Tauhid Ibadah

alhikmah.ac.id – Pengabdian diri manusia boleh berlaku kepada siapa saja berasaskan kefahaman dan keyakinan seseorang. Bagi muslim, pengabdian tidak sekali-kali boleh berlaku melainkan hanya kepada Allah penuh ikhlas. Keikhlasan dalam beribadah ini dapat dicapai menerusi dua perkara yang saling berkait antara satu sama lain. Pertama dengan mengkufuri segala thagut, menjauhkan diri dari thagut dan tidak pula berlaku syirik kepada Allah. Dalam masa yang sama mestilah tertahqiq juga keimanan kepada Allah langsung mengabdikan diri hanya kepada Allah semata-mata. Apabila tauhidullah tercapai dengan sempurna maka disitulah tercapainya tauhidul ibadah karena asas tauhidul ibadah adalah tauhidullah yang mantap.

Tauhidullah – Ikhlas.

Mentauhidkan Allah secara ikhlas dalam segala pengertian rububiyah, mulkiyah dan uluhiyahnya menjadi kan kita seorang yang betul-betul beriman kepada Allah secara sahih.

Dalil:

·           Q.112: 1-3, Katakanlah Muhammad, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat pergantungan. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

·           Q.38: 83, Kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas diantara mereka.

1.         Mengingkari Thagut.

Unsur pertama di dalam mentauhidkan Allah secara ikhlas adalah unsur penolakan yaitu tercetus dalam hati rasa keingkaran terhadap thagut. Hati tidak dapat menerima kehadiran thagut lantaran iman kepada Allah.

Dalil:

·           Q.2: 256, Sesiapa yang mengkufuri thagut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya dia telah berpegang dengan tali yang teguh.

·           Q.4: 60, Mereka hendak meminta hukum kepada thagut sedang mereka disuruh kufur terhadap thagut. Syaitan menghendaki supaya dia dapat menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh.

1.1.      Menjauhi Thagut.

Bukan sekedar perasaan dalaman saja mengingkari thagut bahkan secara lahiriahnya juga berusaha sedaya mungkin menepati tuntutan tersebut dalam apa juga hal.

Dalil:

·           Q.16: 36, Hendaklah kamu sembah Allah dan jauhilah thagut.

·           Q.39: 16-18, Orang-orang yang menjauhi dari menyembah thagut dan kembali kepada Allah untuk mereka itu kabar gembira. Maka berilah kabar gembira kepada hamba-hambaKu.

1.2.      Tidak Adanya Syirik.

Apabila kita telah melengkapi ciri-ciri ini, dimana hati kita menolak thagut dan amal perbuatan kita juga tidak selari dengan jalan thagut bahkan menyisih diri darinya maka pergantungan kita hanyalah semata-mata kepada Allah azzawajalla. Kita tidak lagi mensyirik kan Allah dengan sesuatu yang lain.

Dalil:

·           Q.39: 3, Ingatlah, (Hak yang wajib dipersembahkan) kepada Allah ialah segala ibadat dan bawaan yang suci bersih (dari segala rupa syirik). Dan orang-orang musyrik yang mengambil selain dari Allah untuk menjadi pelindung dan penolong (sambil berkata): “Kami tidak menyembah atau memujanya melainkan supaya mereka mendampingkan kami kepada Allah sehampir-hampirnya”, sesungguhnya Allah akan menghukum di antara mereka (dengan orang orang yang tidak melakukan syirik) tentang apa yang mereka berselisihan padanya. Sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada orang-orang yang tetap berdusta (mengatakan yang bukan-bukan), lagi senantiasa kufur (dengan melakukan syirik).

·           Q.39: 11, Katakanlah lagi (wahai Muhammad): “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan segala ibadat kepadaNya”.

·           Q.39: 14, Katakanlah lagi: “Allah jualah yang aku sembah dengan mengikhlaskan amalan agamaku kepadaNya”.

2.         Iman Terhadap Allah.

Unsur kedua di dalam mentauhidkan Allah secara ikhlas adalah unsur penerimaan yaitu unsur menerima keimanan kepada Allah sepenuh hati. Keimanan yang jitu tidak akan menempati dihati jika unsur pembersihan dari karat-karat keyakinan kepada thagut tidak dibasmikan.

Dalil:

·           Q.2: 256, Tidak ada paksaan dalam agama (Islam), karena sesungguhnya telah nyata kebenaran (Islam) dari kesesatan (kufur). Oleh itu sesiapa yang tidak percayakan thagut, dan ia pula beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada simpulan (tali agama) yang teguh yang tidak akan putus. Dan (ingatlah), Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

2.1.      Mengabdikan Diri Hanya Kepada Allah.

Bukti kepada penerimaan hati terhadap keimanan kepada Allah tidak akan dapat dilihat kecuali dengan pengabdian diri yang sepenuhnya kepada Allah Swt. Tidak tunduk atau taat melainkan apa yang bersesuaian dengan tuntutan keimanan kepada Allah Swt.

Dalil:

·           Q.16: 36, Dan sesungguhnya Kami telah mengutus dalam kalangan tiap-tiap ummat seorang Rasul (dengan memerintahkannya menyeru mereka): “Hendaklah kamu menyembah Allah dan jauhilah Thagut”. Maka di antara mereka (yang menerima seruan Rasul itu), ada yang diberi hidayah petunjuk oleh Allah dan ada pula yang berhak ditimpa kesesatan. Oleh itu mengembaralah kamu di bumi, kemudian lihatlah bagaimana buruknya kesudahan ummat-ummat yang mendustakan Rasul-Rasulnya.

2.2.      Mengesakan Allah dalam Beribadah.

Dalam ibadah-ibadah yang dilakukan senantiasa mengesakan Allah. Tidak mencampur-aduk kan dengan perihal-perihal lain yang boleh membawa arti syirik, riya’ dan sebagainya seperti beribadah supaya dipuji orang dan seterusnya.

Dalil:

·           Q.98: 5, Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepadaNya, lagi tetap teguh diatas tauhid dan supaya mereka mendiri kan sembahyang serta memberi zakat. Dan yang demikian itulah agama yang benar.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.