Antara Khauf dan Raja: Manakah Yang Kita Pilih?

Oleh: Tim kajian dakwah alhikmah

alhikmah.ac.id – bahasa Khauf adalah lawan kata al-amnu. Al-Amnu adalah rasa aman, maka khauf berarti rasa takut. Secara istilah khauf adalah pengetahuan yang dimiliki seorang hamba di dalam hatinya tentang kebesaran dan keagungan Allah serta kepedihan siksa-Nya.

Rasa khauf akan muncul dengan sebab beberapa hal, di antaranya:

1.    Pengetahuan seorang hamba akan pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosanya serta kejelekan-kejelekannya

2.    Pembenarannya akan ancaman Allah, bahwa Allah akan menyiapkan siksa atas segala kemaksiatan

3.    Mengetahui akan adanya kemungkinan penghalang antara dirinya dan taubatnya.

Adapun raja` secara bahasa artinya harapan atau cita-cita. Menurut istilah ialah bergantungnya hati dalam meraih sesuatu di kemudian hari. Raja’ merupakan ibadah yang mencakup kerendahan dan ketundukan, tidak boleh ada kecuali kepada Allah SWT. Raja` juga bisa dimaknai sebagai berprasangka baik kepada Allah karena mengetahui luasnya rahmat dan kasih sayang-Nya.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah membagi raja` dalam 3 bagian. Dua bagian termasuk termasuk raja` yang terpuji pelakunya sedangkan satu lainnya adalah raja` yang tercela. Yaitu:

1.    Seseorang mengharap disertai dengan amalan taat kepada Allah di atas cahaya Allah, ia senantiasa mengharap pahala-Nya

2.    Seseorang yang berbuat dosa lalu bertaubat darinya, dan ia senantiasa mengharap ampunan Allah, kebaikan-Nya dan kemurahan-Nya.

3.    Adapun yang menjadikan pelakunya tercela ialah seseorang yang terus-menerus dalam kesalahan-kesalahannya lalu mengharap rahmat Allah tanpa dibarengi amalan. Raja` yang seperti ini hanyalah angan-angan belaka, sebuah harapan yang dusta.

Baik Khauf maupun raja` merupakan dua ibadah yang sangat agung. Bila keduanya menyatu dalam diri seorang mukmin, maka seluruh aktivitas kehidupannya akan menjadi seimbang. Dengan khauf akan membawa diri seseorang untuk selalu melaksanakan ketaatan dan menjauhi perkara yang diharamkan; dengan raja` akan menghantarkan dirinya untuk selalu mengharap apa yang ada di sisi Allah.

Pendek kata, dengan khauf dan raja` seorang mukmin akan selalu ingat bahwa dirinya akan kembali ke hadapan Sang Penciptanya, di samping ia akan bersemangat memperbanyak amalan-amalan.

Kedua sikap di atas harus dimiliki oleh seorang mukmin. Sikap ini menjadi ciri mukmin yang baik yang bisa menempatkan diri kapan ia harus berada pada posisi khauf dan kapan ia mesti berada pada posisi raja`.

Namun, Sayid Alwi bin Abbas Al Maliki menyatakan, “Bagi seorang pemuda ia lebih baik mengutamakan sikap al-khauf sebab nafsu syahwat di masa muda jauh lebih besar yang dikhawatirkan dapat menyeret pada perbuatan buruk jika tidak mengutamakan sikap tersebut.”

Mana yang Kita Utamakan?

Disebutkan dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW mendatangi seorang pemuda yang sedang menghadapi kematian (sakaratul maut). Rasul bertanya kepada pemuda ini, “Bagaimana kamu mendapati dirimu?” Pemuda ini menjawab, “Aku mendapati diriku dalam keadaan takut atas dosa-dosa yang aku kerjakan sekaligus mengharapkan rahmat Tuhanku.”

Lantas nabi menjawab, “Tidaklah berkumpul dua perasaan di dalam hati seorang hamba, melainkan Allah berikan apa yang ia harapkan dan memberikan ketentraman dari hal yang khawatirkan.”

Imam Al-Ghazali berkata, “Jika ada yang bertanya, ‘manakah yang lebih utama di antara sikap Al-Khauf dan Al-Raja` ? Pertanyaan ini sama seperti pertanyaan, ‘mana yang lebih enak, roti atau air?”

Jawabannya adalah, “Bagi orang yang lapar, roti lebih tepat. Bagi yang kehausan, air lebih pas. Jika rasa lapar dan haus hadir bersamaan dan kedua rasa ini sama-sama besar porsinya, maka roti dan air perlu diasupkan bersama-sama.

Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad juga pernah ditanya dengan pertanyaan yang hampir senada. “Mana yang lebih utama untuk kita, rasa khauf atau raja`?”

Beliau menjawab, “Ketahuilah, bagi orang yang mempunyai hawa nafsu yang kuat dan mempunyai kecenderungan besar kepada kemaksiatan, maka khauf mesti ditekankan hingga ia kembali ke jalan yang lurus. Namun bagi orang yang akan meninggal, sikap Raja` harus lebih diutamakan agar ia tidak berburuk sangka kepada Allah. Sementara, bagi orang yang sehat raganya, istiqamah di jalan agama Allah, maka baginya yang paling utama adalah kesetaraan di antara sikap Khauf dan Raja` hingga menjadi layaknya dua sayap burung.”

download

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.