Berdoa Mati Syahid

alhikmah.ac.id – Mohammed salah satu warga Mesir yang menghembuskan nafas terakhirnya di medan Rab’ah memiliki kisah yang mengharukan sebelum kepergiannya.

Lelaki yang bekerja sebagai montir ini, sebelum Syahid Insyaallah, ia telah memberi pesan kepada sahabatnya “Doakan saya agar wafat di sini. Saya telah berdoa kepada Allah agar menganugerahkan kematian di tempat ini, jika itu terhitung sebagai kesyahidan.”

Kisah ini dituturkan oleh warga mesir bernama syaikh Khalid Yasin lewat laman facebooknya.

Kesyahidan atau kematian di medan juang dalam menegakkan kalimatullah adalah cita-cita tertinggi mukmin yang benar. Para sahabat Rasulullah selalu minta di do’akan agar syahid dimedan juang. salah satunya kisah dibawah ini.

Suatu hari ketika Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam berjalan di kota Madinah beliau berpapasan dengan seorang sahabat yang bernama Haritsah bin Suraqoh. Maka seraya Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bertanya kepadanya dan mengatakan: “Ya Haritsah bagaimana keadaanmu di pagi hari ini?”.

Maka menjawab Haritsah: “Ya Rasulullah aku di pagi hari ini telah mencapai hakekat keimanan”.

Ketika mendengar jawaban tersebut Rasul pun berkata kepadanya: “Ya Haritsah segala sesuatu ada buktinya, dan mana bukti dari hakekat keimananmu?”.

Maka berkata Haritsah:

“Ya Rasulullah telah keluar dari hatiku mahabbah kepada dunia sehingga emas dan batu sama nilainya di mataku. Ya Rasulullah seakan akan arsy tuhanku dihadapanku sangat jelas, seakan akan penghuni surga mendapatkan ni’mat di surga dihadapanku sangat jelas, dan seakan akan penghuni neraka  mendapatkan azab di neraka dihadapan mataku sangat jelas. Ya Rasulullah di malam hari aku bergadang (bermunajat) dan di siang hari aku berpuasa”.

Ketika Rasul mendengar jawaban Haritsah seraya beliau mengatakan: “(Engkau adalah) hamba Allah yang telah memperoleh cahaya di hatimu. Ya Haritsah engkau telah mengetahui maka lazimilah”.

Maka haritsah berkata kepada rasulullah: “Ya Rasulullah doakan aku, aku ingin mati syahid di jalan Allah”.

Maka Rasul-pun mendoakan agar haritsah mati syahid di jalan Allah. Kebetulan di hari itu Rasulullah dan para sahabat keluar dari kota Madinah untuk memerangi orang kafir Quraiys di perang Badr dan jumlah tentara orang kafir lebih dari 950 prajurit sedang tentara Rasulullah hanyalah 313 prajurit dan tidak memiliki persenjataan melainkan sangat sedikit sekali dan sangat terbatas.

Akan tetapi kemenangan dari Allah diberikan kepada Rasulullah dan para sahabat. Sehingga di riwayatkan bahwa yang terbunuh dari orang orang kafir 70 prajurit, dan yang tertawan 70 prajurit. Adapun yang gugur syahid dari kaum muslimin 14 sahabat dan diantara mereka adalah Haritsah bin Suraqoh.

Maka ketika kembali Rasulullah dan para sahabat dari medan perang beliau dihadang oleh ibu Haritsah dan seraya mengatakan kepada rasulullah: “Ya Rasulullah dimana anakku Haritsah?”.

Maka dijawab oleh Rasulullah: “Wahai ibu Haritsah sabarlah sesungguhnya anakmu terbunuh dijalan Allah”.

Maka diulangi pertanyaan tersebut oleh ibu Haritsah kepada Rasulullah. Dan dijawab oleh Rasul dengan jawaban yang serupa. Lantas di ulangilah untuk ketiga kalinya pertanyaan tersebut oleh ibu Haritsah dengan menanyakan:

“Ya Rasulullah aku tahu kalau anakku terbunuh di jalan Allah akan tetapi dimana anakku apakah di surga atau di neraka?”.

Maka Rasulullah menjawab: ”Wahai ibu Haritsah apakah kau tidak tahu? Sesungguhnya surga itu bukanlah hanya satu surga, akan tetapi surga itu banyak sekali tingkatannya. Dan sesungguhnya anakmu telah mencapai surga Firdaus yang paling tinggi”.

Diriwayatkan oleh para ahli sejarah bahwa Haritsah terbunuh di jalan Allah ketika beliau berusia 17 tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.