Cegah Fitnah dengan Maksimalkan Tangggung Jawab Keluarga

alhikmah.ac.id – Mungkin baru kali ini dalam sejarah, seorang Walikota turun jalan mengawasi perkembangan moralitas anak-anak muda. Adalah Walikota Surabaya Tri Rismaharini membuat gebrakan dengan terjun langsung memimpin operasi penggerebekan Satpol PP di sejumlah lokasi dugem di Kota Surabaya. Kamis, 30 Agustus 2012, dini hari, ia ikut sebut razia anak-anak remaja Kota Surabaya di beberapa titik.

Razia yang digelar untuk menekan angka kejahatan trafficking selama Ramadhan hingga Lebaran. Yang mencengangkan, razia itu berhasil menjaring 216 anak baru gede (ABG) liar berpacaran di tempat-tempat sepi. Dari razia itu, seorang ABG positif pemakai narkoba, dan seorang lagi positif HIV.

Tri Rismaharini mengatakan, ABG itu terjaring di sejumlah lokasi yang rawan dijadikan tempat asusila seperti kafe, resto, warung remang-remang, lokasi wisata, kaki Jembatan Suramadu, dan taman kota yang disalahgunakan sebagai tempat pacaran.

Wali kota perempuan pertama di Surabaya itu dikenal memiliki perhatian lebih pada masalah sosial yang melanda anak di bawah umur. Bahkan dia kerap turun langsung ke lokasi saat razia berlangsung, dan tidak segan memarahi para ABG dan menemui kedua orangtuanya.

Risma mengaku juga kerap turun langsung ke sekolah-sekolah untuk menyosialisasikan bahaya pergaulan bebas, narkoba dan waspada aksi trafficking bagi anak-anak di bawah umur.

***

Masalah yang paling nyata namun belum direspon secara memadai adalah kerusakan moral remaja. Padahal, rusaknya generasi muda adalah pangkal hancurnya masa depan bangsa. Dan, ketidakpedulian kita terhadap kerusakan moral mereka merupakan langkah bunuh diri yang sangat mengerikan, yang dampaknya tidak saja kehinaan di dunia tetapi kesengsaraan di akhirat.

Sebuah riwayat mengisahkan, di zaman kejayaan Islam, intelijen musuh senantiasa menyelinap ke dalam komunitas umat Islam. Di antara mereka ada yang bertahun-tahun menyamarkan diri untuk mengetahui sisi kelemahan umat Islam yang bisa dimanfaatkan untuk dikalahkan dan dikuasainya.

Tetapi hasilnya nihil. Dalam waktu yang cukup lama mereka tidak menemukan satu celah pun untuk bisa mengalahkan umat Islam.

“Selama generasi muda umat Islam masih cinta memakmurkan masjid, berbicara tentang ilmu, jihad, amal sholeh, dan qiyamul lail, maka selama itu pula siapapun yang hendak mengalahkan umat Islam tidak akan pernah berhasil mencapai tujuannya,” demikian para intelejen musuh itu berkesimpulan.

Dengan kata lain, kekuatan dan kemajuan umat Islam di manapun nantinya ditentukan oleh akhlak dan moral generasi mudanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam adalah orang pertama di muka bumi yang sangat memahami potensi generasi muda. Selama masa dakwah, beliau sangat serius membina generasi muda. Di antara mereka bahkan ada yang dibina sejak dini.

Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, dan Ja’far bin Abi Thalib, dididik oleh Rasul sejak usia 8 tahun. Kemudian ada Arqam bin Arqam yang serius mengikuti kajian Rasulullah sejak usia 16 tahun. Demikian pula dengan Utsman bin Affan. Bahkan Usamah bin Zaid diangkat menjadi seorang jenderal angkatan darat pada usia 18 tahun.

Di masa sesudahnya, sinar generasi muda umat Islam juga sangat mengagumkan. Imam Syafi’i hafal Al-Qur’an pada usia 9 tahun. Dan, Muhammad Sulthan Al-Fatih menjadi panglima pasukan tempur pada usia 24 tahun.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa kekuatan umat Islam terletak pada kekuatan generasi mudanya. Jika iman mereka kuat, akhlak mulia adalah perangai mereka. Jika iman mereka rapuh, kebejatan adalah perangai mereka.

Seharusnya hari ini seluruh generasi muda umat Islam benar-benar kita arahkan untuk menjadi generasi yang berakhlak mulia. Agar tercipta generasi muda yang kuat, handal, tangguh, dan tidak memprioritaskan apapun dalam hidupnya, selain iman. Seperti pemuda Ashabul Kahfi.

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. 18 : 13).

Generasi Muda Masa Kini

Berbeda dengan hari ini, lini yang paling utama dalam kemajuan umat Islam (generasi muda) justru menjadi lini yang paling rapuh. Bukan rahasia lagi jika banyak muda-mudi umat Islam hari ini yang terjebak pergaulan bebas, narkoba, dan berbagai kebejatan moral lainnya.

Belum lagi kalau melihat budaya hari ini yang serba cepat dan mudah. Semua itu, berpotensi mempercepat remaja kita terjerumus pada kerusakan moral. Mulai dari hp, facebook, dan fasilitas komunikasi lainnya yang memungkinkan mereka secara lebih terselubung (tapi bebas) melakukan maksiat dan perbuatan keji lainnya.

Semua itu berdampak pada rendahnya kemampuan nalar generasi muda. Di berbagai daerah, termasuk ibu kota negara, tawuran menjadi tradisi para pelajar kita di tanah air. Bukan saja anak usia SMP, SMA, tetapi juga mahasiswa. Bayangkan, jika mahasiswa saja sudah ‘hobi’ tawuran, bagaimana masa depan bangsa ini.

Tanggung Jawab Siapa?

Pertanyaannya kemudian, siapa yang mestinya bertanggung jawab terhadap masalah serius ini. Apakah tanggung jawab pemerintah, ulama, atau justru kita semua sebagai keluarga, dan terkhususnya kedua orangtua.

Dalam Islam, jelas masalah generasi muda pertama adalah tanggung jawab kedua orang tua (keluarga). Coba lihat, menjelang petang hari, muda-mudi asyik berboncengan motor menuju tempat-tempat sepi. Bahkan dalam perjalanan menuju dan pulang sekolah di antara mereka banyak yang melakukan tindakan yang tidak seharusnya.

Apakah mereka keluar rumah tanpa sepengetahuan orang tua atau malah justru mendapatkan izin dari orang tuanya. Kita tentu tidak tahu pastinya, tetapi kewajiban utama orang tua, terutama ibu adalah membina anak-anaknya agar berakhlak mulia.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman; “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. 66 : 6).

Abu Hurairah meriwayatkan, berkata seorang laki-laki datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, lalu bertanya, “Ya Rasulullah, siapa orang yang paling berhak mendapat kebaikanku?”Rasulullah menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “kemudian bapakmu”.
Jadi, peran ibu sangat vital dalam keluarga, terutama dalam membentuk karakter dari anak-anak seluruh umat Islam di tanah air. Bisa dikatakan, jika ibu tidak sungguh-sungguh membekali anak-anaknya dengan iman dan akhlak mulia dengan memberikan teladan tentu akan rusaklah generasi muda kita.

Apalagi saat ini, sudah sangat langka seorang ibu yang benar-benar bisa menjadi teladan bagi putra-putrinya. Sebagian besar kaum ibu seperti lupa akan tanggung jawabnya. Di antara mereka ada yang sibuk mengejar karir, sehingga jarang di rumah dan otomatis jarang berinteraksi dengan putra-putrinya.

“Kalau wanita juga sibuk bekerja, rumah tangga kehilangan ratunya. Kalau wanita juga sibuk bekerja, anak-anak kehilangan pembina. Bukan salah remaja kalau mereka binal. Bukan salah mereka kalau tidak bermoral. Bukan hanya makanan bukan hanya pakaian, yang lebih dibutuhkan cinta dan kasih sayang,” sindir Rhoma Irama dalam bait lagunya Emansipasi Wanita.

Sebagian malah lebih naif lagi. Tidak sedikit kaum ibu yang online Facebook hampir 24 jam. Mengupload foto-foto dirinya ke jejaring sosial dengan gaya yang sudah tidak semestinya, dibanding menjaga anak-anak mereka.

Ifa Avianty dalam bukunya, “Bright Mom Menjadi Ibu Cerdas yang Mencerdaskan dengan Cara yang Cerdas” mengingatkan kaum ibu agar tidak lalai dalam membina diri dan anak-anaknya.

Pastikan setiap waktu yang ada diisi dengan hal-hal penting yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Jika ada waktu luang, jangan terperangkap dengan hal-hal yang kurang penting apalagi tidak penting (sia-sia).

Bahkan kaum ibu harus menutup rapat-rapat peluang masuknya hal-hal yang tidak penting dan tidak berpahala; bergosip, bicara hal-hal yang tidak penting, menonton tv atau mendengarkan siaran yang tidak penting.

Apakah kita mendapat manfaat dari mendengar gosip terbaru tentang si artis A hamil di luar nikah, misalnya? Lebih baik kita disebut tidak gaul dari pada berdosa (karena mengaminkan ghibah dan menyia-nyiakan waktu) dan otak kita teracuni virus-virus jahat.
Lebih lanjut Ifa menegaskan, jika semua ibu pandai memanfaatkan waktunya dengan baik, berbahagialah bangsa ini. Dan stasiun TV penyebar acara infotainment akan bangkrut semua.

Surga Dunia Akhirat

Saat itulah, generasi muda akan mendapat kasih sayang penuh dari sang ibu berupa cinta dan teladan mulia. Jika hal ini dicanangkan oleh semua kaum ibu di seluruh Indonesia, bukan tidak mungkin satu dekade kedepan bangsa ini akan memiliki generasi muda yang unggul dalam kebaikan dan kemajuan bangsa. Bahkan tidak saja di dunia tetapi juga di akhirat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam mengabarkan kepada kita bahwa, semua amalan manusia akan terputus kecuali tiga hal, satu di antaranya adalah anak yang sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya. Dengan demikian, mendidik anak kita menjadi anak yang sholeh adalah kebutuhan kita sendiri sebagai orang tua dan keluarga dan merupakan perintah agama.

Dengan kata lain, jika kita tidak memiliki anak yang sholeh berarti kita akan kehilangan pahala yang mengalir terus-menerus. Dan, itu kerugian yang sangat besar. Selain itu anak yang tidak sholeh biasanya selalu membuat masalah dalam kehidupan kita di dunia.

Apalagi kalau kemudian ketidaksholehan anak kita itu akibat kita sendiri yang lalai mendidik dan menjaganya, maka surga pun batal menjadi bagian kita. Sekalipun kita adalah seorang Muslim yang taat beribadah dan beramal sholeh.

Maka dari itu, peliharalah, bimbinglah, dan didiklah anak-anak remaja kita untuk menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Demikianlah, agar kelak mereka semua tidak menjadi fitnah dan “musuh” bagi kita semua.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS: At-Taghabun : 14).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.