Mengkritisi ‘Makna Agama’ Ala Smith

alhikmah.ac.id – Wilfred Cantwell Smith adalah sejarawan asal Toronto, Kanada. Beliau telah menulis sebuah buku, The meaning and end of religion, yang menggegerkan penganut agama di seantoro jagat raya.

Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ‘Memburu Makna Agama’. Dalam bukunya, Smith berusaha merobohkan pondasi-pondasi pemahaman yang dianggap telah mapan dan matang, oleh mayoritas penganut agama di muka bumi. Dia mempertanyakan ulang penggunaan kata agama, untuk menunjuk agama-agama yang ada saat ini.

Sebagai sejarawan, Smith berusaha membuat keraguan dan kerancuan akan arti ‘agama’, bila dilihat dari sudut historisnya. Olehnya itu, menurut penulis, buku itu lebih tepat diterjemahkan menjadi ‘Membunuh Makna Agama’. Karena Smith tidak bermaksud untuk membunuh esensi dan eksistensi dari agama itu sendiri, tapi mengakhiri penggunaan istilah ‘agama’ untuk menunjuk dan menjastifikasi agama tertentu, yang terkesan telah melembaga dan menjadi ideologi negara.

Menurut Smith, Kata ‘Religion’ yang diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia ‘Agama’, telah mengalami proses reifikasi. Istilah ‘Religion’ diambil dari bahasa latin ‘Religio’, namun diserap ke dalam bahasa Ingris, sehingga mengalami perubahan konotasi.

Kata ‘Religion ‘(agama) inilah yang menjadi tolak ukur penelitian Smith. Dia mengkritik penggunaan ‘religion’ terhadap semua agama yang ada saat ini. Dia memaparkan bagaimana ‘Religion’ diadopsi dan diselewengkan artinya oleh agama Kristen. Agama Kristen (Christianity) telah melewati proses reifikasi bahasa, sehingga menjadi agama Kristen (Christianity).

Pada mulanya, tepatnya abad ke-15, agama ini, namanya bukanlah Christianity, namun Faith (iman). Dan kata ‘Faith’ (iman) lebih dominan penggunaanya untuk menunjuk agama kristen, hingga abad 17. Tapi, pada abad ke-17, istilah ‘Religion’ (Agama) menjadi dominan di kalangan kristen dan umumnya mereka mengunakan ‘Religion’ untuk menunjuk agama Kristen.

Di sisi lain, ‘Faith’ telah mengalami proses dekreasiasi dalam penggunaanya. Proses ini terus berlangsung, ‘Religion’ senantiasa dominan untuk menunjuk agama Kristen, hingga abad ke-18. Pada abad ini, muncullah istilah Christianity (agama Kristen), yang sebelumnya kurang dominan penggunaanya. Istilah Christianity (agama kristen) terus berlanjut hingga sekarang.

Jadi, agama Kristen telah melewati beberapa fase peristilahan untuk menunjuk agama itu. Mulai dari Faith, Religion dan terakhir Christianity. Istilah Christianity inilah yang dominan penggunaanya saat ini, dibanding Faith dan Religion. Itulah mengapa Smith mengatakan bahwa penggunaan ‘Religion’ (dalam bahasa indonesia; agama) telah berakhir dan perlu dikaji ulang. Beliau mengkritik keras penggunaan ‘Religion’ untuk menunjuk agama Kristen, apalagi agama-agama yang lain.

Selanjutnya, menurut Smith, Dalam Islam, kata ‘Din’ juga telah mengalami proses reifikasi makna. Pada awalnya, alqur’an menggunakan kata ‘Faith’ (iman) untuk menunjuk agama Islam. Namun istilah Faith dalam Islam mengalami proses reifikasi hingga menjadi ‘Din’, pada abad ke-14. Sejak itu, penggunaan ‘Din’ (agama) menjadi dominan di kalangan pemeluk agama Islam, untuk menunjuk agama islam itu sendiri.

Terlepas apakah pengamatan Smith diterima atau tidak, penulis mencoba mengajukan beberapa argumen dan analisis untuk mempertanyakan ulang konsep Smith tentang ‘Din’ dalam Islam.

Dalam al-Quran kata ‘Din’ tidak pernah digunakan dalam bentuk jamak (plural; Adyan). Ketika al-Qur’an menggunakan kata ‘Din’ maka yang dimaksud adalah Islam. Al-Quran tidak pernah menggunakan Din untuk menunjuk agama selain Islam. Biasanya, orang arab menggunakan ahiran (suffix) –iyyah untuk menunjuk agama selain Islam. Seperti: Masihiyyah untuk menunjuk agama Kristen, Yahudiyyah untuk agama Yahudi. Jadi, kiranya apa yang dipaparkan oleh Smith perlu dikaji secara mendalam.

Kemudian konsep ‘Din’ telah sempurna, ketika wahyu terakhir turun kepada Nabi Saw. “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Q.S. Al Maidah, 3).

Jadi kurang tepat kiranya, jika Smith beranggapan bahwa pada mulanya kata ‘Iman’ adalah kata yang digunakan untuk menunjuk agama Islam. (hdy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.