Mengulang Adalah Detak Jantung Belajar Bahasa Arab

Oleh: Luqman AJ. Lc.MA.

alhikmah.ac.id – Bahasa arab memiliki hubungan erat dengan Al-qur’an, hadits dan ilmu-ilmu islam, bahkan bagian yang tidak bisa dipisahkan. Menurut imam Ibnu Taimiyah belajar bahasa arab hukumnya wajib, beliau mengatakan “Bahasa arab itu termasuk bagian dari agama, sedangkan mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Quran dan As-Sunnah itu wajib. Tidaklah seseorang bisa memahami keduanya kecuali dengan bahasa arab. Dan tidaklah kewajiban itu sempurna kecuali dengannya (mempalajari bahasa arab), maka ia (mempelajari bahasa arab) menjadi wajib. Mempelajari bahasa arab, diantaranya ada yang fardhu ‘ain, dan adakalanya fardhu kifayah.” (Ibnu Taimiyah, 1369:207)

Belajar Al-qur’an, hadits dan bahasa arab memiliki karakteristik yang sama-sama unik yaitu memerlukan banyak latihan mengulang. Contoh yang paling tepat adalah bagaimana para ulama terdahulu mempelajari ilmu-ilmu ini.

Dalam kitab “Tahdzibu kamal” disebutkan ketika meriwayatkan biografi Ahmad bin Al-Furat Abu Mas’ud Ar-Razi  “ia mengulang setiap riwayat hadits lima ratus kali.”  (Ibnu Hajar Alasqalani, 1984: 1/58).

Kemudian suatu ketika ada seorang yang bertanya: “Saya sulit menghafal hadits dan cepat lupa”, ia menjawab: “adakah di antara kalian yang mengulang hadits lima ratus kali?”, mereka mengatakan: “siapa yang mempu melakukan  demikian?”, ia menjawab: “oleh karena itu kalian tidak hafal dengan baik.” (Abu Yusuf Al Mazy, 1980: 1/424).

Dalam biografi Abu Bakar Al-Abhari Al-Maliki rahimahullah ia berkata: “saya membaca buku mukhtashor bin Abdul Hakam lima ratus kali”, kitab “al-asadiyah” tujuh puluh lima kali, kitab muwaththa’ tujuh puluh kali juga, kitab “almabsuth” tiga puluh kali dan kitab mukhtashor albarqi tujuh puluh kali.” (Qadhi Iyadh, 1/427).

Inilah metode pembelajaran yang diwariskan oleh para ulama terdahulu dalam mengkaji ilmu. Mengulang adalah metode yang diutamakan dalam mempelajari ilmu syariat. Satu-satunya metode untuk menguatkan dan melengketkan hafalan.

Ibnu Almuhalhal juga menulis artikel mengenai metode mengulang ini, menurutnya mengulang adalah metode  yang ideal untuk mempelajari Al-qur’an, hadits dan  ilmu-ilmu islam. Metode ini dengan mengulang-ulang hafalan baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis dan idealnya hingga lima puluh kali, seratus bahkan hingga dua ratus kali.”  (Ibnu Al-Muhalhal, artikel mengulang metode warisan ulama).

Al-Abbas Ad-Duri berkata: “saya mendengar Yahya bin Ma’in berkata: “seandainya saya tidak menulis atau  mendengar (mengulang) hadits lima puluh kali maka tidak akan faham dan mengerti.” (Ibnu Asakir, 1990: 14/65).

Mengenai biografi Abu Ishak Asy-Syairazi ia berkata: “saya mengulang setiap “qiyas” seribu kali, jika saya anggap sudah cukup saya pindah pada qiyas yang lain dan aku mengulang begitu pula. Dan saya juga mengulang pelajaran sebanyak seribu kali, dan jika terdapat teks sya’ir saya menghafalnya.( Syamsuddin Adzdzahabi, 2001: 18/458), Dalam riwayat al-munadzam Ibnu Al-Jauzi ia mengulang pelajaran pada mulanya seratus kali.” (Ibnu Al-Jauzi, 1995: 4/489).

Mengenai biografi Abu Bakar Ghalib bin Abdurrahman bin Athiyah ayahnya Ibnu Athiyah seorang ahli tafsir, bahwa ia mengulang kitab shahih Al-Bukhari sebanyak tujuh puluh kali. Alhasan bin Dzinnun An-nisaiburi ia berkata: “hafalan sebuah ilmu jika tidak diulang sebanyak tujuh puluh kali tidak kuat.” (Ibnu Taghri Bardi, 1971: 2/82).

Dalam biografi Bakar bin Muhammad Abu Al-fadhl Al-Anshori ia berkata: “ia mengulang pada awal mulanya sebanyak empat ratus kali.” (Ibnu Katsir, 2007: 12/227).

Metode ini hasil dari pengalaman para ulama yang tidak diragukan kepakaran dan ilmunya. Cara dan metode ini juga bukan suatu perbuatan bid’ah, bukan pula cerita fiksi dari kisah etah berantah, tetapi riwayat realistis dan shahih dari biografi para ulama kita terdahulu, bahkan para ulama kemudian yang mengikuti jejak langkah mereka.

Alhamdulillah bahasa arab kini tidak lagi asing di kalangan masyarakat kita. Banyak metode yang bermunculan untuk mempermudah bagi yang ingin mempelajarinya. Namun berbagai kemudahan ini tidak berarti meninggalkan metode yang telah diwariskan para ulama, yaitu latihan dan mengulang.

Metode ini sudah dibahas oleh para pakar pendidikan, yaitu suatu cara pembelajaran yang praktis dengan cara melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan sungguh-sungguh dengan bimbingan dosen atau secara mandiri, bertujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan suatu keterampilan secara maksimal dengan jalan yang singkat.

Metode ini memiliki banyak kelebihan dibanding dengan metode lain, di antaranya adalah dalam waktu relatif singkat dan cepat dapat diperoleh penguasaan dan keterampilan yang diharapkan, para siswa akan memiliki pengetahuan siap dan kuat, dan yang lebih penting adalah menanamkan peserta didik kebiasaan belajar secara rutin, disiplin dan mandiri.

Selain para pakar pendidikan yang mengakui akan kelebihan metode ini ternyata para ulama terdahulu juga telah membuktikan dan mencontohkan secara konkrit detail dan tata laksana metode ini. Tidak aneh jika mereka adalah generasi yang paling menguasai ilmu-ilmu islam karena mereka melakukan hal yang sulit untuk diterapkan. Yaitu mengulang materi puluhan kali, ratusan bahkan ribuan, seperti yang dilakukan oleh syaikh Abu Ishak Asy-Syairazi mengulang materi hingga seribu kali, subhanallah.

Metode latihan dan mengulang ini sangat sesuai untuk pembelajaran bahasa arab karena memiliki karakeristik yang sama denagan Al-qur’an, hadits dan ilmu-ilmu islam lainnya dan merupakan sumber yang tidak bisa ditinggalkan ketika mempelajarinya.

Selain itu, metode ini juga sesuai untuk setiap yang ingin mempelajari bahasa arab namun memiliki keterbatasan waktu untuk bertemu dengan guru. Para profesional yang memiliki sedikit waktu, para mahasiswa islam selain fakultas bahasa yang memiliki sedikit sks, bahkan kaum muslimin pada umumnya dengan syarat dapat mengikuti program dengan baik dan komitmen untuk mengulang secara mandiri. Wallahua’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.