Jalan Buntu

alhikmah.ac.id – “Semakin jiwaku stress semakin aku lari ke obat-obatan yang memabukkan,” kata Ali, seorang muallaf (32 th). “Aku tahu bahwa itu hanya pelarian sementara,” katanya lebih lanjut. Pernyataan ini aku temukan di halaman akhir majalah Ar-Risalah terbitan The Islamic Cultural Center of New York.

Dalam berbagai kesempatan di kota-kota yang sempat aku kunjungi di Amerika Serikat, aku selalu menekankan pentingnya menghidupkan jiwa. Bahwa Allah swt. menciptakan manusia dengan dua dimensi: ruhani dan jasmani. Kebutuhan manusia bukan hanya jasmani. Tetapi lebih dari itu, ada kebutuhan ruhani yang harus dipenuhi.

Selama ini manusia terlalu mudah mengabaikan kebutuhan ruhani, padahal Allah swt. dalam Al-Qur’an selalu menekankan kaharusan memenuhi kebutuhan ruhani. Diutusnya nabi-nabi sepanjang sejarah adalah untuk mengajarkan bagaimana memberi makan ruhani. Apapun megah pencapaian manusia secara materi, bila ruhaninya kosong ia pasti akan menderita.

Bila ruhani menderita, seringkali orang-orang mencari pelarian instant, dengan mabuk-mabukan atau mengurung diri di tempat-tempat hiburan. Mereka mengira bahwa cara seperti itu akan menyelesaikan masalah. Padahal justru semakin memperbesar masalah. Pengalaman Ali di atas adalah contoh pengakuan yang tidak bisa dipungkiri siapapun.

Di kota New York contoh manusia yang sudah merasa jenuh dengan materialisme hampir setiap hari kita saksikan. Kemapanan hidup dunia, tanpa diimbangi dengan kemapanan ruhani sungguh tidak akan memberikan penyelesaian apapun terhadap permasalahan kemanusiaan yang terus berkembang. Manusia bukan hanya butuh makanan fisik, ia juga butuh makanan ruhani.

Saat aku menyusuri pojok-pojok kota di Amerika Serikat, seringkali aku menemukan nenek tua yang duduk sendirian di pinggir jalan, tanpa kerabat dan famili. Kebutuhan fisik mereka telah ditanggung oleh negara. Bagi mereka ada rumah-rumah jompo dengan segala fasilitas yang dibutuhkan. Tetapi mereka tidak hanya butuh itu. Mereka butuh perhatian kerabat dan suara-suara anak kecil yang lucu. Semua itu tidak mereka temukan. Karena itu seringkali aku dengar mereka berkata, “Sebaiknya aku tidak punya anak, sebab capek-capek punya anak, setelah itu mereka akan meninggalkanku.” Benar, pengakuan ini terjadi. Anak-anak mereka setelah besar tidak akan pernah mengurus orang tua yang melahirkan. Mereka akan terputus baik secara emosional maupun kekerabatan. Mereka akan sibuk mengurus diri mereka sendiri sampai mereka mengalami masa tua.

Karena itu mereka suka memelihara anjing. Bisa jadi anjing bagi sebagian kalangan lebih mahal daripada anak. Sebab ia selalu menemaninya. Lain halnya dengan anak yang sibuk dengan dirinya sendiri. Bahkan ada kejadian lucu, pernah seseorang meninggal dunia, anjingnya mendapatkan harta warisan lebih banyak dari pada anaknya. Dan memang aku sering menyaksikan orang-orang berduaan dengan anjingnya dalam mobil-mobil yang mereka kendarai.

Inilah kenyatan rumah tangga masyarakat yang jauh dari tuntunan Allah swt. Mereka tidak tahu bagaimana cara mengelola rumah tangga sesuai dengan fitrahnya. Akibatnya berbagai penyimpangan terjadi tak terkendali. Dan sudah begitu banyak di antara mereka yang menikah sesama jenis. Itulah yang dikenal dengan kaum gay atau lesbian.

Salah seorang kawan yang masih belajar di Chicago menceritakan melalui telepon bahwa rumah tangga di Amerika baru akan langgeng setelah mencapai periode ketiga. Artinya untuk pernikahan pertama dan kedua itu sangat rentan. Kemungkinan terjadinya perceraian tidak bisa dihindari. Mereka terbiasa hidup dengan gaya boyfriend atau girlfriend. Suka sama suka dan senang sama senang.

Mengapa periode ketiga, sebab biasanya pada periode itu mereka sudah tua. Mereka tidak lagi berpikir main-main. Mereka sudah jenuh dengan kehidupan dunia. Di benak mereka tidak ada lagi kecuali hanya menunggu kematian.

Sungguh bukan saatnya lagi umat Islam sekarang ini sibuk menggerogoti keimanan yang mereka punyai sendiri. Umat Islam harus segera bangkit dengan risalah yang Allah swt. ajarkan. Menampilkan Islam dengan benar. Bukan malah ikut-ikutan mereka yang bingung.

Sayangnya kini banyak umat Islam ikut-ikutan bingung. Mereka tidak menjaga iman yang telah mereka punya. Mereka malah memilih cara hidup seperti mereka. Akibatnya mereka mengalami hal yang sama. Hanya namanya saja mereka muslim, tetapi mereka tidak pernah menikmati Islam.

Bila orang-orang Islam mau jujur menampilkan Islam, aku yakin Islam adalah alternatif yang selama ini mereka cari. Mereka sebenarnya sudah lama mencari Islam. Tetapi sayangnya umat Islam tidak bisa mencontohkan cara ber-Islam yang indah dan penuh kedamaian. Akibatnya yang sampai kepada mereka bukan gambaran Islam yang memikat, melainkan gambaran Islam yang menakutkan dan penuh permusuhan. Wallahu a’lam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.