Beranda Dakwah Bekal dakwah Syaikh Mahfudz At-Tarmasi, Ulama Hadits Nusantara yang Mendunia

Syaikh Mahfudz At-Tarmasi, Ulama Hadits Nusantara yang Mendunia

21
0

alhikmah.ac.id – Syeikh Yasin Al-Fadani, Musnid dunya, ulama Nusantara Abad ke-20 tak tanggung-tanggung memberi enam gelar kepada Syeikh Mahfudz At-Tarmasi

“Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” begitulah kira-kira nasehat Presiden pertama Indonesia, mengingatkan kita betapa pentingnya sejarah. Nasehat ini masih cocok dengan keadaan sekarang, meminjam istilah Adi Setia, anak bangsa saat ini sedang terjangkiti penyakit historical and cultural amnesia, suatu “penyakit” yang membuat orang lupa bahkan amnesia terhadap pencapaian ilmu pengetahuan dalam sejarah dan budaya bangsanya sendiri. Termasuk dalam hal ini, tak tau dan tak mau tau sejarah para ulama Nusantara.

Pada abad 18 hingga akhir abad ke 20, Nusantara melahirkan ulama-ulama yang diakui keilmuannya di dunia, bahkan diantaranya menjadi pengajar di Haramain. Sebut saja Syeikh Abdus Shomad Al-Palimbani, Syeikh Arsyad Al Banjari, Syeikh Abdul Wahab Al-Bugisi, Syeikh Abdur Rahman Mishri Al-Jawi atau yang lebih terkenal dengan sebutan empat serangkai dari Tanah Jawi. Begitu pula Syeikh An-Nawawi Albantani, Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Syeikh Yasin Al-Fadani dan termasuk ulama yang lahir pada abad ke-19 tahun 1866, Syeikh Mahfudz At-Tarmasi.

Ulama Hadits Asal Tremas

Saat ini tak banyak memang yang mengenal siapa Syeikh Mahfudz At-Tarmasi, seorang ulama Nusantara asal Tremas, sebuah desa kecil yang berada di Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Krasidenan Madiun, Jawa Timur. Ia adalah ulama Nusantara pertama yang mengajar Shahih Bukhari di Masjidil Haram hingga akhir hayatnya. Memegang sanad yang bersambung hingga ke Imam Bukhari. Sanad yang diperoleh At-Tarmasi  termasuk aqrab, sehingga menjadi incaran para ulama, tidak hanya dari tanah air saja tapi juga belahan dunia lainnya. Terlebih kitab Shahih Bukhari yang menjadi rujukan utama umat Islam setelah Al-Qur’an. Jika diriwayatkan melalui jalur Syeikh Abu Bakar Syatha yang merupakan guru At-Tarmasi di Haramain, maka mata rantainya At-Tarmasi berada diurutan ke-22. Adapun jika melalui jalur KH. Abdullah yang merupakan ayahnya maka mata rantainya lebih dekat lagi yaitu berada diurutan ke-20.

At-Tarmasi tidak hanya memegang sanad shahih Bukhori tapi juga kitab-kitab hadits lainnya. Ia tak hanya pakar dalam bidang hadits saja, tetapi juga dibidang keilmuan yang lain, seperti fikih, aqidah, qur’an dan qiraatnya. Contohnya saja Dr. Abdullah bin Muhammad Al-Jarullah yang pakar qiraah dan menguasai qira’ah sab’ah dan qira’ah ‘asyarah sanad qiraahnya juga lewat Syeikh Mahfudz At-Tarmasi. Kepakarannya di bidang lain terbukti dengan beberapa karyanya dalam bidang-bidang tersebut. Karya-karya Syeikh Mahfudz At-Tarmasi yang tercatat ada sebanyak 20 kitab, 6 diantaranya adalah karya dalam bidang hadits.

Arbain At-Tarmasi

Sebagaimana Imam An-Nawawi, Syeikh Mahfudz At-Tarmasi menulis kitab yang menghimpun 40 hadits yang dikenal dengan sebutan Arbain At-Tarmasi, kitab ini berjudul Al-Minhah Al-Khairiyyah fi Arbain Haditsan min Ahaditsi Khair Al-Bariyah. At-Tarmasi mensyarah kitab Al-Minhah Al-Khairiyyah fi Arbain Haditsan min Ahaditsi Khair Al-Bariyah kedalam kitabnya yaitu Al-Khil’ah Al-Fikriyyah bi Syarh Al-Minhah Al-Khairiyah. Dalam kitab ini At-Tarmasi memberikan banyak keterangan, termasuk tentang kitab sebelumnya. Pada cover kitab yang kedua ini, tertera empat tempat nama penerbit yaitu Haramain, Singapura, Jeddah dan Indonesia. Hal ini mengisyaratkan bahwa kitab ini sudah pernah dicetak di empat negara tersebut. Selain itu juga Syeikh At-Tarmasi menulis kitab Manhaj Dzhaw Al-Nazr bi Syarh Manzumah ilm Al-Atsar, kitab ini merupakan satu diantara dua karya besar At-Tarmasi. Bahkan kitab ini pulalah yang membuat nama At-Tarmasi dikenal dan terkenal. Kitab ini ditulis dalam waktu 4 bulan 14 hari. Karya besar ini ia selesaikan di Makkah pada hari Jumat tanggal 14 Rabiul Awwal 1329 H/ 1911 M. Kitab sudah dicetak dan disebarluaskan di Mesir sebelum tahun 1919 M. Kitab ini merupakan syarah terhadap Kitab Manzumat ‘Ilm Al Athar yang dikarang oleh Imam As-Suyuti dalam bentuk syair yang hampir berisi 1000 bait.

Pengakuan Syeikh Yasin Al-Fadani

Syeikh Yasin Al-Fadani, Musnid dunya, ulama Nusantara Abad ke-20 tak tanggung-tanggung memberi enam gelar kepada Syeikh Mahfudz At-Tarmasi. Gelar-gelar itu adalah ‘Allamah (sangat alim), Al-Muhaddits (ahli hadits), Al-Musnid (mata rantai sanad hadits), Al-Faqih (ahli fikih), Al-Ushuli (ahli ushul fiqih), dan Al-Muqri (ahli qiraat). Adapun gelar ini diberikan Syeikh Yasin Al-Fadani sebagai bentuk pengakuan dan penghormatan akan keilmuan Syeikh Mahfudz At-Tarmasi.

Selama mengajar di Masjidil Haram, Syeikh At-Tarmasi memiliki murid-murid yang tidak hanya berasal dari Nusantara saja, seperti Syeikh Hasbullah Asy-Syinqithi, Syeikh Umar Hamdan Al-Mahrusi, Syeikh Ahmad Abdullah Al-Syami Al-Makki, Syeikh Ahmad Al-Mukhallalati dan Qadhi Yahya Aman Al-Makki Al-Hanafi. Sedangkan murid Syeikh At-Tarmasi yang dari Nusantara berjumlah lebih dari 20 orang (bahkan lebih banyak lagi) diantaranya adalah KH. Hasyim Asyari dan KH. Ahmad Dahlan yang merupakan ulama yang sangat berpengaruh di Nusantara.

Wafatnya Sang Ulama

Syeikh Mahfudz At-Tarmasi wafat tepat pada tanggal 1 Rajab 1338 H, ulama hadits asal Nusantara ini dikuburkan di pemakaman keluarga Syatha. At-Tarmasi dikuburkan di pemakaman Syatha, karena kedekatan ia dengan keluarga Syatha, Syeikh Syatha merupakan guru yang berjasa menghantarkan dia menjadi ulama hadits tidak hanya sebagai guru saja akan tetapi juga sebagai ayah angkat, demikian pula dengan keluarga Syatha. Itulah sebabnya At-Tarmasi dikuburkan di pemakaman keluarga Syatha.

Penutup

Kita tentu patut berbangga, dulu di tanah air ini lahir ulama yang diakui keilmuan di dunia. Selain Syeikh Mahfudz At-Tarmasi, masih banyak lagi ulama Nusantara yang mendunia. Dengan tulisan yang pendek ini semoga kita semakin mengenal dan ingin mengenal ulama-ulama Nusantara yang mendunia sehingga termotivasi untuk belajar dan terus belajar hingga ruh tak lagi di badan. Semoga di tanah air kita ini akan lahir dan terus lahir lagi ulama-ulama pewaris para nabi seperti beliau. Wallahu ‘alam bis Shawab.*/Aco Wahab, Alumni Ma`had Aly Imam Ghazally 

BERBAGI
Artikel sebelumyaNikah Mut’ah Bukan Dari Islam

LEAVE A REPLY