Ushuluddin atau Uculuddin?

alhikmah.ac.id – Empat orang pria berambut gondrong dan bercelana jeans menongkrong di pojokan bawah tangga sebuah gedung berlantai tiga. Seorang di antaranya berambut kribo dan berkaos oblong hitam. Lengan pendek kiri bajunya digulung sedikit, seakan memamerkan otot lengannya.

Seorang lagi rambutnya dikuncir ke belakang. Kedua lengan panjang kemeja putihnya digulung melewati siku. Sedangkan dua orang lainnya, rambut lebatnya dibiarkan jatuh ke punggung. Tampak seuntai ‘gelang tasbih’ bercokol di lengan kiri pria yang berkemeja batik.

Keempat orang itu adalah para  mahasiswa yang kongko-kongko di atas kursi-kursi besi, mengeliling sebuah meja kayu. Di atas meja, tampak dua buah asbak yang dijejali puntung rokok, cemilan, dan gelas-gelas berisi kopi yang mulai surut. Sambil sebagian mengapit rokok dengan jari masing-masing, mereka mengobrol santai menikmati waktu Ashar yang azannya baru saja usai berkumandang dari masjid.

Begitulah suasana di salah satu sudut kampus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Jawa Timur (Jatim) pada Kamis (04/09/2014). Sore itu jam kuliah sudah kelar. Sebagian mahasiswa tampak mengisi waktu dengan berdiskusi di gazebo depan gedung. Sebagian lainnya -yang penampilannya nyentrik- kongko-kongko di berbagai tempat, termasuk di bawah tangga kampus.

Ketika para civitas akademika itu sedang asyik-asyiknya mengobrol, tahu-tahu datang seorang pria berpenampilan rapi. Ia adalah Dr Muhid, dekan fakultas tersebut. Melihat orang nomor satu di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UINSA itu, keempat mahasiswa tadi menyambut kedatangan dekan dengan gaya masing-masing. Ada yang tersenyum lepas. Ada pula dua orang di antara mereka yang mulai menyulut rokok.

Muhid dikonfirmasi wartawan terkait kasus tema “Tuhan Membusuk”  [Rekonstruksi Fundamentaslime Menuju Islam Kosmopolitan] pada sejumlah atribut kegiatan Orientasi Akademik dan Cinta Almamater (OSCAAR) 2014 (28-30/08) yang akhirnya menimbulkan polemik dan kegelisahan masyarakat.

“Tuhan Ditantang”

Kasus yang awalnya mencuat lewat media sosial ini menambah ‘catatan hitam’ UINSA di mata umat Islam. Berdasarkan penelusuran hidayatullah.com ke berbagai sumber, kasus serupa yang didasari pemikiran dan kelakuan liberalisme anggota akademika UINSA, termasuk Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, sudah pernah terjadi beberapa kali sebelumnya. Seperti tema Tuhanpun Kami Tantang” pada OSCAE 2010 dan penginjakan lafadz Allah oleh seorang dosen UINSA (Mei 2006).

Kasus tema “Tuhan Membusuk” kontan saja ramai-ramai dikecam oleh umat Islam, terkhusus di Jawa Timur. Begitu kasus itu bergulir, sekitar 25 ormas Islam berkumpul di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, Jl Dharma Husada Selatan No. 5, Surabaya, Kamis (04/09/2014) pagi-siang. Mereka -atas nama Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB)- sepakat membawa kasus itu ke kepolisian.

Dalam pertemuan yang dipimpin Sekretaris MUI Jatim Ustadz Muhammad Yunus itu, para perwakilan ormas Islam menyampaikan kegelisahaannya atas perkembangan mahasiswa UIN/IAIN khususnya Fakultas Ushuluddin dan Filsafat pada kasus tersebut. Menariknya, banyak peserta rapat yang mengusulkan agar fakultas ini dihapus saja dari UINSA dan UIN/IAIN secara umum.

Pertemuan Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) di kantor MUI Jatim bahas kasus ‘Tuhan Membusuk’ UINSA [Foto: Syakur]

Di antara alasan penghapusan itu disampaikan oleh Fathurrahman, Ketua Persyarikatan Dakwah al-Haramain Surabaya. Dia mengutip salah satu alasan Imam Suprayogo, mantan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, tidak membuka Fakultas Ushuluddin di UIN Malang saat masih rektor. Yaitu, menurut Imam Suprayogo yang dikutip Fathurrahman, karena mahasiswa fakultas tersebut bukan semakin dekat dengan agamanya, tapi semakin jauh. Penyampaian Fathurrahman langsung disambut celetukan sejumlah peserta rapat.

Uculuddin, bukan ushuluddin,” ujar mereka nyaris serempak.

Fathurrahman menimpali, “Jadi ucul, bukan Ushuluddin.”

Uculuddin maksudnya gabungan dari kata ucul (lepas, Jawa), ad-din (agama, Arab) yang maksudnya plesetan dari ‘lepas dari agama’.

Belakangan pelesetan ini rupanya mulai populer. Sejumlah aktivis dan tokoh Muslim yang ditemui media ini sempat melontarkan pelesetan serupa. Termasuk dilontarkan oleh Ustadz Muhammad Yunus dalam sebuah wawancara. Yunus mengatakan, mestinya UIN melahirkan tokoh, ulama, dan cendekiawan Muslim yang membela Islam. Bukan sebaliknya, melahirkan anak-anak yang memiliki pemikiran bebas (liberalisme).

“Tapi ini anak-anak yang kuliah di perguruan tinggi Islam, diajari tentang ‘ushuluddin’, pokok-pokok agama, tapi yang terjadi justru dia mendustakan agama. Menjadi ucul, ucul agama,” ujarnya  menyinggung UINSA, Jumat (05/09/2014).

Apa yang terjadi jika agama dilepaskan?

“Jangan sampai yang terjadi seperti ini, ucul,” ujar Yunus.

Belum Matang

Plesetan ushuluddin menjadi uculuddin tampaknya agak berlebihan. Meski demikian, penampilan sebagian mahasiswa Ushuluddin dan Filsafat UINSA yang nyentrik dan pemikiran mereka yang dinilai banyak orang sesuatu yang nyeleneh tentu tak bisa dianggap sepele. Perihal pemikiran nyeleneh ini dikatakan oleh Angga Saputra Pratama, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UINSA.

“Tema, corak atau kultur mahasiswa Ushuluddin memang terkesan aneh, nyeleneh dan sudah menjadi pandangan umum. Namun, baru kali ini ada respon tersendiri, khususnya dari media sosial dan beberapa ormas yang mempermasalahkan tema tersebut,” ungkap Angga sambil sesekali mengisap rokoknya di kompleks UINSA.

Namun anggapan miring terhadap para mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UINSA dibantah oleh Muhid. Menurutnya, sikap dan pemikiran anak-anak didiknya itu merupakan bentuk kreatifitas dan pembelajaran dalam proses akademis.

“Masyarakat perlu tahu, mahasiswa itu butuh proses pematangan sehingga pada saatnya diperoleh sebuah kearifan dalam bersikap. Bagaimana pun juga kreatifitas mahasiswa harus disalurkan,” dalih Muhid membela institusinya.

Usai wawancara dengan Muhid, awak media ini langsung bergegas ke Masjid Raya Ulul Albab UINSA untuk shalat Ashar. Sementara Muhid, dari ruang baca masih menyamperi empat orang mahasiswanya yang sedang kongko-kongko di pojokan gedung.

Pria kalem itu pun berbincang dan menyampaikan sejumlah pesan kepada anak-anak didiknya. Entah tentang apa. Yang jelas, keempat mahasiswa itu tampak riang. Sebagian tersenyum lepas. Sebagian lagi mendengar petuah sang dekan sambil mengisap rokok dalam-dalam. Lalu menghembuskan kepulan asap beracun yang perlahan mengotori udara tepat di depan pak dekan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.