Islam Bukan Agama Vegetarian

alhikmah.ac.id – memperhatikan aktivitas gaya hidup serta pola makan manusia dari hari ke hari semakin mengerikan saja. Manusia menjadi makhluk pemakan segala hewan, sungguh keji!

Ada yang memakan otak monyet, sebelumnya monyet dibiarkan berlari-lari berloncatan di atas pemanggang panas yang bulat datar. Monyet kecil itu dibiarkan tegang kepanasan, ia berkelojotan, melonjak-lonjak sampai darahnya naik ke otak dan kemudian mati.

Ada pula yang mengonsumsi babi dengan cara ditusukkan dari liang lubang dubur sampai ke mulut. Babi dewasa tidak dipotong atau disembelih karena babi tidak memiliki leher pembuluh sebagaimana hewan ternak selembihan pada umumnya. Tidak cukup demikian, manusia memakan “babi susu,” yakni babi kecil alias bayi babi yang belum lagi cukup umur.
Kemudian ada yang memakan katak dengan cara lehernya dipotong setengahnya saja tidak dipenggal sampai putus. Lalu sebilah bambu yang telah diruncingkan ditusukkan tepat di saraf katak sampai ia tersentak mati meregang.

Ada pula yang mengonsumsi kucing, kura-kura, kuda, jangkrik, kelelawar, musang, hati harimau, paus, lumba-lumba, ular, biawak, ulat, cacing, kadal, lipan, kalajengking, cicak, tikus, janin bayi [sup plasenta], kotoran sapi, darah beku [marus], sup darah bebek, ekor babi, lebah madu, belalang, semut, iguana. Benarkah semua itu ataukah hoax berita bohong belaka. Tidak, itu benar adanya!

Sebagian manusia sudah tega memakan sembarang hewan [binatang] dengan pelbagai alasan dan tujuan, baik untuk tujuan kesehatan maupun alasan yang dibuat-dibuat seperti mengonsumsi “babi susu” yang katanya menambah stamina dan bikin awet muda. Bahkan kita pun sudah melihat ada manusia kanibal bernama Sumanto, pemangsa sesama manusia. Sumanto bukan satu-satunya manusia kanibal di bumi yang kita diami sekarang ini.

Sedangkan manusia yang suka memakan daging anjing. Terlebih dahulu anjing hidup dimasukkan ke dalam karung [goni], lalu dipukuli sampai mati. Alasannya supaya darah anjing yang mati mengental lebih enak dan lezat. Lebih tega dan menyedihkan lagi ada sebuah program televisi yang menyuguhkan tayangan “extreme kuliner.” Ini secara tidak langsung adalah bentuk dukungan sekaligus mendorong orang lain berbuat hal yang sama yakni ingin mencoba dan coba-coba.

Tradisi memakan makanan yang bagi sebagian orang terkesan “jijik” seram dan tidak mengundang faedah. Pada sebagian orang lagi barangkali berfaedah sesuai tradisi turun-temurun. Tidak ada pula maksud untuk menyinggung golongan tertentu. Melainkan memandang dari sisi manusianya saja. Haruskah manusia menghabisi seluruh makhluk hidup yang bernyawa terutama hewan yang lahir melalui rahim? Apa hewan yang lahir melalui rahim tersebut? Sebagian hewan ada yang seperti manusia. Lahir melalui jalan rahim bukan menetas dari telur. Sama-sama mengandung sebagaimana manusia mengandung seperti monyet, babi, kuda, sapi, lembu, dan seterusnya.

Hakikat Makan

Hakikat makan adalah menyerap energi. Makanan yang cocok ke tubuh akan diserap dengan baik oleh tubuh. Sesuai pengajaran Nabi Muhammad saw. “Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang. 1/3 makanan, 1/3 air, dan 1/3 lagi untuk oksigen. Dan makanlah makanan yang baik lagi menyehatkan bagimu.”

Sementara dalam falsafah Master Cheng Yen, Pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi terdapat prinsip “kenyang cukup 80%, dan 20% untuk sumbangsih.”

Mengapa orang yang berpostur tubuh, tingginya sama, berat badannya sama, usianya sama, pola makannya berbeda? Semua karena kebiasaan [habit] dan selera. Jadi, suatu makanan pun dapat mengundang selera sehingga menyebabkan makan jadi berlebihan. Setiap orang akan berbeda di dalam memperlakukan makanan.

Perhatikan bagaimana terkadang ada orangtua yang masih semangat bekerja sekalipun makannya sedikit. Sementara orang muda yang makannya banyak, lebih banyak mengkhayalnya ketimbang bekerjanya. Tentu tidak selalu demikian keadaannya. Prinsip yang selalu kita ingat adalah makan untuk hidup bukan hidup untuk makan.

Anjuran Vegetarian

Peminat dan pelaku vegetarian semakin hari semakin bertambah. Di kota-kota besar kaum vegetarian tidak lagi kesulitan mencari rumah makan yang khusus berbahan sayuran. Mereka yang memilih cara hidup vegetarian pada mulanya lebih kepada dorongan kesehatan dan kepedulian terhadap hewan, khususnya hewan ternak yang diperlakukan secara tidak manusiawi-hewani.

Sebagian hewan ternak dipaksa untuk cepat bertelur setiap hari dengan diberi pakan kimiawi, lalu ada pula sapi disuntikkan dan dimasukkan air serta banyak lagi kasus-kasus yang sungguh menyedihkan. Sekalipun Allah SWT sudah menciptakan hewan untuk dikonsumsi manusia. Allah juga memperingatkan agar memperlakukan secara baik hewan tersebut.
Allah SWT berkata:

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ وَلاَ طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلاَّ أُمَمٌ أَمْثَالُكُم مَّا فَرَّطْنَا فِي الكِتَابِ مِن شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” [QS Al-An’am (6):38]

Dalam ayat lain disebutkan;

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

“Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.” [QS An-Nur (24):41]

Karena alasan inilah sebagian kaum vegetarian lebih memilih memakan tumbuhan daripada hewan. Sering juga kita mendengar mereka yang vegetarian lebih sehat. Pendapat ini tidak selalu benar. Sebab, intinya adalah jangan berlebihan di dalam mengonsumsi sesuatu dan hiduplah dalam pola yang seimbang.

Berdasarkan kumpulan catatan sebagaimana yang sudah sering ditulis tipe vegetarian antara lain:

• Vegan, sama sekali tidak makan daging merah dan putih, termasuk ikan dan produk turunan olahannya seperti keju, susu, keju, minyak dan seterusnya. Tidak ada keterangan pasti apakah kaum vegan ini tidak menggunakan sabun mandi, dan lain sebagainya. Pendek kata, semua yang terbuat dari hewan dan olahan ditolak.

• Lacto Vegetarian, tidak mengonsumsi daging merah, daging putih, telur. Tetapi mengonsumsi susu.

• Lacto Ovo Vegetarian, tidak makan semua jenis daging dan masih makan telur dan minum susu.

• Pesca Vegetarian, tidak makan daging merah dan masih mengonsumsi telur, susu dan ikan.

• Flexitarian, sesekali makan daging dan produk olahannya.

• Frutarian, khusus mengonsumsi buah-buahan, biji-bijian seperti kacang-kacangan yang kaya vitamin E yang terdapat pada kacang kedelai yang berguna untuk kecantikan kulit.

• Raw Foodist, mengonsumsi makanan mentah karena beranggapan bahan makanan yang dimasak sudah tidak alami dan merusak makanan itu sendiri.

Mari kita cerna sedikit istilah “vegetarian” berasal dari “vegetas” yang bermakna “sehat dan segar.” Dalam kamus Bahasa Inggris Oxford, vegetarian adalah orang yang berpantang dari makanan hewani.

Tulisan ini tidak bermaksud ditujukan untuk suatu kaum/agama tertentu. Kita tidak dapat mengatakan agama Buddha penganut vegetarian. Orang yang beragama Nasrani ada yang bervegetarian, orang Muslim pun ada yang bergevetarian. Bahkan orang miskin pun ada yang “flexitarian” sesekali makan daging dan produk olahannya. Jadi, bukan karena kepercayaan atau iman yang menyebabkan vegetarian melainkan faktor ekonomi.

Sudah terlanjur ada pandangan bahwa orang vegetarian adalah orang baik. Benarkah demikian? Sebaliknya orang yang non-vegetarian dianggap agresif dan permissif. Karena untuk menjadi orang baik bukan karena kelahiran ataupun karena makanan melainkan karena latihan, melatih diri.

Apakah orang Islam boleh menjadi vegetarian? Boleh. Landasannya apa? Bisa karena alasan kesehatan, bisa pula karena alasan memang ia tidak cocok makan daging sekalipun daging adalah sesuatu yang sangat dihalalkan. Semisal ada orang yang tidak bisa makan nenas, nangka, durian karena alasan kesehatan. Padahal nangka, nenas, durian [king of fruits] adalah selain enak juga dibolehkan/halal. Jadi, tidak serta-merta orang Muslim yang bervegetarian dianggap “sesat” telah menyimpang dari ketentuan agama. Begitulah kira-kira gambaran seseorang yang memilih bervegetarian.

Tentu ada lagi alasan-alasan lainnya seperti ingin ikut melestarikan bumi karena misalnya beranggapan satu di antara sekian banyak terjadinya penggundulan hutan dan penebangan pohon karena dibukanya lahan baru untuk peternakan [farm].

Islam hanya melarang makan daging yang disembelih bukan atas nama Allah dan binatang yang dicekik, dipukul, jatuh, ditanduk, binatang yang telah dimakan binatang buas, dan binatang persembahan untuk berhala.

Ada juga anggapan dan sudah terlanjur keliru bahwa orang yang tidak suka makan daging dianggap aneh dan tidak biasa sekalipun itu dihalalkan. Bagaimana dengan orang yang tidak makan jenis tumbuhan/tanaman/sayur tertentu.

Apakah dapat dipandang aneh orang yang tidak suka makan salad, padahal salad isinya sayur semua. Sebuah campuran salad besar umumnya tersusun dari bahan: daun bayam segar mentah, tomat, wortel, mentimun, bawang merah, bawang putih segar, biji bunga matahari, biji wijen, biji labu, biji rami, kacang pinus sedikit panggang, saus minyak zaitun organik, cuka, lezat!

Allah SWT berkata:

وَهُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِراً نُّخْرِجُ مِنْهُ حَبّاً مُّتَرَاكِباً وَمِنَ النَّخْلِ مِن طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِّنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهاً وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ انظُرُواْ إِلِى ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ إِنَّ فِي ذَلِكُمْ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan Maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” [QS Al-An’am (6):99].

Saat ini hampir setiap hari setidaknya kita memiliki pola makan daging. Sebagai seorang Muslim yang telah memilih untuk menjadi seorang vegetarian mungkin akan menghadapi pertanyaan yang membingungkan karena sebelumnya tidak ada ulama yang memperkenalkan konsep vegetarian. Kalau soal bagaimana Islam harus memenuhi hak-hak binatang [hewan], kesehatan dan kesejahteraan hewan itu jelas disebutkan dalam Al-Quran dan sejumlah hadits.

Karena itu, apabila ada saudara-saudara kita yang Muslim menganut pola hidup vegetarian lalu kita respons negatif. Seakan memilih tidak makan daging disamakan dengan ‘haram’ [terlarang]. Tentu hal ini tidak baik dan keliru juga. Hal ini sama jika ada pertanyakan apakah bisa kita mengharamkan semua sayuran dan buah-buahan yang kita tidak pernah makan dan tidak suka memakannya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.