Masihkah Kita Memerlukan Nasihat?

alhikmah.ac.id – Kehidupan yang kita lalui tidak selamanya mulus seperti yang kita harapkan. Ada saatnya kita diuji dengan berbagai persoalan hidup di mana pangkat, gelar, kedudukan, dan harta yang kita banggakan bukannya menyelesaikan masalah, malah sering menjadi sumber utamanya.

Saat dihadapkan pada persoalan hidup, ada di antara kita yang mampu melaluinya dengan indah, namun tak sedikit yang kecewa, putusa asa, bahkan berakhir untuk selama-lamanya.

Di sinilah nasihat sangat berperan bagi jiwa-jiwa yang resah. Ia berfungsi untuk pengendali diri, membangun harapan, menguatkan motivasi, optimisme, dan azam.

Setinggi apapun pangkat, pendidikan, dan kedudukan kita nasihat selalu diperlukan. Karena nasihat merupakan sumber energi hati. Hati yang ikhlas dinasihati akan menyebabkannya tumbuh hidup. Hati yang hidup adalah hati yang mengenal Allah Ta’ala dan membawa pemiliknya mampu mengambil pelajaran dari setiap peringatan. Dan peringatan itu sangat bermanfaat bagi manusia, terutama yang takut kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman:

فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ الذِّكْرَى
سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَى
وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى

“Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfa’at. Orang-orang yang takut (kepada Allah) akan mampu mengambil pelajaran. Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhi.” (QS Al A’la: 9-11).

Dan masrilah saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran adalah kunci memperoleh keberuntungan (lihat QS Al ‘Asr). Ada beberapa manfaat nasihat.

Pertama, menguatkan akal pikiran. Allah Ta’ala menilai orang berakal adalah orang yang banyak mendengar dan mengikuti nasihat kebenaran yang diketahuinya. Dan setiap kebenaran itu timbangannya adalah al-Quran. Allah Ta’ala berfirman: Mereka yang mendengarkan perkataan (nasihat) lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya (al-Quran). Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal (QS Az Zumar: 18). Akal yang tidak tunduk kepada al-Quran akan lemah, bahkan sesat dalam pemikiran.

Kedua, menguatkan hati dan iman. Hati kita senantiasa berbolak balik. Hal itu dapat dilihat dari perubahan sikap dan tingkah laku kita dalam kehidupan. Ada saatnya keimanan kita meningkat dengan ketaatan kepada Allah dan menurun dengan bermaksiat kepada-Nya. Oleh sebab itu, hati tempatnya iman harus rutin menerima nasihat agar ia selalu ingat (kepada Allah) dan kuat dalam menjalani kehidupan.

Siapapun yang menginginkan kebaikan dalam hidupnya akan meluangkan waktu—bukan mencari waktu luang—untuk memperhatikan hati. Ia senantiasa melabuhkan diri untuk duduk di majlis ta’lim mendengarkan nasihat orang-orang ‘alim. Bersimpuh di hadapan al-Quran sang kitab penasihat kehidupan. Banyak mengingat kematian sang pemutus kenikmatan. Mencintai orang-orang yang mengingatkan kekurangan. Umar bin Khattab Ra berkata: “Orang yang kucintai adalah orang yang menunjukkan aibku.”

Ketiga, meningkatkan potensi dan merubah keadaan. Kualitas seseorang tidak ditentukan dari banyak bicara, lihai berdiplomasi, atau mahir berorasi, melainkan maksimal meningkatkan potensi diri dan selalu berhati-hati. Manusia terlahir unik dengan potensi yang berbeda.

Adakalanya manusia tidak menyadari potensi yang dimilikinya sehingga ketika diberitahu dan dinasihati ia baru menyadari.

Banyak orang mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dalam hidupnya, tatkala ia mampu menjadikan serpihan mozaik perkataan, kegagalan, keterpurukan, kemaksiatan, atau musibah yang dialami sebagai nasihat untuk memperbaiki diri. Karena nafsu yang dituruti tidak akan pernah memuaskan diri. Pada akhirnya akan sampai pada titik jenuh di mana hati hanya puas bila memenuhi panggilan nasihat Ilahi.

Oleh sebab itu, jangan pernah merasa kenyang dengan nasihat. Karena nasihat adalah kebutuhan untuk melakukan perubahan. Segala kejadian yang dialami dan ditolak oleh hati sesungguhnya nasihat yang dikirimkan Ilahi. Merasa tak butuh dengan nasihat dan tak mau mengambil pelajaran dari nasihat adalah tanda butanya mata, tulinya telinga, dan matinya hati.

Sungguh keras peringatan Allah Ta’ala bagi orang yang merasa kenyang dengan nasihat. Firman-Nya: Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi (QS. Ala’raaf: 179). Dalam ayat lain: Apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami (nasihat)? Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya (QS. Alfurqan: 44).
Dari siapapun nasihat datang, selama itu kebenaran, layak diambil jadi pelajaran. Suatu saat Al Ghazali pulang menuntut ilmu dan bangga memikul buku-buku catatannya yang banyak. Di tengah jalan ia dicegat oleh penyamun yang menyangka sedang membawa harta berharga. Al Ghazali berkata: “Buku-buku ini tidak bermanfaat bagi kalian, ini merupakan catatan ilmu pengetahuanku.” Salah seorang penyamun berkata, “Al ‘ilmu fis sudur walaisa fis sutur” (ilmu itu di dada (dihapalkan) bukan tertulis di kertas).

Kalimat nasihat inilah yang mengantarkan perubahan besar Imam Al Ghazali dalam memandang ilmu hingga ia digelar ”hujjatul Islam”.

Nasihat yang membangun diri kita adalah bukti yang diberikan oleh orang-orang yang mencintai kita. Kejadian dan musibah yang ditolak oleh hati adalah nasihat peringatan dan cara Allah menunjukkan cinta-Nya agar kita kembali ke jalan-Nya. Tanpa ada nasihat, tidak ada cinta. Tak ada cinta, mustahil ada perhatian. Perhatian dan cinta adalah bukti, keberadaan diri kita masih dibutuhkan dan diharapkan. Oleh sebab itu, jangan pernah meremehkan sekecil apapun kejadian dan nasihat demi kebaikan kita. Wallaahu A’lam.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.