Ramadhan di Amerika IV

Sang Ustadz

alhikmah.ac.id – Ada dua Ustadz yang sempat aku temui dalam perjalanan Ramadhan ke Amerika kali ini. Pertama Ustadz Joban di Seatel, kedua Ustadz Syamsi Ali di New York. Keduanya adalah anak bangsa Indonesia yang telah memberikan bimbingan terbaik terhadap umat Islam di Amerika. Keduanya sangat popular. Hampir di setiap kota yang aku kunjungi, kedua ustadz tersebut selalu disebut-sebut. Nama keduanya sangat harum, tidak saja karena telah memberikan ilmu dan tuntunan ruhaninya secara maksimal, tetapi lebih dari itu keduanya telah menjadi juru bicara Umat Islam di Amerika.

Sungguh mengesankan ketika aku bertemu dengan Ustadz Joban di Bellevue tidak jauh dari kota Seatel. Ia sangat sederhana, tetapi sangat berwibawa. Pesan-pesannya menyentuh hati para pendengarnya. Apa yang disampaikan pada saat itu tidak jauh sekitar tazkiyatunnafs (permbersihan jiwa).

Seperti keharusan meresa malu di depan Allah swt jika kita berbuat dosa. Dan memang benar apa yang ia sampaikan. Sebab umat Islam Amerika hidup dalam lingkungan di mana masyarakat seputarnya hampir-hampir tidak mempunyai rasa malu. Pergaulan bebas tanpa batas adalah pemandangan sehari-hari. Padahal diantara hal yang membedakan antara manusia dan binatang adalah karena manusia Allah swt bekali rasa malu. Bahkan Rasulullah saw. pernah menegaskan: “Al hayaa’u minal iimaan (bahwa rasa malu itu bagian dari iman)”. Dari hadits ini terlihat betapa rasa malu adalah benteng utama untuk mempertahankan iman. Bila rasa malu itu habis, maka dengan mudah syetan menggerogoti iman seseorang. Karena itu perjuangan syetan sebelum menyerang ke titik iman, ia serang terlebih dahulu rasa malunya. Bila rasa malu itu sudah habis, baru setelah itu ia serang imannya.

Umat Islam di mana-mana –tidak hanya di Amerika- sangat membutuhkan bekal bagaimana menumbuhkan rasa malu. Kemaksiatan meraja lela di mana-mana adalah karena hilangnya rasa malu. Banyak pejabat yang tidak segan melakukan korupsi adalah karena tidak mempunyai rasa malu. Coba seandainya ia mempunyai rasa malu kepada Allah swt, pasti ia tidak akan melakukan tindakan tersebut. Pun juga tidak sedikit dari orang-orang yang mengaku muslim, sementara perzinaan baginya adalah kebanggaan sehari-hari, wal iyadzubillah. Coba seandainya mereka mempunyai rasa malu, pasti tidak mungkin mengerjakan kemaksiatan sejauh itu.

Ustadz Joban, selain sering mengisi pengajian di kalangan umat Islam Amerika di berbagi kota, ia juga guru ruhani bagi nara pidana di sebagian tempat di Amerika. Banyak dari mereka yang tersentuh lalu masuk Islam. Tidak jauh dengan Ustadz Joban, Ustadz Syamsi Ali juga sering meng-Islamkan banyak orang. Menurut ceritanya hampir setiap hari di New York satu atau dua orang masuk Islam melalui dakwah yang ia sampaikan. Dan memang aku lihat Ustadz Syamsi sangat sibuk. Pengajian yang ia isi, tidak hanya kalangan umat Islam Indonesia di New York, tetapi lebih dari itu kalangan umat Islam lainnya secara umum. Di New York telah berdiri satu-satunya Islamic Center yang dikelola umat Islam Indonesia (Indonesian Muslim Community), yang terpusat di masjid Al Hikmah. Ustadz Syamsi adalah salah seorang Pembimbing Islamic Center tersebut.

Sudah cukup lama aku mengenal Ustadz Syamsi, ia memang diberi kemampuan oleh Allah swt dengan suaranya yang menyentuh hati ketika membacakan Al Qur’an. Kini setelah aku menemuinya di New York, ia bukan hanya Syamsi yang dulu pernah menjadi pelatih silat, tetapi ia adalah seorang syaikh, tempat rujukan umat Islam di Amerika. Bahasa Inggrisnya sangat fasih. Malam itu ia menyampaikan ceramahnya di Islamic Cultural Center New York. Aku sempat hadir acara tersebut, sebab ia minta aku menyampaikan ceramah setelah ia berbicara. Ustadz Syamsi pada saat itu menyampaikan rahasia Al Qur’an dan kaitannya dengan lailatul qadar. Sementara aku menyampaikan tema tentang “langkah-langkah menuju kebahagiaan sebagaimana dalam pembukaan surat Al Mu’minun. Sampai tengah malam acara itu berlangsung penuh haru. Para hadirin tetap bertahan duduk sambil menunggu hadirnya lailatul qadar. Memang malam itu pas malam tanggal dua puluh tujuh Ramadhan. Mereka hadir memang untuk tidak tidur semalam suntuk. Dan menariknya bahwa masjid yang sangat megah itu, ternyata benar-benar penuh. Menyaksikan suasana tersebut, mengingatkanku pada suasana malam-malam sepuluh terakhir di masjidil Haram. Penuh kelezatan ruhani. Tiada terhingga.

Aku berpasan, ayo kita pertahankan suasana seperti ini sepajang hidup kita, jangan hanya di bulan Ramadhan saja. Tidak ada ayat atau hadits yang menerangkan bahwa Ramadhan hanya untuk Ramadhan. Karenanya –pesanku lebih lanjut- para ulama berkata: ”Kun abdan rabbaniyan walaa takun ramadhaniyan (jadilah hamba Allah yang rabbani dimana saja dan kapan saja, jangan hanya menjadi hamba Allah di bulan Ramdhan saja)”. Wallahu a’lam bishshawab. New York.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.