Ciri-ciri Hati yang Unggul

alhikmah.ac.id – Pernahkah kita merasakan malas saat mengerjakan sesuatu padahalfasilitas  yang  kita  miiki  sudah  lengkap  dan  apa  yang  sedang  kitalakukan sebenarnya suatu hal yang sangat penting dan bermanfaat?

Pernahkah  kita  merasakan  futur (semangat menurun) saat  seseorang mengabaikan  kita,  tidak  memuji  serta  tidak  menghargai  hasil pekerjaan baik kita?

Di  sisi  lain,  pernahkah  kita  melihat  orang  yang  kehidupannya sederhana namun selalu nampak ceria, seolah-olah tidak pernah ada masalah  yang  melintas  dalam  hidupnya?  Fasilitas  belajar  ataupun kerjanya  yang  dimiliki  tidak  begitu  memadai  tapi  selalu  giat  dan berhasil?

Ia mendapat banyak teguran dan sindiran dari berbagai pihak namun dia tetap tegar. Semangat dan keikhlasaannya tidak sedikitpun tergoyahkan? Pernahkah?

Ketahulillah  bahwa  yang  membedakan  itu  semuanya  adalah  hati. Antara hati  yang sakit  dan hati  yang unggul.  Hati  yang sakit  selalu mengharapkan pemuasan segera, kekayaan yang segera dan pujian dari orang lain. Maka saat dia tidak memperoleh apa yang diharapkanakan mengalami depresi dan putus asa. Sedangkan hati yang unggul adalah yang selalu menggantungkan diripada Dzat Yang maha kaya, Dzat Yang dapat menentramkan hati, Dzat yang memberikan hikmah di balik setiap ujian dan cobannya.

Semua pasti mendambakan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup,namun perlu diketahui bahwa rasa bahagia dan damai itu letaknya di hati.

Maka  setiap  yang  menginginkannya  harus  memperhatikan bagaimana memiliki hati yang unggul.

Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri hati yang unggul

Pertama adalah  hatinya  merdeka.  Artinya  hatinya  bebas dari  kekangan  hawa  nafsu  dan  syahwat.  Bisyr  bin  Harist pernah mengatakan: ”Seorang  hamba  tidak  akan  mampu  merasakan nikmatnya  ibadah  sebelum  ia  mampu  membuat  tembok penghalang  dari  besi  yang  memisahkan  antara  dirinya  dan syahwatnya.” (Hilyatul Aulia, jil. VIII, hal. 345)

Kedua, hatinya  memiliki  rasa  “Yaqzhah”. Yaitu  berupa kecemasan  hati  tatkala  memperhatikan  tidurnya  orang-orang lalai. Rasa yaqzhah ini memiliki pengaruh besar dalam kehidupan seseorang, di antaranya:

a. Waspada  terhadap  melimpahnya  kenikmatan  yang  dapat menjerumuskannya kedalam kenistaan.

b. Selalu menghitung keburukannya, dan dikaitkan segala bentuk kerugian  yang  menimpanya  degan  dosa  yang  dilakukan.

Sebagaimana firman Allah :

قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكَ بِشَيْءٍ مُّبِينٍ

“Dan  apa  saja  musibah  yang  menimpa  kamu  Maka  adalah disebabkan  oleh  perbuatan  tanganmu  sendiri.” (QS.  Asy-Syura [26]: 30)

Rasulullah menafsirkan ayat di atas dengan sabdanya :

بنذب لإ نيع لو قرع جلتحإ ام

“Tidaklah urat dan mata itu gemeter melainkan kerena sebuah dosa.” (HR. Thabrani)

c.  Mewaspadai setiap kebaikan dan ketaatan yang melahirkan kebanggaan  dan  kesombongan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.