yang terdiri dari pemimpin-pemimpin organisasi intelijen Israel dan dikenal sebagai VARASH (Vaadan Rashei Ha-sherutim).

VARASH hanya akan membahas operasi dan memberikan masukan dan saran. Namun, ia tidak memiliki otoritas resmi untuk menyetujui operasi. Hanya perdana menteri Israel yang memiliki kewenangan untuk menyetujui operasi semacam itu.

Bergman mengatakan bahwa perdana menteri Israel biasanya lebih memilih tidak mengambil keputusan sendiri karena alasan politik. “Seringkali perdana menteri akan melibatkan satu atau dua menteri dalam keputusan untuk menyetujui, yang seringkali juga melibatkan menteri pertahanan,” kata Bergman.

Unit Caesarea

Caesarea adalah sebuah cabang operasional undercover dalam Mossad yang bertugas menanam dan menjalankan mata-mata di seluruh dunia dan khususnya di negara-negara Arab. Unit ini didirikan pada awal 1970-an, dan salah satu pendirinya ialah mantan mata-mata terkenal Israel, Mike Harari.

Caesarea memanfaatkan jaringan mata-matanya yang luas di negara Arab dan yang lebih luas lagi di Timur Tengah untuk mengumpulkan informasi dan melakukan pengawasan terhadap orang-orang yang sedang menjadi target dan yang akan menjadi target.

Harari kemudian mendirikan unit paling mematikan Caesarea, dikenal dalam bahasa Ibrani sebagai Kidon (Bayonet), terdiri dari para pembunuh profesional yang ahli dalam operasi sabotase dan pembunuhan. Para anggota Kidon seringkali diambil dari cabang militer Israel termasuk tentara atau pasukan khusus.

Kemungkinan anggota Kidon yang membunuh al-Batsh di Kuala Lumpur; narasumber mengatakan pada Aljazeera. Mossad tidak hanya menarget para pemimpin Palestina atau ilmuwannya namun juga dari Suriah, Libanon, Iran dan Eropa.

LEAVE A REPLY