Berusaha Kemudian Berserah, Bukan Diam dan Berangan-angan!

alhikmah.ac.id – Secara bahasa, istilah tawakkal berasal dari al-wakalah, yaitu penyerahan dan penyandaran. Orang ber-tawakkal kepada yang lain ketika hatinya merasa tenang dan percaya kepada yang disandarinya itu, tidak mencurigainya akan berbuat sembrono, dan tidak melihat adanya kelemahan maupun cacat padanya. Sedangkan menurut istilah syari’at, tawakkal adalah percaya (tsiqah) kepada apa yang ada di sisi Allah dan tidak mengharapkan apa yang ada di tangan selain-Nya, termasuk sesama manusia.Menurut Imam al-Baihaqi dalam Al-Jami’ Li Syu’abil Iman, tawakkal merupakan kewajiban seorang mukmin dan menjadi salah satu pertanda eksistensi iman di dalam hatinya. Di antara 77 cabang iman yang beliau uraikan dalam kitab tersebut, tawakkal adalah cabang ke-13. Ini sekaligus mengisyaratkan betapa pentingnya kedudukan tawakkal dalam akidah seorang muslim. Namun, karena tawakkal merupakan hakikat yang abstrak, ia sangat sering disalahpahami, yang kemudian melahirkan tindakan-tindakan yang salah pula.

Atas dasar ini, seorang mukmin sepenuhnya percaya bahwa rezekinya, nasibnya, bahkan hidup dan matinya, pada hakikatnya adalah dijamin oleh Allah; bukan oleh bos, atasan, majikan, suami, direktur, komandan, atau siapa pun yang lain; bukan pula oleh pabrik, lembaga pendidikan, bisnis, titel, pekerjaan, jabatan, atau apa pun yang lain. Alhasil, setiap kali ia mendapat gaji, bonus, dan rezeki maka seketika hatinya akan tersambung dan berterima kasih kepada Allah, bukan kepada yang lain. Karenanya pula ia tidak pernah lupa berbagi dan bersedekah dengan sebagian darinya, sebagai ekspresi syukur kepada Allah Sang Pemberi.

Keyakinan seperti inilah yang akan membuatnya berani dan tidak lembek. Ia takkan bisa ditekan untuk melakukan kemaksiatan oleh atasan maupun lembaga tempatnya bekerja, walau diancam akan dipecat jika menolak. Sebab, ia tahu bahwa rezeki datangnya dari Allah, bukan dari manusia. Prinsip serupa dipegangnya erat-erat dalam masalah jodoh, karier, pendidikan, dsb. Dengan kata lain, mestinya tawakkal menjadi energi positif yang membangun dan menegakkan sikap, bukan racun yang menghancurkan dan melumerkan prinsip.
Jadi, tawakkal sebenarnya tidak identik dengan pasrah, diam, atau mengalah; bahkan justru sebaliknya. Ayat-ayat tentang tawakkal di dalam al-Qur’an penuh dengan motivasi agar terus maju, pantang mundur, bekerja keras, dan tidak takut terhadap ancaman maupun rintangan yang menghadang. Misalnya, ketika Bani Israil gentar dan menolak maju ke medan perang karena melihat musuh-musuhnya yang sangat kuat, maka:

قَالَ رَجُلاَنِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُواْ عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang telah Allah beri nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu! Maka bila kalian memasukinya niscaya kalian akan menang! Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman!” (QS. Al-Ma’idah: 23)

Ayat-ayat yang menggugah semangat seperti ini dapat dibaca dalam berbagai surah yang lain, seperti Ali ‘Imran: 122 dan 159-160, al-Ma’idah: 11, at-Taubah: 51, Ibrahim: 11-12, an-Naml: 79, dsb. Bacalah secara utuh ayat-ayat lain yang terletak sebelum maupun sesudah ayat-ayat tersebut, niscaya kita akan mengerti bahwa anjuran Al-Qur’an untuk ber-tawakkal justru berarti maju terus dan yakin kepada janji Allah.

Memang patut disayangkan ketika tawakkal banyak disalahartikan. Akhlak Islam yang sebenarnya hendak meletupkan energi raksasa ini malah diubah menjadi buaian yang meninabobokkan. Di antara dalil yang sering disalahpahami adalah hadits shahih riwayat Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah berikut ini: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, pasti Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberikannya kepada burung-burung. Mereka berangkat di pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.

Dengan berdalih pada hadits ini, sebagian orang kemudian tidak berbuat apa-apa, lalu mengharap rezekinya turun dari langit, nasibnya berubah tanpa kerja keras, dan akalnya menjadi cerdas tanpa belajar. Padahal, kalau kita cermati baik-baik hadits diatas, ternyata burung tersebut tidak hanya mendekam di sarangnya. Ia terbang mengepakkan sayapnya lalu mendatangi tempat-tempat dimana rezekinya biasanya banyak terdapat. Lihatlah, bahkan burung yang tidak berakal pun bekerja keras untuk setiap suapan makanannya. Bagaimanakah manusia yang diberi akal dan ilmu rela duduk bermalas-malasan?

Ketidaktepatan lain yang sering muncul dalam memahami tawakkal adalah ketika ia disandingkan dengan “usaha”. Bahkan ada yang sengaja menjadikannya sebagai dua hal yang berlawanan. Seolah-olah orang yang bertawakkal tidak perlu berusaha, dan orang yang berusaha berarti tidak bertawakkal. Benarkah demikian? Terkait masalah ini, seorang tokoh Sufi termasyhur, yaitu Abu Muhammad Sahl bin ‘Abdullah at-Tustariy az-Zahid (w. 283 H) berkata, “Barangsiapa yang mencela usaha (al-iktisab) maka dia telah mencela Sunnah, dan barangsiapa yang mencela tawakkal maka dia telah mencela iman.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatu al-Auliya’). Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Tawakkal adalah keadaan jiwa (haal) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan usaha (al-kasab) adalah Sunnah beliau. Barangsiapa yang berada pada haal beliau, maka jangan sekali-kali meninggalkan Sunnahnya.” (Dikutip dari ar-Risalah al-Qusyairiyah).

Dengan kata lain, tawakkal adalah amalan hati seorang mukmin, sedangkan usaha adalah amalan fisiknya. Namun, betapa banyak orang yang memutar-balikkannya: hatinya berusaha dengan terus berangan-angan, sedangkan badannya bertawakkal dengan diam dan bersandar.Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.