Pembebasan Tawanan dan Persatuan Bangsa Palestina

alhikmah.ac.id – Pertukaran tawanan yang disebut dengan “Wafa Al-Ahrar” antara pejuang Palestina dan entitas penjajah, merupakan fase penting dalam sejarah permasalahan Palestina; setelah melewati jalan yang sulit dan fase yang panjang dari berbagai perundingan marathon, akhirnya para juru runding berhasil mencapai kesepakatan dengan dipenuhinya tuntutan yang diajukan sejak awal perundingan yang memakan waktu kurang lebih lima tahun lamanya. Hal ini membutuhkan kesabaran, kegigihan, nafas panjang dari para juru runding dan keteguhannya dalam memegang syarat-syarat, tsawabit hingga selesai perundingan, meskipun blockade, penghancuran, boikot ekonomi (penglaparan) dan pembantaian yang dilakukan oleh Israel atas Gaza tetap berlangsung.

Sungguh prestasi tentang permasalahan tawanan ini menjadi babak baru yang sangat penting, kembali optimisme akan permasalahan Palestina yang berhubungan akan besar dan urgensinya di dalam indra dan perasaan Arab dan umat Islam bahkan umat manusia secara keseluruhan,  sebagaimana hal tersebut telah tercatat dalam sejarah sebagai peristiwa penting yang terjadi dalam rangka perubahan penting akan neraca kekuatan, dan menetapkan bahwa hak warga Palestina telah terabaikan dan tidak dihargai. Kita telah dapatkan dalam firman Allah bahwa Zat yang maha Kuat pasti akan menolong hamba-hamba-Nya:
وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa”. (Al-Hajj:40)
Prestasi ini tentunya menegaskan akan keberhasilan “para pionir al-muqawamah” dan kualitasnya; sekiranya bukan karena kegigihan dalam melakukan perjuangan dan adanya tawanan seorang tentara dari pasukan zionis maka tidak akan ada ditangan para pejuang lembaran tekanan untuk melakukan perundingan, dan mungkin tidak akan berhasil dalam membebaskan tawanan secara besar-besaran yang mencapai ribuan tawanan berbanding satu tawanan saja, begitupula dibebaskannya tawanan wanita, pemudi dan anak-anak.
Prestasi ini juga menegaskan bahwa Israel tidak memahami apa-apa kecuali bahasa kekuatan dan perlawanan; dan bahasa inilah yang mampu dengan izin Allah membebaskan bangsa Palestina yang terkurung dibawah jeruji besi zionis.
Dan tentunya sang prajurit zionis selama tertawan telah mendapatkan perlakukan yang baik sesuai dengan akhlak islam yang mulia dan nilai-nilai islam yang tinggi; dia tidak pernah mendapatkan sedikitpun siksaan, pelecehan dan penghinaan seperti yang diungkapkan sendiri olehnya, berbanding terbalik dengan perlakuan keji yang didapati oleh para tawanan Palestina di penjara-penjara Israel seperti pukulan dan penghinaan, penglaparan dan siksaan. Hal ini tentunya tidak asing bagi entitas pembantai yang terkenal sepanjang sejarahnya; dimulai dari Der Yasin, Qaina, Kafr Qasim, Shabra dan Shateela, Masjid Ibrahimi dan pembantaian masjid Al-Aqsha dan lain-lainnya yang sangat banyak.
Prestasi ini hadir untuk membuka dan menyingkap besarnya persekongkolan yang dilakukan oleh rezim dictator di Mesir; dengan memberikan saham atau ikut berkontribusi dalam menggagalkan perundingan selama lebih dari satu tahun; sehingga tidak menjadi sebuah kemenangan bagi pasukan perjuangan saat itu. Dan sungguh tampak jelas perubahan peran Mesir setelah terjadinya revolusi januari yang memberikan pengaruh besar dalam menyelesaikan perundingan yang terkatung-katung dan bersamaan dengan itu terjadi pula “Musim semi revolusi Arab; berbagai revolusi ini telah mengembalikan bentuk peta lokasi; yang tidak mampu dibuat oleh entitas penjajah kecuali melakukan perhitungan kembali dan harus ikut terhadap berbagai tuntutan para juru runding.
Telah tampak persatuan bangsa Palestina oleh kerja keras para juri runding dengan menjadikan seluruh tawanan yang dibebaskan berasal dari pelosok dan penjuru Negara Palesatina bukan hanya dari Gaza saja. Karena itu pembebasan pun terjadi mencakup seluruh warga Palestina; dari pesisir laut maupun sungainya; dari warga yang berasal dari Tepi Barat, Al-Quds, bumi yang sejak tahun 1948 terjajah, dataran Golan dan lain-lainnya, dari seluruh faksi dan front lainnya tanpa terkecuali. Oleh karena datang apresiasi yang mengungkapkan akan kesatuan negeri dan persatuan bangsa Palestina, begitu pula tentang kesatuan tujuan, misi dan manhaj serta universalnya permasalahan yang terkait dengan aqidah negeri, tanah Arab, geografi dan historikalnya.
Bahwa prestasi “wafa al-ahrar” harus menjadi stasiun bagi seluruh pemimpin Palestina untuk meninjau kembali dan bekerja keras dalam rangka mengembalikan rakyat menuju kesatuan bangsa Palestina, mengangkat skala prioritas Negara Palestina dan jati dirinya dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, mengambil pelajaran dan nasihat, bahkan juga harus menjadikan sebagai stasiun bagi seluruh lembaga dan organisasi-organisasi negara Arab untuk meninjau ulang kebijakan politiknya dan orientasi-orientasinya, serta kembali kepada pilihan lain yang mewakili bidang persenjataan dan kekuatannya, terutama “al-muqawamah” dengan seluruh orientasi dan bentuk-bentuknya.
Bahwa Ikhwanul Muslimin menyampaikan apresiasi dan rasa terimakasih kepada siapa saja yang ikut berkontribusi dalam rangka keberhasilan perundingan ini, khususnya para intelijen Negara Mesir, dan berharap agar kerja keras senantiasa bersambut menuju terwujudnya perdamaian dan persatuan bangsa Palestina antar berbagai faksi dan kekuatan Palestina. Sebagaimana juga Ikhwanul Muslimin memberikan apresiasi yang hangat kepada para pahlawan rakyat Palestina, kepada para tawanan yang tegar di penjara-penjara zionis, kepada para juru runding yang mulia; atas keberhasilannya dalam melakukan perundingan yang dapat kami katakan dan penuh dengan ketsiqahan dan penuh ketawadhuan ,bahwa ini semua akan menjadi materi penting dan akan dipelajari di berbagai universitas dan akademi sebagai puncak dari kekuatan perundingan. Dan inti dari ini semua adalah bahwa kebenaran, kegigihan, keikhlasan akan mampu dengan izin Allah dan pertologan rabbani mengalahkan seluruh kekuatan para perampas dan berbagai sarana pembisuan dan tajassus (spionase) berteknologi tinggi sekalipun, sehingga mampu merealisir firman Allah SWT pemilik kekuatan dan kekuasaan
فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لا يُبْصِرُونَ
“Dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat”. (Yasin:9)
Dan juga Ikhwanul Muslimin senantiasa berdoa dan berharap semoga Allah membuka dan membebaskan seluruh tawanan dari umat Islam dan membebaskan tempat Isranya Rasulullah saw dalam waktu dekat dan sesegera mungkin.. dan yang demikian bagi Allah bukanlah sesuatu yang mustahil.
Shalawat dan salam atas sayyidina Muhammad saw beserta keluarga dan para sahabat semuanya.
Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah.
Risalah dari Prof. DR. Muhammad Badi’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.