Tak Penting Akhlak Memimpin Negri Ini, kata Ahok

alhikmah.ac.id – Kepemimpinan Jokowi dan Ahok di ibu kota Negara Indonesia telah menjadi banyak perhatian publik. Dari kelas atas sampai dengan kelas bawah. Besarnya penantian atas gaya kepemimpinan mereka yang sangat merakyat telah membuat perubahan yang signifikan terhadap gaya kepemimpinan di negeri ini.

Tulisan ini sederhana saja, bukan untuk mengkritik tapi untuk meluruskan saja terkait berita yang ada. Sumbernya ada di sini http://news.detik.com/read/2013/02/19/171037/2174270/10/di-depan-para-dokter-ahok-luapkan-kekesalan-soal-pejabat-munafik?991101mainnews . Banyak hal menarik dalam berita ini terutama dalam hal kemunafikan para pemimpin negeri ini dan tak pentingnya akhlak dalam memimpin.

Perlu saya jelaskan, saya tidak tau Bapak Ahok beragama apa. Dan saya mencoba menjelaskan ini dari sisi keislaman dalam hal kepemimpinan dan pentingnya akhlak dalam memimpin. Saya menjawab ini dalam hal keislaman karena ini yang saya fahami. Dan saya juga tak paham apakah di agama Bapak Ahok di ajarkan tentang akhlak dan hubungannya dengan kepemimpinan.

Di dalam islam, Rasulullah saw di utus adalah untuk menyempurnakan akhlak. Sesuai dengan sabda nabi yang masyur “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”. Setelah aqidah, akhlak memiliki posisi yang strategis bagi seorang muslim. Akhlak adalah pedoman bagi seorang muslim dalam menjalani kesehariannya. Apakah itu dalam hal politik, jual beli, bekerja, ataupun hal lainnya. Akhlak adalah modal utama. Itupulalah yang di contohkan Rasulullah saw sehingga orang-orangpun tak segan memberikan gelar Al Amin kepada beliau saw di usia yang masih sangat muda.

Saya memandang, Bapak Ahok mungkin melihat banyak yang beragama tapi justru tak berakhlak. Mungkin hal ini perlu di luruskan, yang salah pribadi perseorangan atau akhlaknya? Saya tidak tau apakah agama Bapak Ahok mengajarkan akhlak apa tidak, tapi saya yakin semua agama mengajarkan ummatnya bagaimana cara untuk berakhlak. Sehingga rasanya kemudian akhlak menjadi tak begitu penting dan yang penting itu bisa memimpin atau tidak. Padahal yang saya pelajari dan mungkin anak-anak kita di sekolah diajarkan bahwa kepemimpinan itu tak akan lepas dari akhlak yang baik.

Kemudian pembahasan sederhana kita masuk pada ranah hubungan antara kepemimpinan dan akhlak. Saya tidak yakin Bapak Ahok tidak paham dengan apa yang di ucapkannya. Bapak Ahok yang telah memiliki usia yang panjang dalam dunia politik.

Dalam hal kepemimpinan sangat dan sangatlah dibutuhkan yang namanya ketegasan bukan ke aroganan. Ini butuh untuk ditegaskan, arogan dan tegas itu adalah dua hal yang berbeda. Arogan memiliki defenisi sombong; congkak; dan angkuh dan saya rasa tak ada hubungannya bahwa memimpin negeri ini harus di ajak berantem. Sedangkan tegas memiliki defenisi jelas; dan terang benar. Dan rasanya ini yang lebih dibutuhkan dalam memimpin negeri ini. Apakah kemudian dengan tegas tidak bisa ngajak berantem? Saya katakan bahwa justru ketegasanpun bisa di ajak berantem.

Pentingnya akhlak dalam memimpin, karena keberakhlakan itu akan menjadi teladan bagaimana seharusnya bersikap. Hal yang kecil memang, tapi kemudian harus disadari ketika telah ditunjuk untuk memimpin negeri ini maka bersiaplah juga untuk menjadi seorang teladan dalam bersikap. Yang melihat kita bukanlah hanya orang dewasa tapi dengan luar biasa dunia teknologi saat ini, anak-anakpun tak luput dari memandang diri yang dipersepsikan sebagai seorang teladan dalam memimpin negeri ini.

Pentingnya akhlak dalam kepemimpinan harus disadari bahwa, dalam memimpin kita sedang berusaha membuat sistem yang baik bukan kemudian menambah musuh politik dengan kearoganan yang yang ada. Berakhlak yang baik dalam memimpin saja, tak akan meluputkan diri musuh apalagi dengan cara yang arogan. Mungkin Bapak Ahok siap menghadapi musuh-musuh yang tak menyukai dirinya dalam hal kearoganan, tapi kemudian keberhasilan dalam kearoganan adalah sebuah sikap egois dan bukanlah suatu sikap yang majemuk.

“Kerusakan akhlak jelas bukan soal politik, negara ini rusak karena mencampurkan agama dan politik. Kita bisa berdebat di luar itu, banyak orang munafik, ada nggak pejabat yang berani melaporkan harta kekayaannya dan pajak yang dibayarkannya, tidak ada yang berani Pak, munafik!”

Salah satu pernyataan Bapak Ahok terlontar di atas. Kembali saya menegaskan, saya tidak tau Bapak Ahok beragama apa, tapi kemudian yang saya pahami dalam ajaran agama saya bahwa agama itu menyeluruh. Mencakup semua bidang termasuk urusan politik. Jadi kemudian tidak ada istilah bagi kami mencampur adukkan antara agama dan politik tapi justru politik adalah bagian dari agama. Dari sini saya mencoba berhusnudzon atau berprasangka baik bahwa Bapak Ahok mungkin tak paham akan hal ini dan yang Bapak Ahok pahami di dalam agamanya sesuai dengan apa yang disampaikannya. Di dalam agama Bapak Ahok tidaklah boleh mencampurkan antara urusan agama dan urusan politik. Dan saya tidak akan membahas ini karena tentu saya berbeda agama dengan Bapak Ahok sehingga saya tidak paham yang dimaksudkan Bapak Ahok dalam hal ini.

Mencampur adukkan politik dan agama akan menghasilkan kemunafikan, ini untuk siapa? Ini yang kemudian menjadi pertanyaan saya? Apakah ini untuk orang yang seagama dengan Bapak Ahok atau untuk siapa? Dalam ajaran agama saya yang telah saya jelaskan di atas bahwa politik merupakan bagian dari agama kami. Sehingga menjalaninya tidaklah menjadi sebuah kemunafikan.

Jikalaulah konteksnya banyak yang beribadah tapi korupsi juga, tentunya hal ini menjadi hal yang berbeda. Di dalam agama kami ada hal-hal yang menjadi suatu kewajiban terhadap Tuhan, ada shalat, membayar zakat, berpuasa ramadhan, menutup aurat dan kewajiban lainnya. Tapi kok akhlaknya tidak berubah juga? Harus di telaah lebih jauh dalam hal ini. Yang salah kewajiban-kewajiban yang dilaksanakan sebagai representasi melaksanakan perintah Tuhan atau justru orang yang melaksanakan kewajiban tersebut yang salah karena pelaksanaan kewajiban hanya sebatas kewajiban semata bukan wujud penghambaan seseorang pada Tuhannya.

Yang salah tentu bukannya kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan tersebut yang telah di buat oleh Tuhan sedemikian rupa sebagai representasi keimanan seorang hamba. Semua orang pasti yakin bahwa yang salah adalah orang atau pribadi masing-masing perseorangan yang melaksanakan kewajiban sebatas kewajiban semata sehingga hal tersebut tak terpresentasikan dalam kehidupan pribadinya. “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar (QS.AL-Ankabut:45 )”

Jadi, memisahkan politik dan agama bagi kami bukanlah sebuah jawaban karena politik adalah bagian dari agama. Ada baiknya cukupkan diri untuk melakukan pembahasan ini yang telah Bapak Ahok dengungkan semenjak sebelum memimpin Ibu Kota Negara. Mohon maaf yang sebesar-besarnya, tentulah ini akan masuk kedalam ranah isu sara yang tidak baik untuk pendidikan politik negri ini.

Ini hal sedehana yang ingin saya sampaikan. Semoga tidak menjadi bahan perdebatan tapi justru menjadi buah pemikiran untuk kemajuan bangsa ini. Ingatlah bahwa ketika seseorang menjadi pemimpin maka ia telah menjadi idola bagi masyarakatnya. Dan masyarakat akan meniru setiap sikap dan tingkah prilaku para pemimpinnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.