Koalisi Politik Dalam Sirah Nabi SAW

PENDAHULUA

alhikmah.ac.id – Ikhwan wa akhwat fiLLAH, ana membaca ada beberapa tulisan dari sebagian saudara-saudara kita kaum muslimin, yang menyatakan bahwa melakukan KOALISI-POLITIK dengan kelompok yang tidak Islami (sekuler) atau bahkan kelompok di luar Islam adalah perbuatan bid’ah yang tidak pernah dilakukan oleh nabi SAW dan merupakan perbuatan yang HARAM karena telah menjual aqidah dan TALBISUL HAQQ BIL BATHIL, apakah benar demikian?

Oleh sebab itu untuk membahas permasalahan ini ana ringkaskan dari tulisan dari salah seorang pakar SIRAH-NABAWIYYAH, Syaikh Munir Muhammad al-Ghadhban dalam kitabnya At-Tahalluf As-Siyasi fil Islam, yang membeberkan bagaimana Nabi SAW dalam hadits-hadits shahih telah melakukan berbagai Kompromi dan Koalisi Politik dengan Non-Muslim sekalipun, sepanjang tujuannya adalah memperkuat kedudukan gerakan Islam yang masih lemah.
Deal-deal serta koalisi politik yang dilakukan oleh Nabi SAW ini jelas-jelas tercatat dalam sejarah, dan dilakukan periode Fathul Makkah (penaklukan kota Makkah). Oleh karenanya sepanjang koalisi tersebut dilakukan dengan niat yang ikhlas dan dengan tujuan yang jelas menguntungkan bagi bargaining-position gerakan islam dan tidak melanggar koridor-koridor syar’i maka tidak dilarang untuk dilakukan. Untuk selanjutnya mari kita simak penuturan Syaikh Al-Ghadhban yang disusun secara runut, ilmiah dan didasarkan pada nash-nash syar’i yang kuat dan shahih serta dengan pembahasan yang mendalam dan tidak asal memvonis, berikut ini…
DEFINISI
1. Secara bahasa Arab (lughah) at-Tahaluf (kompromi) berasal dari kata al-Hilfu yang artinya perjanjian untuk saling menolong, ia berasal dari kata halafa-yahlifu-hilfan. Dalam bentuk kalimat dikatakan hilfuhu fulan fayakunu halifuhu (Fulan berjanji dengan fulan maka ia menjadi sahabatnya). [1].
2. Secara syara’ maknanya pun sama, dalam hadits nabi SAW disebutkan dari Ashim ra:
“Aku berkata kepada Anas bin Malik : Apakah telah sampai kepadamu bahwa nabi SAW bersabda: “Tidak ada hilfu dalam Islam.” Maka jawab Anas ra: “Bahkan Nabi SAW telah mengambil sumpah suku Quraisy dan Anshar dirumahku.” (HR Bukhari bab Laka al Adab, hal 78 dan bab al-Ikha wa Halaf juz 8/26, cet Dar asy-Syatibi).

PERJANJIAN-PERJANJIAN JAHILIYYAH DIMASA SEBELUM KENABIAN YANG DIDUKUNG OLEH NABI SAW

1. Perjanjian Muthayyibin, yaitu perjanjian antara kabilah Bani Abdud Dar, Bani Jamah, Bani Salim, Bani Makhzum dan Bani Adi, yaitu untuk tidak saling berebut kekuasaan atas Ka’bah yaitu dengan memasukkan masing-masing tangannya ke dalam mangkok berisi minyak wangi dan mengusapkannya ke Ka’bah sehingga dinamakan Muthayyibin (orang-orang yg memakai minyak wangi). Tentang ini nabi SAW bersabda:
“Aku menyaksikan berlangsungnya al-Muthayyibin, aku tidak ingin membatalkannya walaupun aku hanya diberikan kekuasaan atas binatang ternak.” (HR Ahmad dalam al-Musnad, juz-I hal 190 dan 193).
Dan ketika nabi SAW menaklukkan Makkah (fathul Makkah) dan sedang duduk di Masjidil Haram, Ali ra berkata:
“Wahai RasuluLLAH, kita telah menguasai kunci Ka’bah dan air zam-zam.” Lalu nabi SAW berkata: “Dimana Usman bin Thalhah? Ini kuncimu, ambil kunci ini selamanya dan tidak akan merebutnya kecuali orang yang aniaya.” (Sirah an-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, juz-II, hal. 412)

2. Perjanjian Fudhul, yaitu perjanjian antara Bani Hasyim, bani Muthalib, bani Asad bin Abdul ‘Uzza, bani Zuhrah bin Kilab dan bani Taim bin Murrah untuk tidak membiarkan kezaliman di kota Makkah baik terhadap penduduk pribumi maupun terhadap pendatang (Sirah an-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, juz-I, hal 133-134). Tentang ini nabi SAW bersabda:
“Aku telah menyaksikan perjanjian Fudhul di kediaman AbduLLAH bin Jad’an, perjanjian yang tidak akan aku batalkan walaupun aku hanya diberi kekuasaan atas binatang ternak. Dan sekiranya perjanjian itu dilaksanakan pada masa Islam, maka aku akan menyetujuinya.” [2]

Referensi:
[1] Mu’jam Maqayis al-Lughah, Ahmad bin Fariz bin Zakaria, BAB ha, lam, fa; juz-2 hal 97-98.
[2] Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq (seorang tsiqat tapi tadlis) dari Muhammad bin Zaid bin Muhajir (tsiqat) dari Thalhah bin Abdullah bin Auf (tsiqat) seorang tabi’in. Hadits ini mursal tapi ketadlisan Ibnu Ishaq tidak melemahkannya, karena Ibnu Ishaq tidak tadlis dalam hadits ini hanya menyebutkan sanadnya. Dan juga telah diriwayatkan melalui jalur lain dari Humaidi dari Sufyan dari Abdullah dari Muhammad dan Abdirrahman, keduanya anak dari Abubakar ra.

Jawaban dari beberapa sanggahan

1. Bahwa pertama, dalam hadits Anas ra (HR Bukhari bab Laka al Adab, hal 78 dan bab al-Ikhawa Halaf juz 8/26, cet Dar asy-Syatibi), Anas ra menafikan perkataan sahabat Ashim ra yang menyatakan bahwa nabi SAW menolak adanya KOALISI/KOMPROMI dalam Islam, dengan argumennya : “Bahkan nabi SAW telah mengambil sumpah suku Quraisy dan Anshar dirumahku.”

2. Bahwa dalam hadits kedua tentang tanggapan nabi SAW terhadap perjanjian AL-MUTHTHAYYIBIN (yang notabene dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy/bukan oleh Islam), nabi SAW mengomentarinya dengan sabdanya : “Aku menyaksikan berlangsungnya perjanjian al-Muthayyibin, aku tidak ingin membatalkannya walaupun aku hanya diberikan kekuasaan atas binatang ternak.” (HR Ahmad dalam al-Musnad, juz-I hal 190 dan 193). Hal ini dengan jelas menjadi dalil bahwa perjanjian yang dilakukan oleh kelompok sekular atau non muslim sepanjang tidak bertentangan dengan syariat Islam maka boleh didukung oleh kaum muslimin, karena prinsipnya adalah BERTENTANGAN ATAU TIDAK DENGAN SYARIAT dan bukan siapa yang melakukan perjanjian tersebut.

3. Pada peristiwa perjanjian FUDHUL, nabi SAW juga mendukungnya, walau perjanjian tersebut dilakukan oleh kaum musyrikin, karena tidak bertentangan dengan syariat dan ada maslahatnya untuk Islam dan kaum muslimin, dengan sabdanya : “Aku telah menyaksikan perjanjian Fudhul di kediaman Abdullah bin Jad’an, perjanjian yang tidak akan aku batalkan walaupun aku hanya diberi kekuasaan atas binatang ternak. Dan sekiranya perjanjian itu dilaksanakan pada masa Islam, maka aku akan menyetujuinya.” (Lihat lagi bahasa yang lengkap terhadap hadits ini dalam postingan saya yang lalu)

Hal yang sama juga menjadi dalil bagi gerakan Islam untuk melakukan lobi-lobi untuk berkoalisi dan melakukan kompromi politik dengan kelompok di luar gerakan Islam (baik kelompok sekular maupun non muslim), sepanjang hal tersebut dilakukan oleh para aktifis dakwah yang ikhlas dan dikontrol oleh sebuah struktur yang terorganisir dan dipimpin oleh orang-orang yang alim dan bukan perorangan, dan juga hal tersebut dilakukan setelah mempertimbangkan FIQH AWLAWIYYAT (prioritas dalam bermu’amalah: Dimulai dengan usaha koalisi dengan kelompok Islam dulu, jika tidak berhasil dengan yang sekular tapi masih memiliki nilai-nilai kebaikan, dst) serta FIQH MUWAZANAH (dilakukan kajian yang mendalam tentang manfaat dan mafsadatnya bagi gerakan Islam, dan bukan hanya sekedar penilaian sepintas yang snap-shot dan serampangan).K

4.  Perlindungan Abu Thalib pada nabi SAW.

Ketika turun Al Qur’an surat Ash-Shu’araa (26) ayat 214, maka nabi SAW memanggil Bani Hasyim, Bani Muthalib bin Abdi Manaf, dan berkata:
“Segala puji bagi ALLAH, aku memuji dan dan memohon pertolongan kepada-NYA, beriman dan bertawakkal kepada-NYA, aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain ALLAH Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-NYA. Sesungguhnya pemandu jalan tidak akan menyesatkan orang yang dipandu. Demi ALLAH yang tiada Ilah kecuali DIA, DIA Maha Esa dan tiada sekutu bagi-NYA, bahwa aku adalah utusan ALLAH bagi kalian secara khusus serta untuk semua manusia secara umum. Demi ALLAH bahwa kalian akan meninggal dunia sebagaimana kalian tidur dan akan dihidupkan kembali sebagaimana kalian bangun, lalu kalian akan diminta pertanggungjawaban dari apa yang telah kalian lakukan. Sesungguhnya surga dan neraka adalah abadi.”
Maka Abu Thalib berkata: “Alangkah senangnya aku dapat menolongmu, menerima segala nasihatmu, dan menjadi orang yang paling percaya akan tutur katamu, mereka yang berkumpul ini adalah keturunan nenek moyangmu, dan aku adalah salah satu dari mereka, hanya saja aku adalah orang yang paling dulu senang dengan apa yang kau senangi, maka laksanakan apa yang telah diperintahkan Tuhan kepadamu. Demi ALLAH aku akan selalu bersamamu dan menjagamu, akan tetapi aku tidak mampu meninggalkan agama Abdul Muthalib.”
Maka Abu Lahab berkata: “Demi ALLAH ini adalah malapetaka! Cegah dia sebelum mempengaruhi yang lain!”
Maka jawab Abu Thalib: “Demi ALLAH! Aku akan selalu menjaganya selama aku masih hidup!” (Sirah Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, juz-I, hal 265).

5.  Perlindungan Syi’ib Bani Hasyim

Diriwayatkan oleh Musa bin Uqbah dari Ibnu Syihab az-Zuhri: “Orang-orang kafir berkumpul untuk merencanakan pembunuhan pada nabi SAW, yang akan dilakukan secara terang-terangan, ketika kabar itu didengar oleh abu Thalib, maka ia mengumpulkan bani Hasyim dan bani Muthalib untuk melindungi nabi SAW, diantara mereka ada yang melakukannya berdasarkan keyakinan pada kebenaran Islam dan adapula yang ingin melindunginya karena hubungan kekeluargaan (ta’ashub kesukuan) saja.” (Sirah Nabawiyyah, AbduLLAH bin Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. 93, Dar al-Arabiyyah).

6.  Perlindungan Muth’im bin ‘Adi

Ketika nabi SAW pulang dari Tha’if untuk kembali ke Makkah, maka beliau SAW mengutus seseorang dari suku Khuza’ah untuk menemui Muth’im bin Adi dan berkata:
“Apakah engkau bersedia menjadi pelindung Muhammad?”
Muth’im menjawab: “Ya.”
Lalu ia menyiapkan pedangnya dan berkata pada kaumnya: “Hunuskan senjata kalian dan berdirilah di setiap pojok Ka’bah, sesungguhnya aku telah melindungi Muhammad!”
Muth’im lalu mengutus orang untuk mempersilakan Muhammad SAW masuk ke Makkah, maka nabi SAW dan Zaid bin Haritsah ra pun memasuki Makkah. Sesampainya di Ka’bah maka Muth’im bin Adi duduk di atas ontanya sambil berkata:
“Hai orang-orang Quraisy! Sesungguhnya aku telah melindungi Muhammad, maka jangan ada yang berani mengganggunya!”
Maka nabi SAW pun menyelesaikan thawaf, mencium hajar aswad, melakukan shalat 2 raka’at dan kembali ke rumahnya. Sedangkan Muth’im dan anak-anaknya terus menjaga nabi SAW, sampai ia masuk ke rumahnya. (ar-Rahiq al-Makhtum, al-Mubarakfuri, riwayat Zuhr dari Musa bin Uqbah; al-Bidayah wa Nihayah, Ibnu Katsir juz-III, hal. 150)

7.  Tawaran nabi SAW terhadap qabilah-qabilah Arab.

Al-Maqrizi berkata dalam kitab al-Imta’ al-Asma’:
“Nabi SAW langsung menawarkan dan menyerukan Islam sendiri kepada kabilah-kabilah pada setiap musim haji, diantaranya adalah pada bani Amir, Ghassan, Fazarah, Murrah, Hanifah, Sulaim, Abbas, Nashr, Tsa’labah, Kindah, Kalb, Harits, Udzrah, Qais. Dari seruan itu dipahami bahwa keislaman seluruh kabilah tersebut bukanlah yang terpenting, namun kepercayaan kabilah-kabilah tersebut untuk memberikan perlindungan kepada nabi SAW untuk melaksanakan dakwahnya, sebagaimana perlindungan bani Hasyim sebelumnya pada nabi SAW juga tdk seluruhnya muslim, bahkan abu Thalib sendiri sampai wafatnya tidak masuk Islam.” (Sirah Nabawiyyah, Ibnu Hisyam I/422-425)

KETERANGAN :
Semua peristiwa tersebut (sebagaimana telah saya terangkan di atas) menunjukkan bagaimana nabi SAW jelas-jelas menjalin KOALISI dengan orang-orang yang non muslim (di luar Islam) dengan tiada satupun dari ayat ALLAH SWT dalam al-Qur’an yang melarangnya…
Hukum fiqh yang bisa diambil dalam hal ini adalah: Bahwa pada fase dakwah tertentu dimana ketika kondisi gerakan Islam masih kecil dan bargaining-positionnya pun masih lemah, maka Islam mentolerir untuk melakukan KOALISI baik terhada personal (kasus perlindungan Abu Thalib, Muth’im bin ‘Adiy), maupun terhadap kelompok (kasus perlindungan Syi’ib Bani Hasyim dan tawaran nabi SAW terhadap kabilah-kabilah Arab)…
Pembolehan ini merupakan bukti muro’at (perhatian) Islam yang demikian besar terhadap maslahat dan kebutuhan dakwah dan anshar serta junudnya, serta kesesuaian Islam dengan hukum-hukum-NYA yang bersifat baku tentang persiapan dalam pertarungan antara al-Haqq dan al-Bathil (sunnatullah) yang telah ALLAH SWT tegaskan tidak akan ada perubahan dalam sunnah-NYA tersebut…
Selain beberapa arguemn di atas teradpat banyak argument berikut:

1. Saat nabi SAW memasuki Madinah maka beliau SAW menghadapi masyarakat yang sangat heterogen dalam suku dan agama, ada Muhajirin, suku Khazraj, suku Aus, Yahudi bani Quraizhah, Yahudi bani Qainuqa, para pimpinan ekonomi seperti AbduLLAH bin Ubay bin Salul, dan sebagainya. Maka dibuatlah perjanjian sebagai berikut :
1) Perjanjian persaudaraan diantara sesama muslim,
2) Perjanjian tolong-menolong kaum muslimin dengan kaum musyrikin,
3) Perjanjian kerjasama antara kaum muslimin dengan kelompok-kelompok besar qabilah Arab non muslim, dan
4) Peraturan-peraturan yang berlaku umum.

2. Perjanjian yang terkenal tersebut kemudian disebut Piagam Madinah yang merupakan teks perjanjian Hak Asasi Manusia antar agama, suku dan golongan pertama di dunia yang tertulis dalam sejarah, yang isinya secara lengkap adalah sebagai berikut [1]:

a. Bab-I (Diantara kaum mu’minin):
Dengan nama ALLAH Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, inilah piagam perjanjian yang ditulis oleh Muhammad, nabi bagi orang mu’min dan orang muslim dari Quraisy dan Yatsrib dan siapa saja yang mengikuti ajarannya dan berjuang bersama dengan mereka :

i. Sesungguhnya mereka adalah 1 kelompok, memiliki ikatan persatuan yang kuat.

ii. Kaum Muhajirin dari suku Quraisy berkewajiban membayar diat (denda), memperlakukan tawanan perang dengan baik dan berlaku adil dengan kaum muslimin.

iii. Bani Haritsah berkewajiban membayar diat (denda), memperlakukan tawanan perang dengan baik dan berlaku adil dengan kaum muslimin.

iv. Bani Jasyim berkewajiban membayar diat (denda), memperlakukan tawanan perang dengan baik dan berlaku adil dengan kaum muslimin.

v. Bani Najjar berkewajiban membayar diat (denda), memperlakukan tawanan perang dengan baik dan berlaku adil dengan kaum muslimin.

vi. Bani Amr bin Auf berkewajiban membayar diat (denda), memperlakukan tawanan perang dengan baik dan berlaku adil dengan kaum muslimin.

vii. Bani Nubait berkewajiban membayar diat (denda), memperlakukan tawanan perang dengan baik dan berlaku adil dengan kaum muslimin.

viii. Bani Aus berkewajiban membayar diat (denda), memperlakukan tawanan perang dengan baik dan berlaku adil dengan kaum muslimin.

ix. Kaum mu’minin tidak membiarkan kesenangan hanya pada segelintir orang diantara mereka, tapi membagikannya pada semua orang, dengan membagikan hasil dari barang tebusan dan denda secara adil di antara mereka.

x. Seorang mu’min tidak memberikan kekuasaan di antara mereka kepada di luar golongan mereka.

xi. Sikap mu’min terhadap orang yang membangkang dan mengajak berperang adalah suatu perbuatan zalim, berdosa mengajak permusuhan dan merusak hubungan antar kaum mu’min.

xii. Mereka saling tolong-menolong, walau berbeda keturunan.

xiii. Seorang mu’min tidak boleh membunuh sesama mu’min karena membela orang kafir.

xiv. Tidak memberikan kemenangan atas orang kafir dengan mengesampingkan orang muslim.

xv. Sesungguhnya perlindungan ALLAH selalu berada di pihak orang mu’min yang lemah.

xvi. Sesungguhnya orang mu’min itu pelindung bagi orang-orang mu’min lainnya, terhadap bahaya yang ditimbulkan dari golongan di luar Islam.

xvii. Orang-orang Yahudi yang mematuhi aturan-aturan agama kita, akan mendapatkan pertolongan dan persamaan dalam hukum seperti orang muslim lainnya, mereka tidak teraniaya dan tidak menganiaya.

xviii. Apabila terjadi perdamaian sesama mu’min, tidak sama dengan perdamaian orang mu’min dengan orang kafir di medan perang, kecuali didasari dengan persamaan dan keadilan.

xix. Bahwa setiap prajurit kita yang turut berperang bersama kita, masing-masing saling melindungi.

xx. Sesungguhnya orang mu’min itu bekerjasama, untuk saling melindungi jiwa mereka dalam peperangan (sabiliLLAH).

xxi. Sesungguhnya orang mu’min yang bertakwa adalah orang yang mendapatkan sebaik-baik dan selurus-lurusnya petunjuk.

xxii. Bahwa orang musyrik (madinah) tidak dibolehkan menyewakan pada orang Quraisy (Makkah), baik jiwa ataupun harta, apalagi jika dipergunakan menyerang kaum muslimin.

xxiii. Barangsiapa membunuh seorang mu’min dan terdapat padanya suatu bukti pembunuhan, maka dia akan mendapatkan hukuman qishahs, kecuali wali dari orang-orang yang terbunuh tersebut memaafkannya.

xxiv. Bahwa orang-orang mu’min memiliki hukum yang sama, sehingga tidak dibolehkan atas mereka kecuali melaksanakan hukum tersebut.

xxv. Orang mu’min yang menyetujui seluruh isi perjanjian ini dan beriman pada ALLAH dan hari akhir, tidak dibolehkan bagi mereka untuk menolong dan melindungi orang-orang pembuat bid’ah.

xxvi. Barangsiapa yang menolong dan melindunginya maka bagi mereka laknat dan kemurkaan ALLAH pada hari akhir. Dan mereka tidak akan mendapat jaminan dan keadilan.

xxvii. Sesungguhnya segala apa yang kamu perselisihkan hendaklah dikembalikan pada ALLAH dan rasul-NYA, Muhammad SAW.

b. Bab-II (dengan orang Yahudi):

i. Orang Yahudi bani Auf hidup berdampingan dengan kaum mu’min. Bagi orang Yahudi diperbolehkan menganut agama mereka, dan bagi orang mu’min diperbolehkan menganut agama mereka, begitu pula terhadap harta dan jiwa masing-masing.

ii. Apabila ada salah satu dari mereka (Yahudi) melakukan kezaliman dan kesalahan, mereka tidak dapat dihukum semuanya, kecuali mereka yang melakukan perbuatan tersebut atau keluarganya.

iii. Sesungguhnya orang Yahudi dari bani Nadir mempunyai kesamaan dengan orang Yahudi bani Auf.

iv. Sesungguhnya orang Yahudi dari bani Haritsah mempunyai kesamaan dengan orang Yahudi bani Auf.

v. Sesungguhnya orang Yahudi dari bani Saidah mempunyai kesamaan dengan orang Yahudi bani Auf.

vi. Sesungguhnya orang Yahudi dari bani Jasyim mempunyai kesamaan dengan orang Yahudi bani Auf.

vii. Sesungguhnya orang Yahudi dari bani Aus mempunyai kesamaan dengan orang Yahudi bani Auf.

viii. Sesungguhnya orang Yahudi dari bani Tsa’labah mempunyai kesamaan dengan orang Yahudi bani Auf, kecuali bagi yang berbuat kezaliman dan kesalahan. Dan mereka semua tidak dihukum kecuali hanya yang berbuat kesalahan tersebut.

ix. Sesungguhnya keselamatan jiwa orang bani Tsa’labah seperti orang-orang bani Auf.

x. Sesungguhnya orang-orang bani Syathbiyyah seperti orang-orang bani Auf.

xi. Memberi pertolongan pada perbuatan baik dan bukan pada perbuatan buruk.

xii. Bahwa orang-orang yang terikat perjanjian dengan bani Tsa’labah diperlakukan sama dengan kaum mu’minin.

xiii. Bahwa keselamatan jiwa orang-orang Yahudi sama dengan keselamatan jiwa kaum mu’minin.

xiv. Tidak dibolehkan seorang pun dari orang Yahudi keluar dari Madinah kecuali atas izin Rasul SAW.

xv. Tidak dibolehkan seorang pun pergi ke Makkah untuk balas dendam.

xvi. Barangsiapa yang melakukan pembunuhan maka hanya dirinya dan keluarganyalah yang mendapat hukuman dari perbuatannya, kecuali jika ia orang yang dizalimi.

xvii. ALLAH melindungi isi perjanjian ini (ALLAH senantiasa meberikan keridhaan atas segala isi perjanjian).

xviii. Orang Yahudi bekerjasama dengan kaum muslimin dalam mengumpulkan biaya perang, selama terjadi peperangan.

c. Bab-III (antar sesama Yahudi):

i. Orang Yahudi memberi nafkah terhadap orang Yahudi, begitu pula orang mu’min meberikan nafkah pada orang mu’min.

ii. Mereka saling tolong-menolong dalam menghadapi orang-orang yang memerangi isi perjanjian ini.

iii. Mereka saling memberi nasihat dalam kebaikan dan tidak memberi nasihat dalam perbuatan dosa.

d. Bab-IV (Peraturan-peraturan umum):

i. Tidaklah berdosa bagi orang-orang mu’min yang melakukan perjanjian perdamaian dengan mereka.

ii. Hendaknya pertolongan ditujukan pada orang yang dizalimi.

iii. Orang-orang yang terikat dalam perjanjian ini dilarang untuk membunuh penduduk kota Yatsrib.

iv. Seorang tetangga bagaikan sebuah jiwa yang tidak pernah melakukan sesuatu yang membahayakan dan kesalahan terhadap dirinya sendiri.

v. Tidak dibolehkan menikahi seorang wanita, kecuali atas izin keluarganya.

vi. Apabila terjadi suatu permasalahan atau perselisihan yang dikuatirkan akan terjadi perpecahan antara orang-orang yang memegang perjanjian hendaknya hal tersebut dikembalikan pada ALLAH SWT dan nabi Muhammad SAW.

vii. Sesungguhnya ALLAH bersama orang yang paling mematuhi dan melaksanakan dengan sebaik-baiknya isi perjanjian.

viii. Tidak dibolehkan memberikan perlindungan kepada orang-orang Quraisy dan para penolongnya.

ix. Mereka harus saling menolong atas segala musibah yang menimpa penduduk Yatsrib.

x. Apabila mereka diajak untuk berdamai dan melaksanakan segala usaha untuk menuju perdamaian, mereka harus berdamai dan mewujudkan perdamaian tersebut.

xi. Jika mereka dianjurkan untuk melakukan yang seperti itu, maka orang-orang mu’min juga memiliki beban yang sama.

xii. Kecuali terhadap orang yang memerangi agama mereka.

xiii. Tiap manusia memiliki bagiannya masing-masing dari apa yang ia kerjakan.

xiv. Bagi orang-orang Yahudi bani Aus, baik kolega ataupun diri mereka, memiliki persamaan mengenai isi perjanjian, dengan orang-orang yang memegang perjanjian ini. Dalam hal yang baik, bukan terhadap perbuatan jelek. Dan tidak akan mendapat hukuman kecuali yang melakukannya.

xv. Sesungguhnya ALLAH bersama orang-orang yang paling patuh dan paling baik dalam menjalankan isi perjanjian ini.

xvi. Isi perjanjian ini tidak berlaku atas orang yang melakukan kezaliman dan kesalahan.

xvii. Sesungguhnya ALLAH dan Rasul-NYA akan selalu menolong orang-orang yang baik dan bertakwa.

REFERENSI:
[1] Sirah Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, jilid-I, hal 501-504.

PENUTUP
Ini adalah bagian terakhir dari kitab Syaikh Al-Ghadhaban. Pada bagian ini syaikh menjelaskan kepada kita secara rinci dan sistematis tentang berbagai KOALISI yang dilakukan oleh nabi SAW dengan kelompok non-muslim setelah kaum muslimin berkuasa di muka bumi/memiliki negara sendiri (sebagaimana dalam tulisan yang lalu beliau menjelaskan berbagai KOALISI yang dilakukan ketika kaum muslimin masih lemah.

Lebih lanjut, syaikh juga menjelaskan secara ilmiah dan argumentatif konteks berbagai ayat yang nampak sepintas seolah-olah melarang KOALISI POLITIK seperti QS al-Maidah ayat 51, beliau menjelaskan sabab-nuzul ayat tersebut, konteks ayat tersebut dengan ayat yang berikutnya, bagaimana kondisi nabi SAW sendiri dan para sahabat ra saat turun ayat tersebut, dan lain-lain, lengkap dengan referensi yang shahih dan mu’tamad.

Setelah kaum muslimin memiliki kekuatan yang sepadan (yaitu pasca peristiwa Fathul Makkah), barulah ALLAH SWT menurunkan QS at-Taubah yang memerintahkan kaum muslimin untuk memerangi kaum kafir dimanapun mereka berada, sehingga pada saat itu kaum kafir dan musyrikin hanya terbagi ke dalam 3 kelompok (yaitu: ahludz Dzimmah / yang takluk pada pemerintahan Islam; mu’ahid / yang ada perjanjian dengan Islam; dan muharrib / yang memerangi Islam).

Demikianlah fase-fase dakwah yang hendaknya dilalui oleh kaum muslimin agar mereka benar2 sesuai dengan sunnah rasuliLLAH SAW dan atsar Salafus Shalih, menjauhi bid’ah dan mendapat ridha ALLAH SWT. Tanpa mengikuti sunnah beliau SAW, maka kaum muslimin hanya akan menemukan kehancuran  ALLAHu a’lam bish Shawa.

1. Kompromi Politik Nabi SAW dengan qabilah-qabilah Musyrikin di luar Madinah untuk melawan Quraisy, seperti dengan bani Mudallij dan bani Dhamrah di sepanjang laut Merah pada jalur yang menuju ke Syam, ketika pemimpin musyrik bani Juhainah, Majdi bin Amru al-Juhanilah bertemu nabi SAW di Madinah, maka ia disambut oleh nabi SAW sehingga ia berkata:
“Sungguh aku tidak tahu bahwa Maimun itu seorang pemimpin yang baik dalam urusan ini.” [1]

Dan ditetapkanlah perdamaian antara keduanya dengan kesepakatan Nabi SAW tidak memerangi bani Dhamrah dan bani Dhamrah tidak memerangi nabi SAW serta memprovokasi kelompok lain untuk memusuhi nabi SAW serta tidak memberi bantuan kepada musuh nabi SAW [2].

2. Bahwa pasca kompromi-kompromi politik yang dilakukan oleh nabi SAW tersebut (terutama pasca perang Badar dan perjanjian Hudhaibiyyah) maka nabi SAW pun seringkali dikhianati dan disabot isi perjanjiannya terutama oleh kaum Yahudi (persis yang dilakukan oleh kelompok sekular terhadap kemenangan-kemenangan partai Islam saat ini), tapi beliau SAW berusaha mengatasi semua bahaya dan bertahan agar tidak menghadapi 2 musuh sekaligus (Quraisy dan Yahudi), kecuali setelah kaum muslimin bisa mengalahkan musuh terbesarnya kafir Quraisy yaitu pasca perang Ahzab.

3. Bahwa ayat-ayat al-Qur’an yang turun berkenaan tentang larangan mengangkat pemimpin dari golongan non muslim turun berkenaan dengan tema ini (jadi bukan sebagaimana dituduhkan oleh orang-orang yang tidak mengerti asbab an nuzul, bahwa ayat tersebut melarang partai Islam berkompromi politik dengan orang kafir di parlemen). Contohnya QS Al Maidah ayat 51 yang berbunyi :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu. Karena sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain…”
Sabab an nuzul ayat ini adalah turun berkenaan tentang sikap AbduLLAH bin Ubay bin Salul yang melarang nabi SAW memerangi Yahudi bani Qainuqa karena mereka telah membelanya selama ini [3]… Lalu bagaimana mungkin ayat ini ditafsirkan sebagai ayat yang melarang semua jenis kompromi politik dengan non muslim, sementara nabi SAW sendiri berkompromi dan meminta perlindungan kepada pamannya Abu Thalib, Muth’im bin Adi, dan lain-lain yang semuanya adalah non muslim!!! Jadi jelaslah bagi kita bahwa duduk perkaranya adalah bahwa masalah ini tergantung pada fase pertumbuhan dan kekuatan dari harakah Islam itu sendiri.

4. Coba bandingkan dengan ayat ke-52nya yang memuji sikap Ubadah bin Shamit ra yang juga memiliki perjanjian dengan Yahudi tersebut tapi memutuskannya setelah pengkhianatan mereka pada nabi SAW tersebut sebagai berikut:
“Dan barangsiapa mengambil ALLAH, Rasul-NYA dan orang-orang beriman sebagai penolong maka partai ALLAH itulah yang akan menang.”
Jadi permasalahannya bahwa konteks ayat itu adalah keharusan mentaati kebijakan pemimpin (yang saat itu dipegang oleh nabi SAW), serta ketaatan pada syura yang telah diputuskan oleh harakah Islam. Hal lain yang dapat ditambahkan sebagai argumen adalah bahwa ALLAH SWT tidak pernah membatalkan kompromi politik dengan bani Nadhir dan bani Quraizhah, maka bagaimana mungkin ayat tersebut melarang berkompromi politik dengan non muslim, sementara perjanjian nabi SAW telah berjalan selama 4 tahun!!!

5. Latar-belakang peristiwa Fathu (penaklukan) Makkah. Pada saat terjadi perjanjian Hudhaibiyyah dulu, maka bani Bakr memilih bersekutu dengan Quraisy, sementara bani Khuza’ah memilih bersekutu dengan nabi SAW (keduanya adalah qabilah musyrik). Lalu 22 bulan setelah Hudhaibiyyah di bulan Sya’ban bani Bakr menyerang dan membunuh 23 orang bani Khuza’ah di dekat mata air al-Watir dekat Makkah. Maka Amru bin Salim dari Khuza’ah bersama 40 orang kaumnya datang dan melantunkan sya’ir tentang kepedihan kaumnya dan mengadukan pada nabi SAW. Maka nabi SAW berdiri sambil menyeret bajunya bersabda:
“Aku tidak akan ditolong ALLAH SWT, jika aku tidak menolong bani Ka’ab sebagaimana aku menolong diriku sendiri!” [4]
Dalam lafz Ibnu Ishaq disebutkan:
“Aku tidak akan mendapat pertolongan jika tidak menolong bani Ka’ab seperti aku menolong diriku sendiri. Sesungguhnya awan ini menjerit memintakan pertolongan untuk bani Ka’ab.” [5]
Maka lihatlah bagaimana nabi SAW memegang perjanjian politiknya dengan kabilah musyrikin dan bahkan menggerakkan pasukannya untuk memerangi Makkah karena membela kabilah musyrikin yang telah berkompromi politik dengan kaum muslimin!

6. Turunnya surat Bara’ah (at-Taubah). Setahun setelah penaklukan Makkah dan kaum muslimin telah memiliki kekuatan yang besar, dan ketika semua kekuatan yang menentang Islam di wilayah jazirah Arab telah jatuh ke tangan kaum muslimin, maka barulah ALLAH SWT menurunkan QS at-Taubah yang memerintahkan memutuskan semua hubungan perjanjian pada kaum musyrikin:
“Inilah pernyataan pemutusan hubungan ALLAH dan Rasul-NYA dari orang-orang musyrik yang kalian (kaum muslimin) telah mengadakan perjanjian dengannya…” (QS At Taubah, 9/1).

Maka ketika ayat ini turun, nabi SAW mengutus Ali ra untuk menyusul Abubakar ra yang sedang memimpin hajji dengan kaum muslimin yang lain untuk membacakan dan mengumumkan ayat ini, maka Ali ra mengumumkan 4 hal:

1. Setelah tahun ini tidak boleh lagi orang musyrik mendekati Ka’bah,
2. Tidak boleh lagi thawaf dalam keadaan telanjang,
3. Tidak akan masuk syurga kecuali orang mu’min,
4. Barangsiapa yang masih ada perjanjian dengan rasuluLLAH maka akan ditepati sampai akhir masanya.

Point yang ke-4 ini ditegaskan pada ayat ke-4 dari QS At Taubah tersebut. Az-Zamakhsyari berkata dalam tafsirnya al-Kasysyaf bahwa istitsna (pengecualian) dalam ayat tersebut bermakna istidrak (penyusulan kalimat), sehingga makna ayatnya adalah: Barangsiapa yang menepati perjanjian dan tidak mengingkarinya maka sempurnakanlah perjanjian tersebut dan jangan perlakukan mereka sebagaimana orang yang tidak menepati perjanjiannya dan sebaliknya jangan jadikan orang yang tidak menepati perjanjian seperti yang menepatinya. Imam Ibnul Qayyim [6] menyatakan bahwa setelah turunnya ayat ini maka kaum kafir dibagi 3, yaitu muharibin (yang memerangi kaum muslimin), ahlul ‘ahdi (yang masih ada perjanjian dengan kaum muslimin) dan ahlu dzimmah (kafir yang berada dalam perlindungan nabi SAW).

KESIMPULAN: TINJAUAN FIQH TENTANG KOALISI POLITIK YANG DIBOLEHKAN DALAM ISLAM

1. Hukum meminta bantuan pada orang musyrik di luar urusan perang, adalah dibolehkan berdasarkan perilaku nabi SAW di atas, ada pula hadits Bukhari yang mempertegas sebagai berikut:
“Nabi SAW dan Abubakar menyewa seorang bani Dalil yang masih mengikuti agama Quraisy sebagai penunjuk jalan ke Madinah.”

2. Hukum meminta bantuan kepada orang musyrik dalam peperangan saat kaum muslimin lemah baik jumlah maupun kemampuannya, maka ini dibolehkan berdasarkan perilaku nabi SAW di atas. Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya [7] menyatakan:
Jika kaum muslimin dalam keadaan darurat dan tidak bisa menang maka dibolehkan meminta bantuan pada kafir Harbi tersebut, sepanjang ia yakin bahwa kemenaangan tersebut tidak membahayakan jiwa, harta dan kehormatan kaum muslimin, sebagaimana istitsna (pengecualian) ALLAH SWT terhadap kebolehan memakan bangkai saat kondisi terpaksa (…kecuali apa yang kamu terpaksa memakannya…). dalam hal ini ada yang mendebat kami dengan menyebutkan firman ALLAH SWT : “..Dan tidakah aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.” (QS Al Kahfi, 18/51). Maka jawaban kami adalah, ayat ini tidak tepat untuk kasus ini karena kita sama sekali tidak menjadikan mereka sebagai penolong melainkan mengadu mereka sebagian dengan sebagian yang lain, karena mereka adalah sama jahatnya satu dengan lainnya maka ayat yang benar adalah “..dan demikianlah KAMI jadikan sebagian orang yang zhalim sebagai teman bagi sebagian yang lain karena apa yang mereka perbuat.” (QS Al An’am, 6/129), juga dalam hadits yang diriwayatkan oleh AbduLLAH bin Rabi’ dari Muhammad bin Mu’awiyah dari Ahmad bin Syu’aib dari Imran bin Bakr bin Rasyid dari abu Yaman dari Syu’aib bin abi Hamzah dari az-Zuhri dari Sa’id bin Musayyib dari abu Hurairah berkata: “Rasul SAW bersabda : ALLAH SWT akan menegakkan agama ini dengan bantuan orang yang fajir.” Maka Imam abu Muhammad berkata: Meminta bantuan pada ahlul harb (kafir harbi) dalam melawan kafir harbi yang lain dibolehkan, sebagaimana juga dibolehkan meminta bantuan pada muslim yang fajir untuk menghentikan kezaliman muslim yang zalim. (Selesai kutipan dari Ibnu Hazm)

REFERENSI:
[1] Imta’ al-Asma’, al-Maqrizi, hal 1/52
[2] Al-Watsaiq an-Nabawiyyah, hal.267; Ibnu Sayyidin Nas, 2/3; Ansab al-Baladziri 1/287.
[3] Sirah Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, 2/49
[4] Imta’ al-Asma’, al-Maqrizi 1/357-358
[5] Thabaqat al-Kubra, Ibnu Ishaq 2/98
[6] Zaadul Ma’ad, 2/90-91
[7] al-Muhalla, 12/523-525

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.