Ramadhan di Amerika III

Kota Seatel Yang Tenang

alhikmah.ac.id – Pagi itu udara di Seatel masih dingin. Inilah kota yang baru pertama kali aku singgahi di Amerika. Perasaan berdebar, seperti bermimpi, benarkah aku telah sampai di Amerika. Sepanjang perjalanan dari Air Port menuju penginapan, aku melihat pohonan yang berjejer rapi. Memandang suasana alam perasaan masih seperti dalam perjalanan dari Jakarta menuju Puncak. Tetapi dalam diriku berkata: ini Amerika. Benar aku kini di Amerika. Aku saksikan lalu lintas kendaraan berjalan rapi. Antara satu dengan lainnya tidak main serobot. Mereka saling menghormati. Bila ada orang mau nyeberang, mereka segera berhenti. Para pejalan kaki benar-benar dihormati. Mereka ibarat raja, di mana setiap pengendara harus siap berhenti kapan mereka mau nyeberang.

Aku terpukau memandang kenyataan ini. “ Ini kan ajaran Islam. Mengapa mereka yang mengamalkan, sementara kita sebagai seorang muslim tidak mengamalkannya?” Kataku dalam hati. “Ini baru sebagian pak Ustadz” kata Mas Irfan yang menjemputku pada saat itu. “Banyak contoh yang lebih menarik dari pada pemandangan ini” lanjutnya. “Coba dong ceritakan” kataku.

“ Pernah suatu saat seorang Direktur Utama Perusahaan Boeing di Seatel ini bermain mesum dengan sekretarisnya. Begitui ketahuan, langsung ia dipecat”. “Lho, kok dipecat? Bukankah pergaulan bebas di sini biasa? Tanyaku kaget. “Benar pergaulan bebas di sini biasa, tetapi konteksnya di sini bukan dari sisi perzinaannya, melainkan dari sisi kejujuran. Bahwa dengan tindak selingkuh tersebut ia telah mengkhianati keluarganya. Bila seseorang berani mengkhianati keluarganya, maka tidak mustahil suatu saat kelak akan mengkhianati perusahaannya”. “Benar-benar menarik sekali kenyataan ini”. Kataku. “Sebab orang selevel Direktur Utama di mana-mana bisa dikatakan anti kesalahan”. “Oh, di sini tidak begitu Pak Ustadz.

Di Amerika ini seseorang semakin tinggi jabatannya, semakin banyak pekerjaan”. “O, ya?” “Benar”. Kalau di restoran misalnya, banyak para menejer yang tidak segan membersihkan ruang makan, dapur bahkan kamar mandi. Pun juga seringkali mereka meluangkan waktu khusus untuk datang ke rumah salah seorang staffnya yang paling rendah sekalipun untuk membersihkan rumah mereka termasuk dapur dan kamar mandi mereka”.

“Subhanallaah. Mengapa ya, orang Islam tidak bisa seperti ini? Padahal semua hal tersebut adalah ajaran Islam”. Gumamku. Dari sini aku perlu merevisi makna taqwa yang selama ini aku pahami.

Tadinya seringkali pemahamanku tentang taqwa hanya terfokus pada ibadah ritual saja. Tetapi setelah melihat kenyataan ini, aku akan mengatakan bahwa taqwa itu adalah bersungguh-sungguh menjalankan ajaran Allah, baik dari sisi ritual maupun praktikal. Selama ini orang Islam lebih banyak mengambil ritualnya saja. Sementara praktikalnya diabaikan. Akibatnya banyak kenyataan sehari-hari yang mereka lakukan tanpa terasa telah keluar dari ajaran Islam. Sebaliknya orang-orang di Amerika mengambil praktikalnya saja, sementara ritualnya tidak mereka ambil. Akibatnya mereka maju secera keduniaan, tetapi secara ruhani mereka menderita. Rasulullah saw.

Sebenarnya sejak dini telah mengajarkan ritual Islam dan praktikal Islam sekaligus. Dalam banyak hadits Rasulullah saw selalu menyebutkan bahwa berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus, itu karena akhlaknya buruk kepada orang lain.

Dalam hadits yang lain Rasulullah saw. pernah berdialog dengan para sahabat mengenai orang yang bangkrut. Pada waktu itu para sahabat menjawab bahwa orang yang bangkrut adalah mereka yang tidak punya harta dan uang. Tetapi Rasulullah saw segera merevisi pemahaman itu dengan menjelaskan bahwa orang yang bangkrut adalah dia yang datang pada hari Kiamat dengan pahala shalat, zakat, puasa dan hajinya, tetapi karena selama di dunia ia suka menyakiti hati, mendzalimi dan mengambil hak orang lain, akibatnya semua pahala ibadah ritual yang ia lakukan diberikan kepada orang-orang yang sakit itu. Dan bila ternyata semua pahala itu tidak mencukupi, maka Allah mengambil keburukan orang-orang tersebut lalu ditimpakan kepadanya.

Perhatikan, betapa sebenarnya Islam adalah agama ritual dan praktikal sekaligus. Maka mengambil ritualnya saja tanpa praktikal, tidak akan mencapai taqwa. Sebaliknya mengambil praktikal saja tanpa ritual juga tidak akan mencapai taqwa. Hanya dengan membangun keduantya: ritual dan praktikal seseorang akan benar-benar mencapai taqwa sejati. Wallahu A’lam bish Shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.