Berjilbab Menjaga Muru’ah dan Agamanya

alhikmah.ac.id – Muslimah paling utama adalah wanita-wanita yang bisa menjaga diri dan agamanya. Ia senantiasa menjaga penampilannya, tidak hanyut pada model, gaya, gebyar dan tren yang justru mengorbankan agamanya sendiri.

Sesungguhnya wanita yang punya budi luhur secara bahasa atau sikap, dia sudah mendominasi 50% agamanya. Berbahagialah jejaka yang memperoleh tipe gadis seperti itu. Dan seharusnya pemuda mengutamakan agamanya. Lihat dulu bagaimana budi baiknya terhadap keluarga, terhadap teman atau masyarakat. Dari sana sudah memperoleh syarat-syarat pemenuhan gadis yang beragama.

Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya semua agama itu mempunyai akhlak,sedangkan akhlak yang islami ialah sifat malu.” (HR. Imam Malik)

Muslimah yang utama dia bisa menjaga diri dan agamanya. Dia malu dengan jilbab yang dikenakan untuk berbuat dari hal-hal yang dicela agama dan membuat orang lain menjadi mencela ajaran agamanya. Muslimah seperti inilah  yang disebut mampu menjaga muru’ah.

Muru’ah adalah sifat yang dimiliki oleh manusia. Dengan sifat tersebut ia bisa membedakan antara manusia dari hewan. Istilah ini digunakan  dalam pengertian mengaplikasikan akhlak yang terpuji dalam segala aspek kehidupan serta menjauhkan akhlak yang tercela sehingga seseorang senantiasa hidup sebagai orang terhormat dan penuh kewibawaan.

Iman Mawardi, menjelaskan soal  muru’ah sebagai “Menjaga kepribadian atau akhlak yang paling utama sehingga tidak kelihatan pada diri seseorang sesuatu yang buruk atau hina.”

Ibnu Qayim al-Jauziah mengatakan bahwa muru’ah berlaku pada perkataan, perbuatan, dan niat setiap orang. Orang yang dapat memelihara perkataan, perbuatan, dan niatnya, sehingga senantiasa berjalan sesuai dengan tuntunan agama, disebut orang yang memiliki muru’ah. Lebih jauh, Ibnu Qoyim membagi muru’ah atas tiga tingkatan.

Pertama, muru’ah terhadap diri sendiri; yaitu mempertahankan dan melaksanakan akhlak yang mulia dan menjauhi akhlak yang rendah dan tercela, kendatipun hanya diketahui oleh diri sendiri.

Kedua, muru’ah kepada sesama makhluk; senantiasa berakhlak luhur dan menjauhi akhlak tercela di tengah khalayak ramai.

Ketiga, muru’ah terhadap Allah Subhanahu Wata’ala; yaitu merasa malu terhadap Allah sehingga membuat seseorang senantiasa berupaya melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya .

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,“Kemuliaan seseorang ialah (pada) agamanya dan muru’ah (pada) akalnya dan keluhuran akhlaknya.” (HR. Ibnu Hibban)

Allah dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 31 yang artinya:

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاء وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya dan janganlah mereka menampakkan perhiasan kecuali kepada suami mereka, putera-putera mereka, atau putera para suami mereka, atau saudara-saudara mereka atau putera-putera saudara perempuan mereka atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki-kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Dari Abdullah bin Umar r.a, bahwasannya Rasulullah bersabda: “Dunia itu perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah” {HR. Muslim}

Muru’ah merupakan perhiasan pribadi seorang Muslim dan  bukti keutamaan budi dan tanda kemuliaan pelakunya

Seharusnya, pakaian jilbab yang kita kenakan, bukan sekedar hiasan. Jilbab yang kita sematkan kata Nabi justru membuat kita menstabilkan perilaku buruk kita. Sebab sesungguhnya seorang muslimah yang berjilbab, ia harus menjaga image/citra dan karena identitas yang ia bawa adalah identitas agamanya sendiri, Islam. Maka jika ada muslimah yang menggunakan jilbab namun penampilannya jauh dari pakaian yang menutupinya,  sesungguhnya ia telah menjatuhkan muru’ah agamanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.