Berkuasa Karena Allah

Alhikmah.ac.id – Semua Nabi dan Rasul, mulai dari Adam Alaihissalam (AS) hingga Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) punya tugas dan missi yang sama, yaitu mengajak manusia menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT), sembari menjauhi semua bentuk penyembahan yang lain.

Allah SWT berfirman: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah thaghut” (An-Nahl [16]: 36)

Dalam menjalankan tugas tersebut ada di antara mereka yang sukses, tapi tidak sedikit di antara mereka yang belum behasil hingga diteruskan oleh Nabi dan Rasul berikutnya.
Ada di antaranya yang gugur di saat menjalankan tugas, ada pula yang tidak mendapat pengikut hingga berpuluh-puluh tahun lamanya.
Di antara mereka ada juga yang berkuasa, menjadi raja sekaligus Rasul seperti Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS, dan ada juga yang menjadi menteri, seperti nabi Yusuf (AS).

Puncak Sukses Dakwah

Dakwah yang diemban para Nabi dan Rasul itu mencapai puncaknya pada masa Rasulullah SAW. Saat itu Nabi Muhammad SAW tidak saja menjadi pemimpin agama, tapi juga pemimpin “Negara”. Islam tidak saja dijadikan sistem ibadah, tapi juga sistem sosial yang universal. Semua manusia hanya bertahkim kepada syariah.
Madinah sebagai pusat pemerintahan Islam pada saat itu tidak pernah dideklarasikan oleh Rasulullah SAW sebagai negara yang statis. Sebab, pemerintahan Islam tidak dibatasi oleh batas-batas wilayah dan teritorial.
Sepeninggal Nabi SAW, kepemimpinan beralih kepada Khulafaur Rasyidun. Pada masa ini wilayah kekuasaan Islam semakin luas, pengaruh politiknya semakin besar, harkat serta martabat kaum Muslim di mata dunia semakin tinggi.

Meskipun bentuk pemerintahan Islam telah berubah menjadi dinasti, tapi dakwah dan jihad tak pernah padam. Islam justru terus mengalami perkembangan yang menakjubkan. Bahkan Islam telah sampai ke daratan Eropa dan India.

Tugas Dakwah

Dakwah Islam melalui kekuasaan sangat efektif, terutama jika dikaitkan dengan peningkatan jumlah (kuantitas).

Namun mesti diingat, keinginan meningkatkan jumlah pengikut harus dilakukan melalui jalan dakwah dan pendidikan. Sebab, lewat kedua cara inilah masyarakat Muslim bisa bertambah maju.

Selain itu, tugas risalah hanya bisa dilaksanakan dengan tekad yang bulat disertai keikhlasan lilllahi taala. Dia-lah yang mendelegasikan tugas berat itu kepada kita, tanpa kecuali. Allah SWT berfirman:

Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah. (Ali Imran [3]: 110)

Tugas ini berlaku pada semua kaum Muslimin, baik laki-laki maupun perempuan. Artinya, tugas untuk menyeru manusia hanya menyembah kepada Allah SWT bersifat individual (infiradi). Dalam hal ini, semua Muslim, baik dalam keadaan siap atau tidak, berat maupun ringan, wajib menjalankannya, sebagaimana firman-Nya:

Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan merasa ringan atau merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kalian mengetahui. (At-Taubah [9]: 41)

Kaum Muslimin secara individu tidak boleh berpangku tangan ketika melihat kemungkaran terjadi di depan matanya. Dengan segala daya yang dimiliki, setiap individu Muslim wajib melakukan perubahan. Rasulullah SAW bersabda:

Barangsiapa yang melihat kemungkaran di antara kamu, maka ubahlah dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka ubahlah dengan lidahnya. Jika ia tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman. (Riwayat Muslim)

Berjamaah dan Berkuasa

Menyadari pentingnya kesamaan langkah antara seorang Muslim dengan Muslim lainnya dalam berjuang, maka kaum Muslimin di setiap penjuru membentuk kelompok-kelompok yang terorganisir. Ada yang sifatnya lokal, regional, ada juga yang bersifat transnasional. Tugas yang asalnya infiradi beralih menjadi jama’i.
Inisiatif berdakwah secara jama’i tersebut seiring dengan perintah Allah SWT:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung. (Ali Imran[3]: 104)

Penyatuan kekuatan individu dalam suatu jamaah merupakan suatu yang alamiah. Tanpa kekuatan jamaah mustahil kezaliman dan kemungkaran yang terorganisasi dapat dikalahkan. Apalagi jika kekuatan itu memiliki tentara, senjata, sekaligus penjara.

Umat Islam tidak boleh berjuang sendirian. Selain tidak alamiah juga tidak sesuai dengan sunnah.

Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk bersabar dalam menghimpun kekuatan umat, satu demi satu. Rasulullah SAW tidak frontal melakukan perubahan, apalagi perlawanan di saat kekuatan internal belum mencukupi.

Yang beliau lakukan adalah menghimpun kekuatan masyarakat yang terserak, yang termarjinalkan oleh sistem, masyarakat kalangan bawah atau mustadh’afin.

Justru, di balik kelemahan mereka terdapat energi besar, kekuatan raksasa yang bermanfaat untuk melakukan perubahan yang mendasar. Merekalah orang-orang yang paling siap mengorbankan apa saja yang dimiliki. Merekalah orang-orang yang setia dan loyal kepada pemimpin yang dipercayai.

Inilah “the secret” (rahasia) besar di balik kesuksesan dakwah Rasulullah SAW:

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi. (Al-Qashash [28]: 5)

Pada mulanya kaum kafir Quraisy mengolok-olok Muhammad SAW yang pengikutnya hanya terdiri dari orang-orang yang lemah (dhuafa) dan terlemahkan (mustadh’afin), sementara sebagian kalangan menengah dan atas tetap mengingkarinya. Olok-olok mereka terekam dalam al-Qur`an:

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman!” Mereka menjawab, “Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?” Ingatlah, sesungghnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak tahu. (Al-Baqarah [2]: 13)

Kelak mereka akan tahu bahwa sesungguhnya di balik kelemahan mereka ada kekuatan yang luar biasa. Bukti kekuatan mereka yang pertama ditampakkan oleh Allah SWT adalah perang Badar. Pada perang ini justru kaum Kafir Quraisy harus pulang dengan membawa kekalahan yang sangat memalukan. Pasukan Muslim yang lemah dan sedikit jumlahnya justru mendapatkan kemenangan yang gilang gemilang.

Begitu juga dalam perang Uhud dan perang Ahzab, kaum kafir dipermalukan oleh kekuatan kaum Muslimin yang dulunya sangat disepelekan. Kaum Kafir berkali-kali dipermalukan oleh orang-orang yang dianggap lemah.

Demi Kedaulatan Allah SWT

Jika usaha merangkul kaum lemah, memperbanyak pengikut dan anggota, melakukan kaderisasi yang intensif dan terencana, merebut hati khalayak masyarakat, dan membangun kepemimpinan yang kokoh dan mengakar itu disebut sebagai kegiatan politik, maka semua kegiatan tersebut harus menjadi agenda aksi harakah Islami.

Jika pada akhirnya agenda tersebut menghasilkan peralihan kekuasaan, maka kekuasaan itu sepenuhnya harus diabdikan untuk membangun kedaulatan Allah SWT di muka bumi.

Dorongan berkuasa tidak boleh bergeser dari misi utama menyelenggarakan dan merealisasikan kedaulatan Allah SWT di muka bumi.

Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi, dan Dialah yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui. (A-Zuhruf [43]: 84)

Wallahu a’lamu bish shawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.