Rapuhnya Materialisme

alhikmah.ac.id – Kemarin sore aku sedang menyampaikan kuliah tafsir di Sekolah Tinggi Al-Hikmah Banka, Jakarta. Judulnya Surah Al-Fiil (Gajah). Surah ini secara khusus menceritakan pasukan gajah di bawah pimpinan Abrahah yang berangkat menuju lembah kota Mekah untuk menghancurkan Ka’bah. Sebelum masuk kepada penjelasan tafsirnya aku –sebagaimana biasa- menjelaskan korelasi antara surah Al-Fiil dengan surah sebelumnya: Al-Humazah.

Subhanallah, sungguh luar biasa aku mendapatkan makna yang sangat penting untuk kita renungkan dari rahasia urutan kedua surah tersebut. Dalam surah sebelumnya Allah swt. menggambarkan manusia-manusia humazah dan lumazah (pencela dan pengumpat). Di situ dijelaskan bahwa mereka adalah manusia yang mengagung-agungkan harta. Menganggap harta adalah segalanya. Meyakini bahwa dengan hartanya akan hidup kekal tanpa batas. Lalu seketika dalam surah Al Fiil Allah mencontohkan seorang manusia yang dihancurkan justru di saat-saat ia diselimuti tumpukan harta. Dimusnahkan justru di saat pasukannya berkumpul untuk membelanya. Dicelakakan justru oleh segerombolan burun-burung kecil yang tidak berdaya.

Para ulama tafsir menyebutkan bahwa jumlah gajah yang digiring Abrahah lebih dari seribu. Tujuan pokoknya adalah untuk menaklukkan kota Mekah tanpa perlawanan, sehingga ia dengan mudah bisa menghancurkan Ka’bah. Sebagai manusia materialistik Abrahah tidak pernah membayangkan bahwa di atas segalanya ada kekuatan immateri (ghaib). Demikianlah Abrahah dan pasukannya melenggang dengan penuh keyakinan bahwa ia pasti bisa menghancurkan Ka’bah. Di tengah jalan menuju Mekah, mereka merampas unta-unta penduduk yang sedang di gembala. Di antaranya seratus unta milik Abdul Muthalib (kakek Rasulullah saw). Karena itu Abdul Muthalib segera menemui Abrahah untuk menuntut untanya. Di sini terjadi dialog antara Abrahah dengan Abdul Mutahlib:

Abdul Muthalib berkata: ”Wahai Abrahah, kembalikan unta-untaku.”

Abrahah: ”Hanya urusan unta kau datang menghadapku. (Tadinya Abrahah mengira Abdul Muthalib datang untuk menyerahkan kota Mekah. Sebab dari raut mukanya yang penuh wibawa Abdul Muthalib terbaca di benak Abrahah sebagai pemuka Quraisy).”

Abdul Muthalib: ”Aku adalah pemilik unta, maka tugasku adalah menuntut unta-untaku dikembalikan. Adapun Ka’bah yang akan kau hancurkan itu, ia ada pemiliknya. Silahkan kau berhadapan langsung dengan Sang Pemiliknya.”

Mendengar itu Abrahah semakin yakin, bahwa keinginannya untuk menghancurkan Ka’bah akan segera tercapai. Lalu Abrahah minta agar tidak ada satupun dari penduduk Mekah yang menghalangi. Seketika Abdul Muthalib mengumumkan hal tersebut, dan mereka patuh, lalu semuanya menyingkir ke balik pegunungan sambil melihat apa yang akan terjadi. Dalam diri mereka tersimpan keyakinan bahwa Ka’bah ada yang punya. Karenanya mereka menunggu apa yang akan dibalaskan oleh Sang Pemilik Ka’bah.

Tak lama setelah itu, tiba-tiba datang barisan berwarna hitam dari arah Yaman. Secara perlahan barisan tersebut semakin banyak dan menutup langit. Abrahan dan pasukannya menyangka bahwa itu gumpalan awan pertanda akan turun hujan. Namun ternyata setelah kian mendekat, nampaklah bahwa itu barisan burung Ababil yang sangat rapi, mirip dengan barisan shaf shalat umat Islam di Masjidil haram. Masing-masing burung tersebut membawa tiga kerikil: satu di paruhnya dan dua di kakinya. Semua kerikil yang dilemparkan mengena langsung kepada sasaran. Dan begitu mereka terkena, seketika tubuh mereka menjadi rapuh, organ-organ dan persendian segera berjatuhan satu persatu. Lalu menumpuk seperti dedaunan yang di makan ulat. Allah menggambarkan kejadian ini dengan sangat jelas dalam surah Al-Fiil. Mari kita simak secara seksama kandungan surah ini:

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?

Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia?,

Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,

lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”

 

Perhatikan, apa lagi yang akan manusia banggakan dengan hartanya. Masihkan akan terlena dengan benda-benda yang tidak berdaya?.

Masihkah akan menjadikan dirinya sebagai hamba materi?.

Masihkan akan mewakafkan seluruh hidupnya untuk kesibukan mengurus benda-benda?.

Masihkah akan menganggap Allah sebagai sampingan?.

Masihkah akan melihat bahwa Allah bukan tujuan?.

Masihkan akan merendahkan Allah dan meninggikan dunia?.

Masihkah akan mengutamakan kebutukan fisiknya di atas kebutuhan ruhaninya?.

Sungguh bila sejenak manusia mau menggunakan akal sehatnya, ia akan segera tahu bahwa dirinya berada dalam posisi yang sangat rentan. Terjepit sedikit saja syaraf matanya, ia langsung tiba-tiba buta. Terjepit sedikit saja urat syaraf punggungnya ia tiba-tiba tidak bisa duduk dan tidak berbaring. Dicabut saja kepercayaan istrinya, ia segera kalang kabut dan bingung. Apalagi yang dicabut kepercayaan banyak orang, mau ke mana ia harus mempertahankan kedudukannya. Sungguh segala yang dimiliki sebenarnya hanyalah kesemuan. Tidak ada yang abadi. Pun tidak ada yang bisa membela dirinya. Benar, Allah menjelaskan bahwa dunia hanyalah tipu daya. Wallahu a’lam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.