Keikhlasan, Penentu dalam Barisan Dakwah

alhikmah.ac.id – Di masyarakat dikenal istilah, “Teman senasib seperjuangan”. Istilah ini biasa dipakai dalam ikatan persahabatan dan ikatan di masa-masa awal perjuangan. Bisa terjadi pada hubungan ikatan pertemanan sekolah, ikatan kerja bahkan ikatan dalam perjuangan dakwah.

Masa-masa awal perjuangan biasanya adalah masa-masa manis penuh kenangan yang tak mudah begitu saja dilupakan. Maklum, masa awal biasanya penuh perjuangan, prihatin bahkan berdarah-darah.

Seseorang/kelompok/perusahaan/lembaga bisa menjadi besar karena melewati masa-masa manis seperti ini. Namun jangan keliru, kadangkala, perjalanan manis itu banyak pula berbuah petaka yang justru menyebabkan perpecahan di saat masa-masa sulit sudah terlewati.

Berapa banyak orang/kelompok/perusahaan pecah justru di saat mereka berada di posisi puncak? Begitu pula yang terjadi pada kelompok-kelompok yang bergelut pada lembaga dakwah dan perjuangan umat.

Ikhlas, iman dan Thagha’

Salah satu pengganggu utama dalam perjuangan dakwah adalah masalah keikhlasan. Tidak sedikit orang berubah pandangan dalam perjuangan dakwah justru karena godaan yang satu ini. Tidak sedikit orang pecah dalam wadah perjuangan hanya karena faktor keikhlasan.

Bahkan karena faktor-faktor kecil dan sepele saja, melupakan tujuan utama dakwah dan sejarah perjuangan masa lalu mereka yang telah dikumpulkan dengan berdarah-darah. Urusan jabatan, perbedaan tugas, kewajiban, gaji, perolehan dll serta penyakit yang masuk kategori thaqha (melampau batas) dan jenis penyakit hati, bisa mengganggu dan membuat berubahnya seseorang dalam perjuangan dakwah.

Sesungguhnya, orang beriman itu lahir dan batinnya tidaklah ada perbedaan. Karena iman itu perpaduan dari amalan hati, lisan dan anggota tubuh. Jika iman sudah merasuk ke lubuk hati yang paling dalam, ketulusan dan kesejukan hati akan muncul. Maka bahaya laten virus ruhani “takatsur” (saling berebut pengaruh, jabatan, lahan pekerjaan, berebut massa dll) yang menjadi pintu masuknya tiga penyakit berbahaya  (thoma’ yang diwariskan oleh Adam, sombong yang diwariskan oleh setan dan hasud yang diwariskan oleh Qabil) akan lenyap.

إِيَّاكُمْ وَالْكِبْرَ فَإِنَّ إِبْلِيْسَ حَمَلَهُ الْكِبْرُ أَلاَّ يَسْجُدَ ِلآدَمَ وَإِيَّاكُمْ وَالْحِرْصَ فَإِنَّ آدَمَ حَمَلَهُ الْحِرْصُ عَلَى أَنْ آكَلَ الشَجَرَةَ وَإِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ ابْنَيَ آدَمَ قَتَلَ أَحَدُهُمَا اْلآخَرَ حَسَدًا هُنَّ أَصْلُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ (رواه ابن عساكر عن ابن مسعود رضي الله عنه)

“Waspada dan jauhi al-kibr (sombong), karena sesungguhnya Iblis terbawa sifat al-kibr sehingga menolak perintah Allah subhanahu wa ta’ala agar bersujud (menghormati) kepada Adam ‘alaihis salam. Waspada dan jauhi al-hirsh (serakah), karena sesungguhnya Adam ‘alaihis salam terbawa sifat al-hirsh sehingga makan dari pohon yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Waspada serta jauhi al-hasad (dengki), karena sesungguhnya kedua putra Adam ‘alaihis salam salah seorang dari keduanya membunuh saudaranya hanya karena al-hasad. Ketiga sifat tercela itulah asal segala kesalahan (di dunia ini).” (HR Ibnu Asakir dari Ibnu Masud, dalam Mukhtaru al-Ahadits).

Jadi, iman, thagha (melampui batas)  termasuk penyakit hati lain tidak akan dapat dikompromikan dan dipersandingkan hingga hari kiamat.  Iman dan thagha bagaikan air dan minyak tanah. Benturan peradaban yang dibangun dengan hawa nafsu dan peradaban yang dibangun di atas nilai-nilai keikhlasan akan terus berlangsung secara permanen.

انْ لَمْ تُشْغِلْ نَفْسَكَ باِ لطاعَةِ شَغَلَتْكَ باِلْمَعْصِيَةِ

Imam Syafii mengatakan, ”Jika jiwamu tidak sibuk dalam ketaatan, maka akan menyibukkanmu dalam kemaksiatan.”

Karenanya, mustahil, ada dua perbuatan bertemu saling kontradiktif (bertentangan) satu sama lain dalam satu rongga hati. Sebagaimana tidak mungkin menyatunya al Haq dan al Bathil. Kebohongan dan kejujuran, keaslian dan kepalsuan, keikhlasan dan riya’ serta sum’ah.

مَّا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِّن قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ

“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya …”(QS. Al Ahzab (33) : 4).

Sekalipun thagha dan penyakit hati itu abstrak, kita tidak dapat mendeteksinya, tetapi efek yang ditimbulkannya dapat dirasakan dan menimbulkan kontaminasi lingkungan sosial. Tagha disamping memberikan dampak negatif kepada pelakunya, pula berdampak sosial. Kelemahan apapun tidak dapat menghalangi seseorang untuk membangun sinergi kepada yang lain, kecuali kelemahan thagha. Kita, sulit menyerap konsep perjuangan kita, kemungkinan di dalam diri kita masih bersemayam sikap thagha.

Indikator Keikhlasan

Ada beberapa indikator perilaku thagha itu nampak pada pelakunya dan bagaimana ia menyikapi dan menempatkan dirinya dan pandangannya ia dalam menyikapi dan menempatkan orang lain. Di antara beberapa indikator yang dijadikan standarisasi bahwa seseorang itu terbebas dari penyakit thagha.

Pertama: Khawatir terhadap popularitas dan keharuman nama pada dirinya dan agamanya, terutama jika ia termasuk orang yang berpotensi. Ia meyakini sepenuh hati bahwa Allah menerima amal berdasarkan niat (motivasi intrinstik)  yang tersimpan di dalam batin,  tidak dengan penampilan dan asesoris lahiriyah. Ia juga meyakini sekalipun ketenaran namanya telah tersebar ke seluruh penjuru, ke sudut-sudut kota dan perkampungan, namun tidak seorangpun yang bisa dijamin dapat membebaskan dan menebusnya serta menyelamatkannya dari siksa neraka.

Fenomena inilah yang menyebabkan ulama salaf dan orang-orang shalih sebelum kita takut terhadap fitnah ketenaran, tipuan pangkat, keharuman nama, dan mereka juga memperingatkan kepada murid-muridnya dari hal-hal tersebut. Imam Al-Ghozali telah meriwayatkan beberapa kisah tentang hal ini.

Ibrahim bin Adham (putra mahkota yang lebih memilih tinggal di pondok pesantren), berkata : Tidak akan jujur kepada Allah Subhanahu Wata’ala orang yang mencintai ketenaran.

Sulaim bin Hanzhalah berkata:  Saat kami berjalan di belakang Ubai bin Kaab ra tiba-tiba Umar ra melihatnya, lantas Umar mengangkat cemeti yang diarahkan kepadanya. Maka Umar berkata, Wahai Amirul Mukminin, apa yang hendak kamu lakukan? Umar ra menjawab: Ini merupakan kehinaan bagi yang mengikuti dan yang diikuti.

Kisah tersebut menggambarkan ketajaman pandangan Umar bin Khathab tentang suatu fenomena yang awalnya terlihat sederhana, namun dapat mengakibatkan terjadinya hal serius dan berdampak krusial dalam diri orang-orang yang mengikuti dan dalam diri para pemimpin yang diikuti.

Al Hasan meriwayatkan bahwa pada suatu hari Ibnu Masud keluar dari rumahnya, lantas beberapa orang berjalan di belakangnya (mengikutinya). Maka ia menoleh kepada mereka seraya berkata: Kenapa kalian mengikutiku? Demi Allah, andai kalian mengetahui apa yang kurahasiakan, tentu tiada dua orang pun dari kaian yang mau mengikutiku.

Al Hasan berkata: Sesungguhnya suara sandal di sekitar orang dapat menggoyahkan hati orang yang bodoh.

Pada suatu hari Al Hasan keluar dari rumah, lantas diikuti oleh banyak orang. Maka ia berkata kepada mereka : Aapakah kalian mempunyai suatu keperluan? Bila tidak ada keperluan maka bukankah hal ini dapat menjadikan hati orang beriman berbelok dari arah yang lurus?

Abu Ayyub As-Sikhtiyani keluar untuk melakukan sebuah perjalanan, lalu beberapa orang mengikuti dari belakangnya. Maka ia berkata : Andai aku tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui hatiku membenci hal ini, tentu aku takut kemurkaan Allah Subhanahu Wata’ala.

Ibnu Masud berkata: Jadilah kalian sebagai sumber mata air ilmu, lampu-lampu (cahaya) petunjuk, yang menetap di rumah-rumah, pelita di waktu malam yang hatinya selalu baru, dan yang kusut pakaiannya. (Jadilah kalian) orang yang dikenal oleh penduduk langit, tetapi tersembunyi dari penduduk bumi.

Fudhail bin ‘Iyadh berkata: Bila kamu mampu menjadi orang yang tidak di kenal, maka lakukanlah. Sebab apa kerugianmu bila kamu tidak dikenal? Apa kerugianmu bila tidak dipuji? Dan apa kerugianmu bila kamu menjadi orang yang tercela di hadapan manusia, tetapi terpuji di hadapan Allah?

Riwayat-riwayat diatas jangan dipahami secara sempit dan sepotong-sepotong. Bukan dipahami sebagai seruan untuk ‘uzlah (mengisolir diri), sebab orang-orang yang meriwayatkan kisah-kisah di atas adalah tokoh-tokoh dai yang  terjun di lapangan kehidupan, bergaul dengan masyarakat, para pemandu kebaikan yang memiliki pengaruh yang signifikan dalam memberikan arahan dan bimbingan di tengah-tengah masyarakat.

Akan tetapi secara keseluruhan harus dipahami sebagai kewaspadaan, terhadap syahwat jiwa yang tersembunyi, dan kehati-hatian terhadap pntu-pintu dan jendela-jendela yang dapat dilalui setan menembus hati nurani.

Pada prinsipnya popularitas itu bukan suatu hal yang tercela, sebab tiada yang lebih terkenal melebihi dari para Nabi dan Khulafaur Rasyidin. Karena itu, ketenaran yang tidak dipaksakan (tidak disengaja) dan bukan didasari oleh ambisi, tidak dipandang sebagai suatu cacat.

Imam Al Ghozali mengatakan : (Ketenaran itu) fitnah bagi orang-orang yang lemah (keimanan), dan tidak demikian bagi orang-orang yang kuat (keyakinannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala).

Kedua: Orang yang ikhlas selalu menuduh dirinya teledor dalam menunaikan hak-hak Allah Subhanahu Wata’ala dan teledor dalam melakukan berbagai kewajiban. Hatinya tidak dirasuki oleh perasaan ghurur (tertipu) dan kekaguman terhadap diri sendiri, bahkan ia selalu takut jika kesalahan-kesalahannya tidak diampuni, dan amal shalihnya tidak diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Dahulu, sebagian orang shalih menangis pilu saat sedang sakit, lalu sebagian orang menjenguknya dan bertanya : Mengapa engkau menangis? Padahal engkau ahli puasa dan shalat malam, engkau telah berjihad, bersedekah, berhaji, mengajarkan ilmu, dan berdzikir. Ia enjawab : Siapa yang dapat menjamin bahwa itu semua memperberat timbangan amal baikku, dan siapa yang menjamin bahwa amalku di terima di sisi Tuhanku? Sedangkan Allah berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَاناً فَتُقُبِّلَ مِن أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. berkata Habil : “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS: Al Maidah (5) : 27).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.