Sang Pemimpin Belanja Sayur

alhikmah.ac.id – Nah, tulisan ini merupakan tulisan yang terdapat dalam buku Bukan Di Negeri Dongeng yang berisi tentang profil orang-orang yang seolah-olah mustahil dijumpai pada zaman seperti ini. Di deretan profil orang-orang itu terdapat sosok yang sangat kita kenal sebagai Cagub Jawa Barat, yaitu Ustadz H. Ahmad Heryawan, Lc. Kesederhanaan, kesantunan, keharmonisan keluarganya, dan kesholehannya layak menjadi inspirasi bagi kita untuk meneladaninya. Yakinlah, jika negeri ini dipimpin oleh orang-orang seperti ini,insya Alloh negeri ini akan bangkit martabatnya..

Pagi-pagi ba’da shubuh dan bebenah, seperti biasa acara rutin sebagian ibu-ibu adalah belanja. Demikian pula aku. Udara masih dingin kala itu. Kuturuni tangga kontrakanku. Kujumpai sebagian ibu-ibu berjalan menuju titik yang sama, tempat belanja! Tanah kapling di bawah kontrakanku masih banyak yang belum dibangun. Aku berjalan tepat di samping rumah ustadz Hidayat Nurwahid, Presiden Partai Keadilan. Di Belakang rumah beliau, rumput masih banyak tumbuh dan tanah sedikit berair menyisakan tanda-tanda rawa yang masih belum sepenuhnya teruruk. Aku terus berjalan. Naik beberapa tangga, melalui pintu gerbang SDIT Iqro’ Pondok Gede yang sudah terkuak. Rumah ustadz Rahmad Abdullah yang asri dan sederhana kulewati. Rumah yang tiap dua hari sepekan kusambangi sebab disitulah aku belajar tahsin pada istri beliau.
Aku terus berjalan melalui beberapa rumah para aktivis da’wah hingga akhirnya sampailah ke tempat belanjaan.Belum selesai aku memilih-milih, tiba-tiba muncul laki-laki yang di lingkungan kami sangat dikenal dan tidak asing. Beliau bersama putranya. Kemunculannya tentu sangat tidak diduga. Kami para ibupun mempersilakan beliau untuk mendapat pelayanan terlebih dahulu. Beliaulah satu-satunya laki-laki saat itu. Aku memperhatikannya. Subhanallah, tak ada kecanggungan.
Sesampai di rumah kuceritakan apa yang kulihat pada suamiku, dengan penuh kekaguman.
“Ya, begitulah yang terjadi dalam keluarga beliau. Saling taawun antara suami istri tanpa harus dibatasi oleh pemisahan pekerjaan yang kaku, “komentar suamiku yang berinteraksi cukup intensif.
Esoknya aku menjalani rutinitas yang sama, belanja. Di jalan aku berpapasan dengan laki-laki itu kembali, bersama putranya.
“Belanja ustadz?” Aku sengaja menyapa.
“Iya, istri lagi sakit perut dan khodimah (Pembantu) pulang, Jawab beliau sambil tersenyum.
Aku mengangguk-angguk. Subhanallah, aku jadi teringat Ammar bin Yasir ketika menjabat sebagai gubernur. Beliau kadang belanja di pasar dan mengikat serta memanggul sayuran sendirian. Inilah profil yang perlu di jadikan teladan.
Laki-laki yang saya jumpai itu yang belanja di tukang sayur itu adalah ustadz Ahmad Heriawan, Lc. Beliau adalah ketua Partai Keadilan DKI Jakarta dan anggota DPRD DKI Jakarta. Saya tidak akan terheran-heran jika beliau belanja bersama istri dan anak-anaknya di Supermarket, yang bagi keluarga muda atau keluarga jaman sekarang hal yang biasa dan sangat tidak tabu. Tetapi ini harus berbelanja dan ikut antri dengan para ibu rumah tangga, walau pada akhirnya beliau dipersilahkan untuk dilayani lebih dahulu.
Lagi-lagi dengan takjub saya menceritakan apa yang saya lihat kepada suami saya. Sebagai orang yang intensif bertemu dengan beliau bahkan banyak menimba ilmu kepada beliau, suami saya berkata,
“Ustadz Heriawan memang subhanalloh Dik. Sebagai muridnya, saya merasakan kedekatan. Ketika sholat jama’ah di masjid misalnya, beliau kadang-kadang secara tiba-tiba merangkul saya dari belakang. Saya juga beruntung mempunyai jadwal ronda dengan beliau.”
Ya, suami saya memang beruntung, beliau mendapat jadwal ronda bersama ustadz Ahmad Heriawan dan Ustadz Satori Ismail, sehingga pembicaraan kala ronda adalah pembicaraan-pembicaraan yang bermutu.
Ah… saya jadi menghayal, seandainya negeri ini dipimpin oleh orang-orang yang berakhlaq mulia, yang mempunyai keharmonisan keluarga, yang dekat dengan anak istrinya, yang mempunyai hubungan baik dengan para tetangga, yang memuliakan wanita dan kaum papa, betapa indahnya dunia. Saya jadi teringat cerita sederhana dari istri beliau.
“Ayahnya Khobab (ustadz Ahmad Heriawan) sangat suka sayur lodeh nangka. Suatu saat beliau meminta saya untuk memasaknya. Begitu tahu bahwa ternyata membuat sayur lodeh nangka itu membutuhkan proses yang begitu lama, beliau pun berkata, “Sudah Bu, Sekali ini saja. Kalau tahu bahwa prosesnya begini lama, ayah tak akan meminta dibikinkan. Dari pada waktu demikian panjang hanya habis untuk bikin sayur, mending buat baca atau untuk mengerjakan yang lain.”
Nampaknya sangat sederhana, namun saya melihat ada satu hal yang luar biasa, tersirat dalam ungkapan itu, pemberian peluang yang luas bagi berkembangnya istri.
Saya memang harus banyak belajar dari keluarga pimpinan saya yang sempat menjadi tetangga saya itu. Yang jika orang-orang terkenal memberikan tariff dalam ceramah-ceramahnya, beliau malah pernah menolak ceramah dengan bayaran cukup lumayan karena harus terikat dengan pola yang diterapkan penyelenggara. Maka jangan heran, jika kita mengundang beliau dan memberikan “amplop” dengan mengatakan uang transport, maka seluruh uang yang ada di dalam amplop itu akan beliau gunakan untuk membayar jasa transportasi, dan tak menyisakan untuk kantong beliau sendiri.
Ah, itukah sibghoh Allah? Sebuah generasi yang dijanjikan oleh Allah dalam surat Al-Maidah : 54 itu semoga kian dekat di sekitar kita, dan semoga memang sudah ada di sekitar kita. (Dari: “Sang Pemimpin Belanja Sayur”, Bukan di Negeri Dongeng, Helvy Tiana Rosa).
“Bangkitlah negeriku, harapan itu masih ada, berjuanglah bangsaku, jalan itu masih terbentang”..Itulah lirik lagu Shoutul Harokah berjudul “Bangkitlah Negeriku” yang terbayang di pikiran saya ketika para pemimpin bangsa ini memiliki keteladanan dengan akhlaq yang mulia seperti beliau. Saya insya Alloh yakin, akhlaq yang telah menjadi kepribadian seperti itu tak akan berubah walaupun beliau suatu saat resmi memimpin Jawa Barat. Wahai para pemuda, bersatulah, mari kita dukung kebaikan sejahterakan negeri dengan karya dan potensi kalian. Kalianlah pewaris negeri ini, milikilah akhlaq yang mulia. Wahai para pemimpin negeri ini, marilah kita bersatu, mari kita bangun bersama negeri ini dengan kemulian akhlaq-mu sehingga mampu menjadi teladan bagi kami. Janganlah kekuasaan dan uang merusak pengabdian kalian. Selama matahari bersinar, selama kita terus berjuang, selama kita terus berpadu, maka insya Alloh bangsa kita akan dimuliakan dan bahkan kita bisa memimpin dunia mengukir peradaban Islam yang pasti akan memuliakan seluruh manusia dimuka bumi ini, baik itu muslim maupun non-muslim. Oleh karena itu kita tidak boleh lemah dan bersatu padu dalam barisan kaum pembaharu dengan cinta dan sejuta asa membangun Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.